TASAWUF AKHLAKI

Aliran dalam tasawuf (Amin Syukur)

Tasawuf Sunni

Berpedoman pada Al Qur-aan dan Al hadits dan mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkatan ruhaniah) pada keduanya (Al Qur-aan dan Al Hadits).

Tasawuf Falsafi

Tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat. Jadi tidak dapat dikatakan tasawuf atau filsafat.

Contoh Sufi beserta ajarannya yang ajarannya termasuk dalam aliran Tasawuf Akhlaki.

A.       Hasan Al Bashri

1.        Riwayat Hidup Hasan Al Bashri

Hasan Al Bashri (21H/ 632 M – 110H/ 728 H), yang nama lengkapnya Abu Sa’id Al hasan bin Yasar adalah seorang Zahid yang sangat masyur di kalangan tabi’in. Dia yang mula-mula mencetuskan ilmu-ilmu kebatinan, keurnian akhlak dan usaha mensucikan diri di Masjid Bashrah.

Hasan Al Bashri terkenal dengan keilmuannya yang sangat dalam, sehingga menjadi imam di Bashrah. Disamping dikenal sebagai zahid, ia juga dikenal sebagai seorang yang mara’. Diantara karya tulisnya ada yang berisi kecaman terhadap aliran kalam Qadariyyah dan tafsir-tafsir Al Qur-aan.

2.        Ajaran-ajaran Tasawuf Hasan Al Bashri

Hamka mengemukakan sebagian ajaran tasawuf Hasan Al Bashri, yaitu:

  1. “Perasaan takut yang menyebabkan hatimu tentram lebih baik dari pada rasa tentram yang menimbulkan perasaan takut”.
  2. “Dunia adalah adalah negeri tempat beramal. Barangsiapa bertemu dunia dengan perasaan benci dan zuhud, ia akan berbahagia dan memperoleh faedah darinya. Namun, barangsiapa bertemu dunia dengan perasaan rindu dan hatinya tertambal dengan dunia, ia akan sengsara dan akan berhadapan dengan penderitaan yang tidak dapat ditanggungnya”.
  3. “Tafakur membawa kita pada kebaikan dan selalu berusaha untuk mengerjakannya”.
  4. “Dunia ini adalah seorang janda tua yang telah bungkuk dan beberapa kali ditinggalkan mati suaminya”.
  5. “Orang yang beriman akan senantiasa berduka-cita pada pagi dan sore hari karena berada diantara dua perasaan takut: takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal serta bahaya yang akan mengancam”.
  6. “Hendaklah setiap orang sadar akan kematian yang senantiasa mengancamnya dan juga takut akan kiamat yang hendak menagih janjinta”.
  7. “Banyak duka cita di dunia memperteguh semangat amal saleh”.

Muhammad Mustafa, guru besr Filsafat Islam menyatakan bahwa yang mendasari tasawufnya adalah kebesaran jiwa akan kekurangan dan kelalaian dirinya.

B.       Al-Muhasibi: Pandangan tasawufnya

Al Harits bin Asad Al Muhasibi (w.243 H) menempuh jalan tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya.  Dia memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban, wara’ dan meneladani Rasulullah.

1.        Pandangan Al Muhasibi tentang Ma’rifat

Menurut AL Muhasibi, ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan kepada kitab dan sunnah. Tahapan ma’rifat adalah sebagai berikut:

  1. Taat. Awal kecintaan kepada Allah wt adalah taat, yaitu wujud konkret ketaatan hamba kepada Allah. Kecintaan kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan hanya sekedar pengungkapan semata. Implementasinya adalah memenuhi hati dengan sinar dan kemudian melimpah pada lidah dan anggota tubuh yang lain.
  2. Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari  oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan ma’rifat selanjutnya.
  3. Pada tahap ketiga ini Allah menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan dan keghaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap di atas. Ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selamam ini disimpan Allah.
  4. Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dengan gana’ yang menyebabkan baqa’.

2.        Pandangan Al Muhasibi tentang Khauf dan Raja’

Khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang dalam membersihkan jiwa.

Menurut Al Muhasibi, pangkal wara’ adalah ketakwaan; pangkal ketakwaan adalah introspeksi diri (musabat Al nafs); pangkal instrospeksi diri adalah khauf dan raja’; pangkal khauf dan raja’ adalah pengetahuan tentang janji dan ancaman Allah; pangkal pengetahuan tentang keduanya adalah perenungan.

Khauf dan raja’ dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada Al Qur-aan dan As Sunnah.

Sebagaimana penjelasan Al Qur-aan tentang surga dan neraka.

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.

(Q.S. Adz Dzariyyat: 15 – 18)

 Raja’ dalam pandangan Muhasibi seharusnya melahirkan amal saleh. Inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati dan para sahabat nabi, sebagaimana digambarkan oleh ayat:

¨Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(Q.S. Al Baqarah: 218)

C.       Al-Qusyairi

1.        Riwayat Hidup Al Qusyairi

Nama lengkap Al Qusyairi adalah ‘Abdul Karim bin Hawazin lahir tahun 376 di Istiwa. Setelah berhasil mempelajari doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al Qusyairi pembela paling tangguh dari aliran tersebut dalam menentang doktrin aliran-aliran Mu’tazilah, Karamiyyah, Mujassamah dan Syiiah.Menurut Ibnu Khallikan, Al Qusyairi adalah seorang yang mampu “mengompromikan syari’at dengan hakikat”. Al Qusyairi wafat tahun 465 H.

2.        Ajaran-Ajaran Tasawuf Al Qusyairi

Dalam karyanya Ar Risalah Al Qusyairiyyah, Al Qusyairi cenderung mengembalikan tasawuf ke atas landasan doktrin Ahlus Sunnah. Dalam ungkapannya, Al Qusyairi menolak para sufi syathahi, yang mengesankan terjadinya perpaduan antara sifat-sifat ketuhanan, khsususnya sifat terdahuluNya, dan sifat-sifat kemanusiaan, khususnya sifat baharuNya.

Selain itu dia mengecam keras para sufi yang gemar mempergunakan pakaian orang miskin, sedangkan tindakan mereka bertentangan dengan pakaian mereka.

Dalam konteks berbeda, Al Qusyairi mengemukanan suatu penyimpangan lain dari para sufi, dengan ungkapan pedas.

“Kebanyakan para sufi yang menempuh jalan kebenaran dari kelompok tersebut telah tiada. Tidak ada bekas mereka yang tinggal dari kelompok tersebut kecuali bekas-bekas mereka.”

Dalam hal ini jelaslah bahwa Al Qusyairi adalah pembuka jalan bagi kedatangan Al Ghazali yang berafiliasi pada aliran yang sama, yaitu Al Asy’ariyyah, yang nantinya merujuk pada gagasan Al Qusyairi.

D.       Al Ghazali

1.        Biografi Singkat Al Ghazali

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath Thust Asy Syafi’i Al Ghazali.Dia dipanggil Al Ghazali karena dilahirkan di Ghazlah. Iran pada yahun 1058 M.

Karya-karyanya menunjukkan bahwa AL Ghazali merupakan seorang pemikir kelas dunia yang sangat berpengaruh. Di kalangan Islam sendiri banyak yang menilai bahwa dalam hal ajaran ia adalah seorang kedua yang paling berpengaruh sesudah rasulullah Saw.

Di kalangan Kristen abad tenha, pengaruh Al Ghazali merembes melalui filsafat Bonabentura.

Banyak literatur yang menyebutkan tentang jaza-jasa Al Ghazali bagi peradaban Islam.

2.        Ajaran Tasawuf Al Ghazali

Didalam tasawufnya, Al Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan Al Qur-aan dan sunnah Nabi. Ditambah dengan doktrin Ahlu Al Sunnah wa Al Jamaah. Dari paham tasawufnya, ia menjauhkan semua kecenderungan gnotis yang mempengaruhi para filosof Islam, sekte Ismalilyah, aliran Syi’ah, Ikhwan Ash Shafa. Ia menjauhkan tasawufnya dari paham ketuhanan Aristoteles seperti emanasi dan penyatuan. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa Al Ghazali benar-benar bercorak Islam.

Corak tasawufnya adalah psiko-moral yang mengutamakan pendidikan moral. Hal ini dapat dilihat dari karya-karyanya seperti Ihya Ulum Al Din, Minhaj Al Abidin, Mizan Al Amal, Bidayah Al Hidayah, Mi’raj Al Salikin, Ayyuhal Walad. Oleh sebab itu, Al Ghazali mempunyai jasa besar dalam dunia Islam. Dialah yang memadkan antara ketiga keilmuan Islam, yakni tasawuf, fiqih dan ilmu kalam.

Al Ghazali menjadikan tasawuf sebagai sarana untuk beroalh rasa dan berolah jiwa, hingga sampai pada ma’rifat yang membantu menciptakan (sa’adah).

a.    Pandangan Al Ghazali tentang Ma’rifat

Menurut Al Ghazali, ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan pengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Alat memperoleh ma’rifat bersandar pada sir, qalb dan roh.

Ma’rifat seorang sufi tidak dihalangi oleh hijab, sebagaimana ia melihat si Fulan ada di dalam rumah  dengan mata kepala sendiri.  Jadi ma’rifat menurut AL Ghazali adalah ma’rifat yang dibangun atas dasar dzauq rohani dan jasyf ilahi. Ma’rifat seperti ini dapat dicapai oleh para khawash auliya tanpa melalui perantara atau langsung dari Allah, sebagaimana ilmu kenabian. Nabi mendapat ilmu Allah melalui perantara malaikat, sedangkan wali mendapat ilmu melalui ilham. Namun kedua-duanya sama-sama memperoleh ilmu dari Allah.

b.    Pandangan Al Ghazali tentang As Sa’adah

Menurut AL Ghazali, kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat Allah (ru’yatullah). Kenikmatan qalb – sebagai alat memperoleh ma’rifat terletak ketika melihat Allah. Melihat Allah merupakan kenikmatan paling agung yang tiada taranya karena ma’rifat itu sendiri agung dan mulia.

I.       TASAWUF IRFANI

A.       Rabiah Al Adawiyah

1.        Riwayat Hidup Rabiah Al Adawiyah

Nama lengkap Rabiah Al Adawiyah adalah Rabi’ah bin Ismail Al Adawiyah Al Basyirah Al Qaisiyah, lahir di Vashrah (Irak) (717 – 801 M).

 Ia adalah putri ke empat dari keluarga miskin. Itulah sebabnya namanya adalah rabi’ah. Setelah peristiwa perang di Bashrah, ia dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah. Dari sini ia dikenal dengan sebutan Al Qaisiyah atau Al Adawiyah.

Setelah dimerdekakan tuannya, ia hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai seorang zahidah dan sufiah. Ia menjalani sisa hidupnya hanya dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak tobat dan menjauhi hidup duniawi.

2.        Ajaran Tasawuf Al Adawiyah

Rabi’ah Al Adawiyah dalam perkembangan mistisisme dalam islam tercatat sebagai peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Diantara sya’r cinta Rabi’ah yang paling mashur adalah:

“Aku mencintaiMu dengan dua cinta,

Cinta karena diriku dan karena diriMu

Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatkanMu

Cinta karena diriMu

Adalah keadaan mengungkapkan tabir sehingga Engkau kulihat

Baik ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku,

bagiMu pujian untuk kesemuanya.

  1. B.       Dzu Al Nun Al Mishri
  2. 1.        Riwayat Hidup Al Mishri

Dzu an _nun Al Mishri adalah nama julukan bagi seorang sufi yang tinggal di sekitar pertengahan abad ketiga Hijriayh. Nama lengkapnya adalah Abu Al Faidh Tsauban bin Ibrahim (796 – 856 M).

Dalam perjalanan hidupnya Al Mishri selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini memungkinkannya untuk memperoleh pengalaman yang banyak dan mendalam. Ia pernah mengikuti pengajian Ahmad bin Hanbal. Ia mengambil riwayat dari malik, AL Laits. Adapun yang pernah mengambil riwayat dari dia diantaranya Al hasan bin Mush’b, Al Nakha’i dan guru dalam bidang tasawuf adalah Syaqran AlAbd atau Israfil Al Maghribity.

2.        Ajaran Tasawuf Al Mishri

a.    Pengertian Ma’rifat menurut Dzu Al Nun Al Mishri

Al Mishri pelopor paham ma’rifat. Al Mishri memperkenalkan corak baru tentang ma’rifat dalam bidang sufisme Islam. Pertama, ia membedakan antara ma’rifat sufiah dengan ma’rifat aqliyah. Kedua, menurut Al Mishri ma’rifat sebenarnya adalah musyahadah qalbiyah (penyaksian hati). Keyiga teori-teori ma’rifat Al Mishri menyerupai gnosisme ala Neo_Platonik.

Berikut beberapa pandangan tentang hakikat ma’rifat.

–       Sesungguhnya ma’rifat yang hakiki bukanlah ilmu tentang keesaan Tuhan, tetapi ma’rifat terhadap keesaan Tuhan yang khusus dimiliki para wali Allah.

–       Ma’rifat yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyinari hatimu dengan cahaya ma’rifat yang murni seperti matahari tak dapat dilihat kecuali dengan cahayanya.

Al Mishri membagi pengetahuan tentang Tuhan menjadi tiga macam, yaitu:

–       Pengetahuan untuk seluruh muslim

–       Pengetahuan khusus untuk para folosof dan ulama

–       Pengetahuan khusus untuk para wali Allah

b.    Pandangan Dzu Al Nun Al Mishri tetntang Maqamat dan Ahwal

Menurut Al Mishri ada dua macam tobat, yaitu tobat awam dan yobat khawas. Orang awam tobat karena kelalaian dari mengingat Tuhan.

Lebih jauh AL Mshri membagi tobat menjadi tiga tingkatan, yaitu:

–          Orang yang tobat dari dosa dan keburukannya

–          Orang yang bertobat dari kelalaian dan kealfaan mengingat Tuhan.

–          Orang yang bertobat karena memandang kebaikan dan ketaatannya.

C.       Abu Yazid Al Bustami

1.        Riwayat Hidup Abu Yazid Al Bustami

Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan Al- Bustami, lahir di daerah Bustam (Persia) tahun 874- 947 M.

Dalam menjalani kehidupan zuhud, selama 13 tahun, Abu Yazid mengembara di gurun- gurun pasir di Syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali.

2.     Ajaran Tasawuf Abu Yazid

            Ajaran tasawuf terpenting Abu Yazid adalah fana’ dan baqa’. Dari segi bahasa, fana’ berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap.

Adapun baqa’, berasala dari kata baqiya. Arti dari segi bahasa adalah tetap, sedangkan berdasarkan sifat- sifat terpuji bagi Allah. Paham baqa’ tidak dapat dipisahkan dengan paham fana karena keduanya merupakan paham yang berpasangan. Jika seoranf sufi sedang mengalami fana’, ketika itu juga ia sedang menjalani baqa’.

Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang fusi setelah ia melalui tahapan fana’ dan baqa’.

D.       Abu Manshur Al Hallaj

1.        Riwayat Hidup Al Hallaj

Nama lengkapnya adalah Abu Al Mughist Al Husain bin Manshur bin Muhammad Al Baidhawi, lahir di Baida sebuah kota kecil di wilayah Persia tada tahun 244 H/ 855 M.

Atas ucapannya “ana Al haqq” yang tidak dapat dimaafkan para ulama fiqih dan dianggap sebagai ucapan keurtadan, membuat dia di tangkap dan dipenjara sampai kepada di hukum gantung.

Kematian tragis Al Hallaj tidak membuat getar para pengikutnya. Ajarannya masih tetap berkembang. Ia dianggap mempunyai hubungan dengan gerapakn Qaramithah.

2.        Ajaran Tasawuf Al Hallaj

Diantara ajaran tasawuf Al Hajjaj yang paling terkenal adalah Al hulul dan wahdat Asy syuhud yang kemudian melahirkan paham wihdat Al wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibn Arabi. Al- Hallaj memang pernah mengaku bersatu dengan Tuhan (hulul).

Menurut Al Hallaj bahwa persatuan antara Tuhan dan manusia dapat terjadi dengan mengambil bentuk hulul. Pada hulul terkandung kefanaan total kehendak manusia dalam kehendak ilahi, sehingga setiap kehendaknya adalah kehendak Tuhan, demikian juga tindakannya.

II.      TASAWUF FALSAFI

Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Menurut At Taftazani, tasawuf falsafi muncul dengan jelas dalam khazanah Islam sejak abad keenam hijriyah. Menurutnya, ciri umum tasawuf ini adalah ajarannya yang samar-samar akibat banyak istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak dapat dipandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq), tetapi tidak dapat pula dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertian yang murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.

A.       Ibn Arabi

1.        Riwayat Hidup Ibn Arabi

Nama lengkap Ibn Arabi adalah Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah Ath Tha’i Al Haitami, lahir di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol tahun 560 H. Diantara guru-gurunya tercatat Abu Madyan Al Ghauts Al Talimsari dan Yasmin Musyaniyah. Karyanya yang terkenal adalah Al Futuhat Al Makiyyah, Tarjuman Al Asuywaq, Masyahid Al Asrar, Mathali’ Al Anwar Al Ilahiyyah, Hilyat Al Andal, Kimiya Al Sa’adat, Mudharat Al Abrar, Kitab Al Akhlaq, majmu’ Al Rasa’il Al Ilahiyyah, Mawagi Al Nujum, Al Jam wa Al Tafshil fi Haqa’iq Al Tanzil, Al Ma’rifah Al Ilahiyyah dan Al Isra’ ila Maqam Al Atsna.

2.        Ajaran Tasawuf  Ibn Arabi

Ajaran sentral Ibn Arabi adalah tentang wahdat Al wujud (kesatuan wujud). Dari konsep wahdat al wujud uncul dua konsep sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep wahdat al wujud, yaitu Al hakikat al muhamaddiyyah dan wahdat al adyan (kesamaan agama).

Menurut Ibn Arabi, Tuhan adalah pencipta alam semesta. Adapun proses penciptaannya adalah sebagai berikut:

  1. Tajali. Dzat Tuhan dalam bentuk a’yan tsabitah.
  2. Tanazul Dzat. Dzat Tuhan dari alam ma’ani ke alam ta’ayyunat.
  3. Tanazul kepada relitas-realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah berfikir.
  4. Tanazul Tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi, yaitu alam mitsal (ide) atau khayal.
  5. Alam materi, yaitu alam inderawi.

B.       Al Jilli

1.        Riwayat Hidul Al Jilli

Nama lengkapnya adalah ‘Abdul Karim bin Ibrahim Al Jilli (1365 – 1417 M). Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari baghdad. Ada beberapa sumber mengatakan dia pernah belajar dari Abdul Qadir Jaelani salah seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyah. Selain itu juga belajar dari Syekh Syarafuddin Isma’il bin Ibrahim Al Jabarti di Zabid (Yaman) pada tahun 1393 – 1403 M.

2.        Ajaran Tasawuf Al Jilli

Ajaran tasawuf Al Jilli yang terpenting adalah paham Insan Kamil (manusia sempurna). Menurut Al Jilli, Insan kamil adalah nuskhah atau copy Tuhan.

Tuhan memiliki sifat-sifat seperti hidup, pandai, mampu berkehendak, mendengar dan sebagainya. Manusia (Adam) pun memiliki sifat0sifat seperti itu. Proses yang terjadi selanjutnya adalah setelah Tuhan menciptakan substansi, Huwiyah Tuhan dihadapkan dengan Huwiyah Adam, AniyahNya disandingkan dengan Aniyah Adam dan DzatNya dihadapkan pada zat Adam dan akhirnya Adam berhadapan dengan Tuhan dalam segala hakikatNya.

Al Jilli merumuskan beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi. Dalam istilahnya, maqam itu disebut Al martabah (jenjang/ tingkatan), yaitu:

  1. Islam. Islam yang didasari pada lima pokok atau rukun dalam pemahaman kaum sufi tidak hanya dilakukan secara ritual, tetapi harus dipahami dan dirasakan lebih dalam.
  2. Iman, yakni membenarkan dengan sepenuhnya keyakinan akan rukun iman dan melaksanakan dasar-dasar Islam.
  3. Ash Shalah. Pada maqam ini seorang sufi mencapai tingkatan ibadah yang terus menerus kepada Allah dengan perasaan khauf dan raja’.
  4. Ihsan. Maqam ini menunjukkan bahwa seorang sufi mencapai tingkat menyaksikan efek (atsar) nama dan sifat Tuhan, sehingga dalam ibadahnya merasa seakan-akan berada di hadapanNya.
  5. Syahadah. Pada maqam ini seorang sufi telah mencapai iradah yang bercirikan mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih, mengingatNya terus menerus dan meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan pribadi.
  6. Shiddiqiyyah. Istilah ini menggambarkan tingkat pencapaian hakikat ma’rifat yang diperoleh secara bertahap dari ilmu Al yaqin, ‘ain Al yaqin dan haqq Al yaqin.
  7. Qurbah. Ini merupakan maqam yang memungkinkan seorang sufi dapat menampakkan diri dalam sifat dan nama yang mendekati sifat dan nama Tuhan.

C.       Ibn Sabi’in

1.        Riwayat Hidup Ibn Sabi’in

Nama lengkapnya ‘Abdul Haqq bin Ibrahim Muhammad bin Nashr (1217 – 1218 M), seorang sufi dan filosoft dari Andalusia.

Pengetahua Ibn Sabi’in sangat luas. Dia mengenal berbagai aliran filsafat Yunani dan filsafat-filsafat Hermetisisme, Persia dan India. Disamping itu dia banyak menelaah karya-karya filosof Islam sepeti Al Farabi dan Ibn Sina, filosof Islam barat seperti Ibn Bajah, Ibn Thufail dan ibn Rusyd.

2.        Ajaran Tasawuf Ibn Sabi’in

Ibn abi’in adalah pengagas sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan essensialnya sederhana saja, yaitu wujud adalah satu alias Wujud Allah semata. Jelasnya wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari Wujud Yang Satu. Dengan demikian, wujud dalam kenyataannya hanya satu persoalan yang tetap.

Paham Ibn Sabi’in ini mirip dengan paham hakikat Muhammad ataupun Quthb dari sebagian para sufi juga filosof seperti Ibn Arabi dan Abn Al Faridh atau paham insan kamil dari Al Jilli.

Ibn Sabi’in mengembangkan pahamnya tentang kesatuan mutlak ke berbagai bidang folosofis. Misal, menurutnya jiwa dan akal budi tidak mempunyai wujud tersendiri, tapi wujud keduanya berasal dari  yang satu dan yang satu tersebut justru tidak terbilang.

D.       Ibn Masarrah

1.        Riwayat Hidup Ibn Masarrah

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Masarah (269 -319 H). Ia adalah salah seorang sufi sekaligus filosof dari Andalusia. Pada mulanya Ibn Masarrah merupakan penganut sejati aliran Mu’tazillah, lalu berpaling pada aliran Neo-Platonisme. Oleh karena itu dia dituduh mencoba menghidupkan kembali filsafat Yunani Kuno.

2.        Ajaran Tasawuf Ibn Masarrah

  1. Jalan menuju keselamatan adalah menyucikan jiwa, zuhud dan mahabbah yang merupakan asal dari semua kejadian.
  2. Dengan penakwilan ala Philun atau aliran Isma’iliyyah terhadap ayat-ayat Al Qur-aan, Ibn Masarrah menolak adanya kebangkitan jasmani.
  3. Siksa neraka bukanlah dalam bentuk yang hakikat.

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s