#FiksiHorror: “Karma” Part 2.

 Malam itu Bari dan Ujang sedang mabuk-mabukan di sebuah warung desa, mereka berfoya-foya karena mereka mendapatkan banyak uang dari para tuan tanah atas pekerjaan mereka. sudah berbotol-botol minuman keras mereka habiskan, hingga akhirnya pemilik warung menyuruh Bari dan Ujang pulang. Mereka sudah sangat mabuk. Akhirnya Bari dan Ujang pulang. Dengan langkah sempoyongan Bari dan Ujang menyelusuri jalan desa, hingga dipertengahan jalan mereka bertemu seorang gadis tengah membawa bakul. Gadis itu sangat cantik, tubuh sintalnya dibalut dengan kain kebaya menarik perhatian Bari dan Ujang. Mereka mencegat gadis itu.

“Mau kemana neng.” Ujar Bari dengan nafas yang bau minuman keras.

“Mau pulang kang, maaf saya permisi.” Gadis itu mencoba pergi, tetapi Ujang menarik tanganya. “Buru-buru amat neng, sini dulu temenin akang.” “Maaf kang, saya Harus nganterin ini.” gadis itu menunjuk bakul yang ia bawa.

“Emang bawa apa sih neng?”. Bari membuka kain penutup bakul itu. Ketika Bari membuka penutup bakul itu, seketika kesadaran Bari kembali. Ternyata bakul itu berisi kepala Tuan Rojak yang sudah putus dan berlumuran darah. Bari dan Ujang kaget dan terpelanting.

“Kenapa Bari? Kamu takut?” suara gadis itu memanggil Bari. Begitu Ujang dan Bari menoleh, ternyata gadis yang membawa bakul itu adalah Imah. Bari dan Ujang dapat mengenalinya dari wajah yang membiru, dan kebaya yang berlumuran darah. Persis seperti ketika mereka membuang mayat Imah.

“Sekarang Giliran kalian.” Imah menatap tajam ke arah Bari dan Ujang, ia tertawa kecil.

Ujang lari sekencang-kencangnya, meninggalkan Bari. Bari hanya bisa diam.

“Ampun Imah, Ampun.” Belum sempat meneruskan kata-katanya, tangan dingin Imah dengan mengangkat kepala Bari, dan membenturkannya dengan kencang ke atas tanah yang keras. Seketika darah mengalir dari bagian belakang kepala Bari yang remuk akibat benturan yang keras, Bari meregang nyawa saat itu juga.

Ujang terus saja berlari, ia mencoba mencari pertolongan. Tiba-tiba Ujang berhenti, di ujung jalan tepat dihadapannya  Ujang melihat sosok Imah berjalan pincang menuju ke arahnya. Walaupun pincang, sosok Imah berjalan dengan cepat. Menembus kabut malam.

“Mau kemana kang Ujang.” Suara bisikan Imah memecah dingin malam.

Ujang sangat ketakutan, efek minuman keras yang ia minum seakan hilang menguap akibat darahnya yang mendidih oleh ketakutan. Ujang segera berbalik arah, namun saat ia berbalik Imah sudah mencegatnya tepat dihadapannya.

“Ampun Mah, Ampun.” Ujang memohon.

Tapi sosok Imah tidak bergeming, Imah menggeram dan menyeringai. Tanpa basa basi, sosok Imah mencekik Ujang dan mengangkatnya ke udara. Dengan bengis Imah melempar Ujang ke arah hutan bambu, hingga tubuh Ujang terjun bebas ke tanah. Menimpa sebuah pohon dengan batang yang sudah patah, batang bambu itu menancap dan menembus dada Ujang. Darah menyembur dari mulut Ujang, begitu pula dadanya. Ujang akhirnya menyusul Bari.

Keesokan paginya desa Sukasari geger dengan penemuan mayat Bari dan Ujang di jalan desa, begitupun di rumah mewah milik tuan Rojak. Tuan Rojak ditemukan bersimbah darah di tempat tidurnya dengan kepala yang sudah hilang, sang istri kaget saat bangun tidur dan menemukan suaminya sudah mati dengan kepala yang hilang. Bagaimana isteri yang tidur disebelahnya bisa tidak tahu. Kecurigaan tentang kematian Bari, Ujang, dan tuan Rojak  yang terjadi secara bersamaan menyabar di kalangan warga desa. Beberapa warga percaya bahwa sosok wanita mirip Imah lah yang melakukan, tetapi warga lainnya berpikir mereka mati dibunuh genderuwo.

Desas desus kematian itu akhirnya sampai ketelinga tuan Madi, dan Kosim. Mereka mulai tidak tenang, mereka tahu bahwa sosok Imah kembali untuk memburu mereka. tetapi mereka tetap saja menyangkal, rasional mereka mengatakan ada seseorang yang tahu kejadian itu dan mencoba menakut-nakuti mereka. tuan Madi, dan Kosim memperketat penjagaan rumah mereka. mereka menyewa banyak centeng untuk menjaga rumah mereka, dan membunuh siapapun yang coba masuk ke dalam rumah mereka.

Setelah kematian Ujang, Bari, dan tuan Rojak. Suasana desa Sukasari semakin mencekam, tidak ada warga yang berani keluar pada malam hari. Mereka takut bertemu sosok wanita yang mirip Imah, dan menjadi korban berikutnya. Tetapi sebagian warga semakin curiga akan hilangnya Imah dan keluarga, mereka curiga ada hubungannya dengan peristiwa kematian itu.

Fendi duduk di bagian depan bus, pagi ini ia memutuskan untuk pulang. Uang sudah tidak ia khawatirkan, ia sudah sangat rindu dengan Imah. Ia pun ingin membuktikan bahwa perasaan tidak enaknya hanyalah perasaan kosong. Pagi itu bus yang ditumpangi Fendi mulai meninggalkan kota.

Hari itu di desa Sukasari, tuan Madi sedang melaksanakan pernikahannya yang ke 5 dengan seorang gadis berumur 16 tahun. Keluarga si gadis tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan anak mereka, atau keluarga mereka akan dibunuh. Tuan Madi terlihat sangat senang dengan mainan barunya.

Malam harinya, tuan Madi sedang bersama istri ke limanya di kamar. Ini adalah malam pertama mereka.

“Coba kau ambilkan minyak, dan pijit tubuhku.” Perintah tuan Madi kepada istrinya yang masih terisak di atas tempat tidurnya. Istrinya yang masih muda itu beranjak keluar kamar untuk mengambil minyak gosok, kemudian kembali ke kamar. Tetapi ketika ingin masuk ke dalam kamar, tiba-tiba sosok wanita dengan kebaya yang berlumuran darah mencegat istri tuan Madi. Wanita itu menggeram, menatap istri tuan Madi yang ketakutan.

“Pergilah dari sini, temui orang tuamu, dan jangan kembali lagi.” Sosok wanita itu berbicara lirih. Istri tuan Madi langsung lari ketakutan.

Pintu kamar tuan Madi terbuka dengan sendirinya, angin dingin menyergap ke dalam kamar. Tuan madi sudah terbaring tengkurap di tempat tidurnya.

“cepet pijit. Lama banget, nanti saya pukul kamu.” Bentak tuan Madi tanpa menoleh.

Sosok wanita itu berjalan picang menuju tempat tidur, lalu menindih tubuh tuan Madi. Tangan dinginnya mulai menyelusuri punggung tuan Madi, tuan Madi agak kaget dengan tangan dingin sosok itu. Tetapi kemudian ia diam. Tangan dingin dengan kuku panjang itu terus menyelusuri punggung tuan Madi. Birahi tuan Madi mulai naik, ia rasa sekarang sudah waktunya menggauli istri barunya.

“sekarang waktunya kamu melayani saya.” Tuan Madi membalikan tubuhnya, tetapi kemudian ia tersentak karena yang minindih tubuhnya bukan istrinya. Melainkan sosok Imah. Rambut panjangnya terurai ke bawah, darah dari kebaya yang ia kenakan menetes ke tubuh tuan Madi. Tubuh tuan Madi gemetaran, ia tidak dapat berkata-kata. Wanita yang sudah mati dan dibuang ke hutan sekarang ada di hadapannya.

“Kenapa tuan? Bukankah tuan senang dengan saya?” sosok Imah menggeram.

Tuan Madi belum sempat mengatakan sesuatu saat tangan Imah menancap tepat di perut tuan Madi, kuku-kuku tajamnya merobek kulit tuan Madi bagai pisau bermata tajam. Tuan Madi berteriak tak tertahan, ia meremas sprei tempat tidurnya amat keras.

“Sudah waktunya tuan menyusul tuan Rojak.” Lirih Imah.

Tangan Imah masih saja mengaduk-ngaduk perut tuan Madi, hingga akhirnya tangan Imah menarik semua isi perut tuan Madi. Hingga ususnya terburai, tuan Madi meregang nyawa. Seketika itu sosok Imah melayang ke langit-langit dan menghilang, diiringi suara tawa cekikikan.

Malam itu ditempat yang berbeda, Fendi baru saja sampai di desa. Tetapi hatinya remuk saat mendengar bahwa Imah dan keluarganya hilang, tidak ada yang tahu mereka dimana. Ditambah kematian kedua sahabatnya Ujang dan Bari, sedih dan bingung bercampur di dalam hatinya.

Tiba-tiba sebuah teriakan pecah, dan membuat kaget seisi desa. Istri muda tuan Madi berteriak, dan mengatakan bahwa ia bertemu Imah di rumah tuan Madi. Warga tersentak kaget, beberapa diantara mereka tidak percaya. Fendi yang mendengar itu langsung bergegas pergi ke rumah tuan Madi, bersama warga desa lainnya. Ketika sampai di rumah tuan Madi, Fendi dan warga yang lainnya tersentak melihat tuan Madi yang sudah tak bernyawa dengan perut yang sudah terburai, bau busuk menyengat dari dalam kamar. Warga pun segera menutupi mayat tuan Madi. Istri muda tuan Madi mengatakan bahwa ia melihat imah dengan baju yang berdarah-darah, dan Imah menyuruh dia pulang.

Fendi dan warga kaget, mereka tidak percaya. Bukankah Imah hilang dari beberapa minggu yang lalu. Ditengah kebingungan itu, istri pertama tuan Madi yang bernama Darsih membuka suara. Sambil menangis Darsih bercerita tentang rencana jahat suami dan teman-temannya terhadap Imah, bahkan malam itu Darsih pun menjadi saksi mata bagaimana kebiadapan tuan Madi, Rojak, Kosim memperkosa Imah. Juga bagaimana Ujang dan Bari membuang mayat Imah. Ia diam karena takut akan dibunuh suaminya apa bila membongkar peristiwa itu.

Begitu mendengar keterlibatan Ujang dan Bari yang merupakan sahabatnya semenjak kecil, Fendi sangat terpukul. Bagaimana orang yang selama ini ia percayai malah menjadi dalang rencana jahat para tuan tanah.

“Imah pasti menuntut balas, kepada orang-orang yang membunuh orang tuanya dan memperkosanya.” Ujar Darsih sambil menahan tangis.

Tuan Kosim! Seketika nama itu terlintas dipikiran Fendi, hanya tuan Kosim yang masih hidup. Pasti arwah Imah ada disana, Fendi pun berlari menuju rumah tuan Kosim. Fendi berlari sekencang mungkin.

Di rumahnya tuan Kosim tengah tertidur lelap, malam itu istri tuan Kosim pergi. Saat sedang terlelap, tiba-tiba tuan Kosim merasa tubuhnya sesak. Semakin lama semakin sulit bernafas, saat tuan Kosim membuka mata betapa kagetnya ia saat menemukan Imah sedang menindih tubuhnya. tuan Kosim berusaha memberontak, tetapi ia tidak bisa bangun. Keringat mulai membanjiri tubuhnya.

“Mau kemana tuan, apakah tuan tidak merindukan teman-teman dan anak buah tuan?”

“le..lepaskan saya Imah. Kamu sudah mati, kamu tidak bisa berbuat apa-apa.”

Arwah Imah hanya diam, kemudian ia tertawa cekikikan.

“Sudah Waktunya tuan Ikut saya.”

Tangan Imah merengsek masuk ke dalam leher tuan Kosim, dan meremasnya dengan amat kuat. Tuan Kosim kesulitan bernafas, tubuhnya meronta dan tangannya menggapai-gapai ke udara. Cengkraman tangan Imah semakin kuat, kuku-kuku tajamnya mulai menusuk ke dalam leher tuan Kosim. Tuan Kosim terbatuk-batuk karena darah yang keluar dari mulutnya, ia tidak dapat bicara.

Tangan dingin Imah semakin kencang mencekik leher tuan Kosim, darah mengalir dari kulit leher tuan Kosim saat kuku Imah menembus batang tenggorokannya. Karena sudah tidak kuat menahan tekanan, tulang leher tuan Kosim patah. Tuan Kosim meregang nyawa ditangan Imah.

“Cukup Imah. Cukup !”. suara Fendi memecah keheningan kamar, air matanya mengalir saat melihat Imah kekasih yang ia cintai sudah berubah jadi mahluk yang menyeramkan. Saat melihat Fendi berada di ruangan itu, cengkraman Imah terlepas. Raut wajah Imah berubah menjadi sangat pilu.

“Maafkan akang Imah, akang tidak dapat menjagamu.” Lirih Fendi.

Mata Imah berkaca-kaca menatap Fendi, ada kerinduan besar di dalamnya.

“Ini bukan salah akang, tetapi manusia-manusia biadap inilah yang harus disalahkan. Mereka tidak ubahnya seekor binatang dengan nafsu dan ketamakan. Mereka harus menerima karma atas pembuatan mereka.”

“Akang tahu Imah, tetapi sudah cukup. mereka sudah mendapatkan balasan yang pantas.”

“Semua ini belum berakhir kang. Aku akan terus memburu manusia-manusia biadap, manusia-manusia yang bernafsu setan. Sampaikan pada manusia-manusia biadap itu, mereka akan mendapat ganjaran dari perbuatan mereka.”

“Baiklah Imah, sekarang waktunya kamu pergi. Istirahatlah dengan tenang di alammu.” Ucap Fendi dengan suara parau.

“Selamat tinggal kang.” Ucap Imah, air mata menetes dari matanya. Luka di hatinya kembali terasa perih, ia harus kehilangan Fendi yang sangat ia cintai. Begitupun yang di rasakan Fendi, hatinya tak kalah hancur karena kehilangan Imah. Gadis ramah dan sederhana yang telah mengisi hatinya.

Perlahan-lahan sosok Imah mulai memudar, dan hilang dari hadapan Fendi. Malam itu dua orang kekasih yang saling mencintai harus terampas oleh nafsu dan ketamakan, cinta suci mereka terkotori oleh pengkhianatan. Tetapi akan ada pembalasan di setiap kejahatan, akan ada harga yang mahal yang harus dibayarkan.

Mayat Imah dan orang tuanya ditemukan di jurang pembatas desa, dan dikuburkan secara layak oleh warga desa. Fendi tidak henti-hentinya berdoa di pusara Imah, mengharap agar Imah diterima di sisi Tuhan.

“Mau kemana neng malem-malem gini. Temenin kita dulu lah.” Ujar dua orang pemuda yang sedang mabuk kepada seorang gadis yang sedang lewat.

“Saya mau nganterin ini kang.” Gadis itu menunjukan bakul yang dibawanya.

“neng namanya siapa? Boleh dong kenalan.” Ujar pemuda yang lain seraya mencolek wajah gadis itu. Gadis itu hanya diam, ia menundukan kepalanya. Lalu beberapa menit kemudian gadis itu menganggkat wajahnya seraya berkata:

“Nama saya Imah kang.” Gadis menyeringai.

*diambil dari @kisahhorror/ kisahhorror.tumblr.com*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s