AYAT-AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

Menurut etimologi (bahasa) muhkam artinya suatu ungkapan yang maksud makna lahirnya tidak mungkin diganti (mahkam al-murad bih ‘an al-tabdil wa al-taghyir). Adapun mutasyabih adalah ungkapan yang maksud makna lahirnya samar (ma khafiya bi nafs al-lafazh).

Sedangkan menurut pengertian terminologi (istilah), muhkam dan mutasyabih diungkapkan para ulama, seperti berikut ini.

Pendapat/ Kelompok

Ayat Muhkam

Ayat Mutasyabih

Ahlusunnah Adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak Adalah ayat yang maksudnya hanya diketahui Allah, seperti saat kedatangan hari kiamat, keluarnya Dajjal, dan huruf-huruf muqaththa’ah.
Al-Mawardi Adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal, seperti bilangan rakaat shalat, kekhususan bulan Ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib Sebaliknya
Ibnu Abbas Adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi arti lain Ayat-ayat yang mempunyai kemungkinan sisi arti banyak
Ibn Hatim dari Ali bin Abi Thalib dari Ibn Abbas Adalah ayat yang menghapuskan (nasikh) , berbicara tentang halal dan haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kefarduan, serta yang harus diimani dan diamalkan. Adalah ayat yang dihapus (mansukh), yang berbicara tentang perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sumpah (aqsam) dan yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.
Abdullah bin Hamid dari Adh-Dhahak bin Al Muzahim Adalah ayat-ayat yang tidak dihapus Adalah ayat yang dihapus.

Melihat perngetian-pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa inti muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi. Masuk ke dalam kategori muhkam adalah nash (kata yang menunjukkan sesuatu yang dimaksud dengan terang dan tegas, dan memang untuk makna itu ia disebutkan) dan zhahir (makna lahir). Adapun mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya belum jelas. Masuk ke dalam kategori mutasyabih ini adalah mujmal (global), mu’awwal (harus ditakwil), musykil, dan mubham (ambigius).

Sikap Para Ulama Terhadap Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih

Para ulama berbeda pendapat tentang arti dan kandungan ayat-ayat mutasyabih, apakah dapat diketahui oleh manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Pangkal perbedaan pendapat itu bermuara pada cara menjelaskan struktur kalimat ayat berikut.

Artinya:

“ … padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih,…”

(Q.S. Ali ‘Imran [3] : 7)

Apakah ungkapan wa al-rasikhuna fi al-‘ilm di-athaf-kan pada lafazh Allah, sementara lafazh yaquluna sebagai hal. Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih pun diketahui orang-orang yang mendalam ilmunya. Atau apakah ungkapan wa al-rasikhuna fi al-‘ilm sebagai mubtada’, sedangkan lafazh yaquluna sebagai khabar? Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih itu hanya diketahui Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya hanya mengimaninya.

Ada sedikit ulama yang berpihak pada penjelesan gramatikal pertama, diantaranya adalah Mujahid yang diperolehnya dari Ibn ‘Abbas. Ibn Al-Mundzir mengeluarkan sebuah riwayat dari Mujahid, dari Ibn ‘Abbas, mengenai surat Ali ‘Imran [3] ayat 7 itu. Ibn ‘Abbas lalu berkata, “aku di antara orang yang mengetahui takwilnya.” Imam An-Nawawi pun termasuk dalam kelompok ini. Di dalam Syarah Muslim, ia berkata, “pendapat inilah yang paling sahih karena tidak mungkin Allah mengkhitabi hamba-hambaNya dengan uraian yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. Ulama lain yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Ishaq Ash-Syirazi. Ash-Syirazi berkata, “Tidak ada satu ayat pun yang maksudnya hanya diketahui Allah. Para ulama sesungguhnya juga mengetahuinya. Jika tidak, apa bedanya mereka dengan orang awam?”

Sebagian besar sahabat, tabi’in dan genersi sesudahnya, terutama kalangan Ahlusunnah, berpihak pada penjelasan gramatikal yang kedua. Ini pula yang merupakan riwayat paling sahih dari Ibn ‘Abbas.

As-Sayuti mengatakan bahwa validitas pendapat kelompok kedua diperkuat riwayat-riwayat berikut ini:

Ibn Abu Dawud, dalam Al-Mashahif, mengeluarkan sebuah riwayat dari Al-A’masy. Ia menyebutkan bahwa di antata qira’ah Ibn Mas’ud disebutkan:

Artinya:

“sesungguhnya penakwilan ayat-ayat mutasyabih hanya milik Allah semata, sedangkan orang-orang yang mendalami ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih.”

Al-Bukhari Muslim dan yang lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Aisyah yang mengatakan bahwa rasululla SAW. Pernah bersabda ketika mengomentari surat Ali Imran [3] ayat 7 berikut.

Artinya:

“jika engkau menyaksikan orang-orag yang mengikui ayat-ayat mutasyabih untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, orang itulah yang dicela Allah, maka berhati-hatilah menghadapi mereka.”

Ibn Ali Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Aisyah bahwa yang dimaksud dengan kedalaman ilmu pada surat Ali ‘Imran [3] ayat 7 itu adalah mengimani ayat-ayat mutasyabih, bukan berusaha untuk mengetahuinya.

Ar-Raghif Al-Asfahani mengambil jalan tengah dalam menghadapi persoalan ini. Ia membagi ayat-ayat mutasyabih dari segi kemungkinan mengetahui maknanya pada tiga bagian;

  1. Bagian yang tidak ada jalan sama sekali untuk mengetahuinya, seperti saat terjadi hari kiamat, keluar binatang dari bumi, dan sejenisnya.
  2. Bagian yang menyebabkan manusia dapat menemukan jalan untuk mengetahuinya, seperti kata-kata asing di dalam Al-Qur’an.
  3. Bagian yang terletak diantara keduanya, yakni yang hanya dapat diketahui orang-orang yang mendalami ilmunya.

Inilah yang diisyaratkan sabda nabi kepada Ibn ‘Abbas;

Artinya:

“Ya Allah, berilah pemahaman kepadanya dalam bidang agama dan ajarkanlah takwil kepadanya.”

Diantara ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah. Dan Ibn Al-Labban telah menulisnya secara khusus dalam kitab Radd Al-Ayat Al-Mutasyabihhat. Contoh:

Artinya:

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam diatas ‘Arsy.”

(Q.S. Thaha [20]:5)

Artinya:

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah.”

(Q.S. Al-Qashhash [28]:88)

Artinya:

“Tangan Allah di atas tangan mereka.”

(Q.S. Al-Fath [48]:27)

Artinya:

“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah.”

(Q.S. Az-Zumar [39];56)

Kelompok Para Ulama Tentang Ayat-ayat Mutasyabih

Sikap para ulama terhadap ayat-ayat mutasyabih terbagi dalam dua kelompok, yaitu:

  1. Madzhab salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah).
  2. Madzhab khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah.

Berbeda dengan ulama salaf yang mensucikan Allah dari pengertian lahir ayat-ayat mutasyabih itu, mengimani hal-hal ghaib sebagaimana dituturkan Al-Quran, dan menyerahkan bulat-bulat pengertian ayat itu kepada Allah, maka ulama khalaf memberikan penakwilan terhadap ayat-ayat mutasyabih itu. Istiwa’ ditakwilkan dengan keluhuran yang abstrak, berupa pengendalian Allah terhadap ala mini tanpa merasa kepayahan. Kedatangan Allah ditakwilkan dengan kedatangan perintahnya. Allah berada diatas hamba-Nya menunjukkan Kemahatingian Allah, bukan menunjukkan Allah menempati suatu tempat. Sisi Allah ditakwilkan dengan hak Allah, Wajah dan mata Allah ditakwilkan dengan pengawasan-Nya, tangan ditakwilkan dengan kekuasaan-Nya, dan diri ditakwilkan dengan siksa-Nya.  Demikianlah prinsip penafsiran ulama khalaf. Kesan-kesan atromorpistik Allah pada ayat-ayat Al-Quran ditakwilkan dengan arti yang cocok dengan kesucian Allah.

Untuk menengahi kedua madzhab yang kontradiktif itu, Ibn Ad-Daqiq Al-‘Id mengatakan bahwa apabila penakwilan yang dilakukan terhadap ayat-ayat mutasyabih dikenal oleh lisan Arab, penakwilan itu tidak perlu diingkari. Jika tidak dikenal oleh lisan Arab, kita harus mengambil sikap tawaqquf (tidak membenarkan dan tidak pula menyalahkannya) dan mengimani maknanya sesuai apa yang dimaksud ayat-ayat itu dapat dipahami melalui percakapan orang Arab, kita tidak perlu mengambil sikap tawagguf. Contohnya adalah QS. Az-Zummar [39] ayat 56 yang kami maknai dengan hak dan kewajiban Allah.

Ibn Qutaibah (w.276 H) menentukan dua syarat bagi absahnya sebuah penakwilan. Pertama, makna yang dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas. Kedua, arti yang dipilih dikenal oleh bahasa Arab klasik. Syarat yang dikemukakan ini lebih longgar daripada syarat kelompok Azh-Zhahiriyyah yang menyatakan bahwa arti yang dipilih tersebut harus dikenal secara poputer oleh masyarakat Arab pada masa awal.

Fatwatih As Suwar

Setelah basmalah, terdapat 29 surat kelompok huruf – kadang kala bahkan huruf tunggal – yang telah banyak menyebabkan diskusi dan refleksi dalam sejarah pemikiran ummat Islam. Dalam catatan As-Suyuthi, ada kurang lebih 20 pendapat yang berkaitan dengan persoalan ini.  Dilafalkan secara terpisah sebanyak  huruf yang berdiri sendiri. Huruf al-muqaththa’ah (huruf yang terpotong-potong) disebut fawatih suwar (pembuka surat), menurut As-Suyuthi, tergolong dalam ayat mutasyabih. Itulah sebabnya, banyak telaah tafsirilah untuk mengungkapkan rahasia yang terkandung di dalamnya.

Adapun bentuk redaksi fawatih as-suwar di dalam Al-Quran dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Terdiri dari satu huruf, terdapat pada tiga tempat: Surat Shad [38], yang diawali huruf shad; surat Qaf [50] : 1 yang diawali huruf Qaf; surat Al Qalam [68] : 1 yang awali huruf Nun.
    1. Terdiri atas dua huruf, terdapat pada sepuluh tempat: Surat Al-Mukmin [40] : 1; surat Fushshilat [41] : 1; surat Asy-Syura[42] : 1; surat Az Zukhruf  [43] : 1; surat Ad-Dukhan [44] : 1; surat Al-Jatsiyyah [45] : 1; dan surat Al Ahqaf [46] : 1 yang diawali huruf Ha Mim; surat Thaha [20] : 1 yang diawali huruf Tha Ha; surat an-Naml [27] : 1 yang diawali huruf Tha Sin; surat Yaa Siin[26] : 1 yang diawali huruf Yaa Siin.
    2. Terdiri atas tiga huruf, terdapat pada 13 tempat: Surat Al-Baqarah [2] ayat 1; surat Ali ‘Imran [3] : 1; surat Al-Ankabut [29] : 1; surat Ar-Rum [30] : 1; surat Luqman [31] : 1; surat As-Sajdah [32] : 1 yang diawali huruf Alif Lam Mim; surat Yunus [10] : 1; surat Hud [11] : 1; surat Yusuf [12] : 1; surat Ibrahim [14] : 1; surat Al-Hijr [15] : 1 yang diawali huruf Alif Lam Ra’; surat Asy-Syuara’ [26] : 1; surat Al-Qashshash [28] : 1 yang diawali huruf Tha Sin Mim.

Pada dasarnya terdapat dua kubu ulama yang mengomentari persoalan diatas. Pertama, kubu salaf yang memahaminya sebagai rahasia yang hanya diketahui Allah. Diantara mereka adalah Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar. Dalam satu riwayatnya ‘Ali berkata,

Artinya:

‘Setiap kitab memiliki sari pati (safwah) dan sari pati Al-Quran adalah huruf-huruf ejaannya’.

Adapun kubu kedua melihat melihat persoalan ini sebagai rahasia yang juga dapat diketahui manusia

Menurut Ahli Tafsir

Menurut Ibn ‘Abbas, berdasarkan riwayat Ibn Abi Hatim, huruf-huruf itu menunjukkan nama Tuhan. Alim Lam Mim, yang terdapat dalam pembukaan surat Al-Baqarah, ditafsirkan dengan Ana Allah A’lam (Akulah Tuhan Yang Mahatahu). Alim Lam Ra’, ditafsirkan dengan Ana Allah Ara (Akulah Tuhan Yang Maha Melihat). Juga menurutnya Alif Lam Ra’ dan Ha mim merupakan ejaan ar-rahman yang dipisahkan. Dalam mengomentari huruf Kaf Ya Ha ‘Ain Shad, ia berkata, “Kaf sebagai lambing Karim (Pemurah), Ha berarti Hadin (Pemberi petunjuk), Ya berarti Hakim (bujaksana), Ain berarti ‘Alim (Maha Mengetahui), dan shad berarti Shadiq (Yang Mahabenar).

Menurut Sayyid Al Quthub, huruf-huruf itu mengingatkan kenyataan bahwa Al-Quran disusun dari huruf-huruf yang lazim dikenal oleh bangsa Arab, yaitu tujuan Al-Quran pertama kali diturunkan. Dalam pandangannya pula, misteri dan kekuatan huruf-huruf itu terletak pada kenyataan bahwa meskipin huruf-huruf itu begitu lazim dan sangat dikenal, manusia tidak akan dapat menciptakan gaya dan diksi yang sama dengannya untuk membuat kitab seperti Al-Quran.

Pendapat lain adalah bahwa huruf-huruf itu berfungsi sebagai tanbih (peringatan), seperti terungkap dalam pendapat Ibn Katsir, Ath Thabari, dan Rasyid Ridha, dalam kitab tafsirnya masing-masing. Dalam hal ini, Rasyid Ridha, beragumentasi bahwa letak keindahan pembicara adalah ketika ia menyadarkan perhatian pendengarnya – sebelum melontarkan uraiannya – agar dapat menangkap dan menguasai pembicaraannya.

Dalam tradisi Arab, ucapan yang digunakan sebagai peringatan adalah ha tanbih. Maka demikian pula Al-Qur’an. Karena isi surat yang diawali huruf-huruf itu pada umumnya berisi tentang Al-Kitab dan kenabian, dua hal yang paling pokok dalam Islam, maka Allah perlu memperingatkan orang-orang musyrikin Arab Mekah terlebih dahulu agar mereka dapat memahami dan menerima kandungan-kandungan Al-Qur’an.

Berkaitan dengan pendapat diatas, Jalaluddin As-Sayuthi mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak menggunakan kata-kata peringatan (tanbihat) yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, seperti ala dan ama karena keduanya termasuk lafal yang biasa dipakaidalam percakapan, sedangkan Al-Qur’an merupakan kalam biasa yang karenanya menggunakan alif sebagai  kata peringatannya yang belum pernah digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan bagi pendengarnya.

Tentang siapa yang diperingatkan Allah, sebagian utama seperti Al-Khuwaibi, berpedapat Nabi-lah yang diperingati agar tengah-tengah kesibukan dunianya, berpendapat kepada Jibril untuk mendengar ayat-ayat yang disampaikan kepadanya. Akan tetapi, pendapat diatas dibantah Rasyid Ridha,. Menurutnya, Nabi selalu siap menanti kedatangan wahyu. Peringatan itu, menurutnya ditujukan kepada orang-orang musyrik Mekah dan Ahli Kitab Madinah agar mereka tertarik mendengar Al-Qur’an dan hati mereka menjadi lunak kepada Nabi.

Menurut Ahli Teologi dan Tasawuf

Kelompok teolog biasanya menafsirkan Al-Qur’an untuk melegitimasi doktrin-doktrin mereka. Begitu pula dalam penjelsan rahasia-rahasia huruf Al-Qur’an ini, umpamanya berpendapat bahwa apabila pengulangan dalam kelompok huruf itu dibuang, akan terbetuklah sebuah pernyataan __________________________ (jalan yang ditempuh ‘Ali adalah kebenaran yang harus kita pegang). Tampaknya penafsiran itu dimunculkan untuk memperlihatkan begitu kuatnya posisi ‘Ali dalam keimanan mereka. Ulama Sunni, dengan kecenderungan teologi pula, membantah pendapat Syi’ah di atas. Mereka kemudian mengubah pernyataan ulama Syi’ah tersebut menjadi  ______________________________ (telah benar jalanmu dengan mengikuti sunah). Kata As-Sunnah itu dimunculkan untuk memperlihatkan kebenaran aliran teologi Ahlusunnah wal-jama’ah.

Ath-Thabari, salah satu komentator Syi’ah menjelaskan dengan merujuk kepada imamnya yang berjumlah enam bahwa alif menunjukkan enam sifat Tuhan, yaitu:

  1. Yang Memulai karena la – lah yang mengawali segala ciptaan, seperti alif yang mengawali semua huruf,
  2. Yang Jujur dan Yang Lurus  karena tuhan itu adil seperti huruf alif yang tegak dan lurus
  3. Yang Unik seperti alif yang dakam penulisan tidak dapat digabung, tetapi berdi sendiri,
  4. Yang Tunggal seperti alif yang dalam tidak dapat digabung,  tetapi berdiri sendiri
  5. Yang Merdeka semua mekhluk membutuhkantuhan, tetapi ia tidak membutuhkan mereka,
  6. Alif tidak berhubungan dengan huruf lain, sedangkan huruf lai berhubungan denganya. Ini menunjukan keunikan tuhan.

Dalam tradisi para sufi, rahasia–rahasia hurur itu dijelaskan dengan perspektif esotorik-simbolik. Ibnu ‘Arabi dianggap sebagai pelopor dalam hal ini. Ia menjelaskan bahwa alif adalah nama esensi ilahi yang menunjukkan Ia merupakan yang pertama dari segala eksintesi, sedangkan lam – sebaliknya – terbentuk dari dua alif, dan keduanya dikandung oleh mim. Lebih jauh ia menjelaskan mengandung satu atau sifat lain (atribut). Oleh karena itu, mim merupakan referensi terhadap tindakan Muhammad. Selain itu, ia menjelaskan bahwa alif adalah symbol sifat dan tindakan – tindakan Muhammad, maka lam yang mengantarkan alif dan mim merupakan symbol nama malaikat Jibril.

Menurut Kalangan Orientalis

Noldeke, seorang orintalis jarman adalah orang pertama kali mengemukan dugaan bahwa huruf–huruf itu merupakan penunjukan nama–nama para pengumpulnya. Misalnya, sin sebagai kependekan nama Sa’id bin Waqqas; mim sabagai kependekan nama Mughira ; ha sebagai kependekan nama Abu Hurairoh, nun sebagi kependekan nama Utsman bin ‘Affan’. Ia kemudian mengumpulkan pandangan bahwa huruh–huruf itu merupakan simbol yang tidak bermakna, mungkin merupakan tanda–tanda magis atau tiruan dari tulisan kitab samawi yang disampaikan kepada Nabi Muhammad .

Pandangan yang lebih kurang senada dikemukakan oleh Alan Jones berdasarkan pernyataan–pernyataan dalam hadis. Ia mengatakan bahwa pada beberapa kesempatan kaum muslim menggunakan teriakan atau semboyan perang Hamim (artinya mereka akan dibantu). Ia menekan bahwa huruf–huruf itu merupakan simbol mistik yang memberi kesan bahwa kaum muslimim mendapat bantuan dari Tuhan.

Hirsecfeld juga mengemukan pendapat di atas. Hanya saja, ia bebeda dalam menjelaskan nama-nama sahabat yang disingkat pada huruf – huruf itu. Misalnya, untuk ’Utsman bin ‘Afan, ia mengemukan huruf mim, sedangkan untuk Munghira adalah huruf alif lam mim. Pendapat lain ditemukan oleh Eduard Gosseens. Ia berpendapat bahwa huruf–huruf itu meupakan singkatan dari judul – judul surat yang tidak digunakan.

Menurut W. Montgomery Watt, dalam kasus–kasus tertentu, pemecahan Gossens tidak masuk akal atau didasarkan  pada penyusunan kembali kandungan dan pengubahan bagian–bagian surat tertentu secara drastis. Lebih jauh lagi dia menilai bahwa Gossens tidak mampu menjelaskan mengapa beberapa surat memiliki judul serupa, seperti yang terkandung dalam kelompok–kelompok surat dengan huruf yang sama pada permulaanya.

Sebagai ayat mutasyabiat, tentu saja penafsiran terhadap huruf–huruf itu tidak akan terhingga dan tak ada batasnya. Apa yang dikemukakan di atas hanyalah penakwilan–penkwilan individu yamg sangat diwarnai berbagai orientasi dan kecenderungan yang tidak menutup kemungkinan untuk dikritik.

Subhi Sallih, umpamanya mencoba mengkritik penafsiran–penafsiran yang telah dikemukakan di atas. Untuk kelompok ahli tafsir, ia mempertanyakan huruf qaf – umpamanya – ditafsikan dengan singkatan nama Allah Al–Qadir, bukan Al–Qohhar atau Al-Qudus, atau Al–Qawi. Mengapa huruf ‘ain mesti menunjukan nama–nama Allah Al-’Alim bukan Al–‘Aziz. Begitu seterusnya.

2 comments

  1. Salam,

    Sedikit penambahan/pembetulan, sila lihat penjelasan ayat2 muhkam dan mutasyabih dlm http://kajian-quran.blogspot.com/

    wajib kita beriman bahwa seluruh ayat2 Al-Quran samada muhkam atau mutasyabih adalah ayat-ayat yg jelas lagi terang. menjadi kufur sekiranya kita mengatakan bahwa ayat2 mutasyabihat itu ayat2 yg kurang jelas atau samar2 sbb Allah menyatakan ayat2 mutasyabihat adalah ayat2 petunjuk “hudan”.
    Mana mungkin petunjuk atau hudan itu boleh kabur atau samar-samar sbb hudan itulah yg akan menjadikan umat Islam umat terbaik “khaira ummatin”.

    1. Salam juga..

      Wah, terima kasih sudah mengingatkan..

      Jujur saya juga sudah agak lupa pengertian jelasnya dari ayat muhkam dan mutasyabih. Adapun seingat saya ketika dosen menjelaskan yaitu ayat yang jelas dan tidak jelas.

      Post ini pun diambil dari tugas mata kuliah dulu.
      Terlepas dari itu, tidak bermaksud membela diri sama sekali.

      Well, maaf karena seharusnya saya mencari referensi yang banyak sebelum memposting, dan terima kasih sudah membenarkan dan menambahkan..
      🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s