Galeri Foto Syuting Bidadari-Bidadari Surga [Part 1]

Antusias menunggu Pilem Bidadari-Bidadari Sirga membuat fizah gencar mencari info-info tentang pilem ini. Berikut Foto-Foto yang berkaitan dengan Pilem ini yang dikumpulkan dari berbagai sumber.. :)

Pemeran Kak Laisa dalam Pilem Bidadari Bidadri Surga. Salut dengan totalitas Nirina Zubir. Kak Laisa selalu jalan dengan bungkuk, jari tangan tidak bisa lurus, giginya hitam, matanya melotot dan suaranya cempreng.

 

 

Adegan kak Laisa mengusir Harimau untuk menyelamatkan kedua adiknya Wibisana dan Ikanuri..

 

Kak Laisa, setiap hari bangun dini hari, membuat gula aren, menganyam keranjang, masak, mencari kayu bakar, apa saja yang bisa dia kerjakan, demi adik2nya sekolah.

Kak Laisa hampir menikah. Sudah rela jadi isteri kedua, calon suaminya baik, istri pertama calon suaminya ridha dimadu. Tapi sungguh sayang, Tuhan punya rencana lain. Calon suaminya menerima telepon itu, kabar bahagia, sekaligus kabar buruk bagi Laisa. Ini adegan beberapa detik sebelum pernikahan yang batal. Lihat, Kak Laisa sudah berdandan cantik :)

 

 

 

Kak Laisa dan Yashinta 

Adegan ketika Mamak Lainuri (Henidar Amroe) dongeng tentang legenda harimau gunung kendeng menjelang shalat subuh. Didengarkan oleh Yash, Dali, Ikanuri & Wibisana. Masih di rumah lama mereka yang sederhana.

Adik2nya berangkat sekolah. Kak Laisa menemani Yash melihat berang2. Kak Laisa, berhenti sekolah di kelas 3, menemui Mamak, bilang dia berhenti, biar Mamak punya cukup uang untuk adik2nya sekolah, terutama agar Dalimunte yg paling pintar bisa sekolah. Akan seperti itulah Kak laisa berjalan, kakinya terbuka lebar, seperti robot. Bungkuk. Lengannya tertekuk. Beberapa jemarinya terlipat.

Dalimunte, Cie Hui, dan Kak Laisa. Adegan Dalimunte bersikukuh tdk mau melintas Kak Laisa, menikahi Cie Hui. Di rumah bagus mereka. Semua adik2nya tumbuh berubah, hanya Kak Laisa yg begitu2 saja secara fisik, wajah menua.

Kak Laisa sedang memeriksa kebun strawberry-nya. Dia sempat gagal, dan bukannya adik2nya terus sekolah, Dalimunte terpaksa berhenti setahun dari sekolahnya. Tapi kasih sayang tulus dari seorang kakak akan mengalahkan banyak rintangan.

Dalam versi novel, Dalimunte membangun kincir 5 tingkat agar bisa menarik air hingga ke atas cadas foto ini. Itu versi novel, dan setelah konsultasi ke ahli sipil, ternyata mustahil melakukannya (waktu menulis sy tdk berpikir sejauh itu). Maka, dalam versi film, kincir airnya tetap satu, tapi Dalimunte merubahnya menjadi tenaga listrik, kemudian listrik itu jadi sumber tenaga pompa2 air, mendorong air hingga ke cadas atas. Maka, kampung mereka yang sering kekeringan, jauh dari mata air, sekaligus memperoleh air dan listrik.

Ikanuri, Wibisana, Dalimunte, Yashinta, Kak Laisa. Film ini banyak sekali kaki-kakinya, ada soal sekolah, pengorbanan, konservasi alam, kasih sayang lingkungan, keluarga, anak2, perjodohan, dsbgnya, dsbgnya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s