[Tere Liye] Pelangi Hatiku bagian 2; Pukat, serial anak2 Mamak #3

Bab 4. Pelangi Hatiku bagian 2

Hujan deras membasuh kampung.

Tidak seperti yang lain, aku tidak semangat menyambut lonceng pulang. Teman-teman sibuk membereskan buku, menyandang tas, mengeluarkan payung warna-warni, melangkah keluar ruangan, lantas beramai-ramai menerobos hujan. Aku hanya melangkah gontai, di depan kelas Burlian sudah menunggu, menyeringai menatapku.

“Kalian tidak bawa payung, Pukat, Burlian?” Pak Bin menyapa di lorong kelas.

Kami menggeleng. Kompak memasang wajah, kasihanilah kami.

“Sayangnya, payung yang Bapak bawa terlampau kecil untuk bertiga. Semoga hujannya lekas reda. Salam hangat buat Bapak-Mamak kalian.” Pak Bin berjalan pelan membelah berjuta larik air.

Aku melongokkan kepala ke dalam kelas. Masih ada beberapa anak yang bergegas mengemasi buku. Raja mengeluarkan payungnya. Besar sekali. Aku tertawa, kalau sebesar ini, aku dan Burlian bisa ikut menumpang pulang, hendak mendekatinya. Urung, dia justeru melotot galak saat melihatku. Aku nyengir, sepertinya Raja masih marah soal ‘puisi cinta’ tadi pagi.

Memang aku yang mengumpulkan puisi itu. Pagi-pagi saat memergoki dia di meja Saleha, aku penasaran memeriksa laci meja itu. Menemukan selembar kertas yang terlipat rapi. Membaca tulisannya, aku tertawa, akhirnya tahu kenapa Raja selama ini selalu kikuk dan selalu malu-malu mengangkat wajahnya setiap kali mengerjakan tugas bersama Saleha. Oi, untuk si tukang jahil, suka tipu-tipu, dan sering menggampangkan masalah, fakta dia telah membuat puisi seaneh ini membuatku tidak kuat untuk menjahilinya. Maka kertas puisi yang sengaja kusita itu, kukumpulkan kepada Pak Bin. Aku tidak menduga kalau Pak Bin bahkan membacakannya, membuat seluruh kelas jadi tahu.

Aku celingukan mencari kawan yang masih tersisa—dan membawa payung. Sial, ruangan kelasku hanya menyisakan Raja. Menoleh ke lorong sekolah, di sana berdiri Saleha. Sepertinya dia juga lupa membawa payung. Nah, situasinya sekarang menjadi menarik. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Burlian di sebelahku santai memainkan air jatuh dari genteng. Membuat cipratan.

“Kita taruhan.“ Aku menyikut lengan Burlian.

“Kata Mamak kita tidak boleh taruhan. Itu haram, Kak.” Burlian tanpa merasa perlu menoleh, menjawab ringan, tetap asyik memainkan air.

“Kakak juga tahu itu.” Aku mendengus pelan, sebal dengan tanggapan Burlian, “Maksud kakak, kita main tebak-tebakan.”

“Tebak-tebakan apa?” Burlian mengangkat kepalanya, tertarik.

“Menurut kau, apakah Raja akan mengajak Saleha pulang menumpang payungnya atau tidak?” Aku menunjuk Raja yang sekarang melangkah di lorong sekolah.

“Apa serunya?” Burlian yang tidak mengerti menatapku.

“Ini seru, tahu!” Aku tertawa, “Kau tebak sajalah, diajak atau tidak.”

Burlian mengibaskan tangannya. Berpikir sejenak. Menggeleng.

“Kau keliru, dia pasti akan mengajak Saleha.” Aku berkata mantap.

“Ah, kalau kita saja tidak diajak menumpang, apalagi Saleha. Bukankah selama ini Raja tidak suka anak perempuan?” Burlian memainkan tangannya lagi di pancuran air, tidak peduli.

“Kau lihat saja.” Aku menunjuk yakin ke depan.

Di sana, Raja tinggal lima langkah di belakang Saleha. Jalannya melambat sejak keluar kelas. Dia pasti sedang bimbang. Selama ini saja dia kikuk menyapa, apalagi dengan kejadian tadi pagi.

Tinggal dua langkah, Raja patah-patah mengembangkan payung warna-warni-nya. Aku tidak sabaran menyeringai, membiarkan wajahku basah terkena cipratan air dari genteng.

“Ayo diajak…. Ayo diajak….” Aku berbisik.

“Tinggalkan saja. Tinggalkan!” Burlian membaca mantra sebaliknya.

Sudah sejajar. Langkah kaki Raja terhenti sebentar. Menoleh ke sebelahnya, Saleha, yang ditoleh tetap menatap lurus ke depan, ke arah halaman sekolah yang dibasuh hujan deras. Menganggap Raja tidak ada di sampingnya.

“Ayo, diajak, Kawan.” Aku mendesis, menyemangati.

“Tinggalkan saja. Tinggalkan saja.”

Lima belas detik berlalu. Lima belas detik yang membuatku gemas—apa susahnya sih mengajak anak perempuan satu payung? Ternyata Raja terus melangkah, patah-patah mengangkat payungnya, menembus hujan, berjalan meninggalkan Saleha. Aku menepuk jidat kecewa.

PTAK!! Burlian sudah loncat menjitak kepalaku.

“Oi, apa yang kau lakukan?” Aku melotot.

“Kakak kalah taruhan, kan? Seperti biasa, yang kalah dijitak.” Burlian mengangkat bahu, memasang wajah tidak berdosanya.

Aku melotot. Sial, bukankah dia yang bilang tidak boleh taruhan tadi. Enak saja tiba-tiba merubah kesapakatan, aku mengangkat tangan, berusaha balas menjitaknya. Burlian sudah lari ke ujung lorong. Aku mengejarnya, dia terdesak di dekat Saleha berdiri, hujan membuat Burlian tidak bisa kemana-mana. Tangan-tangan kami bergulat, Burlian tertawa, melawan. Kami tidak peduli Saleha yang menonton dengan wajah bingung. Kami asyik saling piting, saling dorong ke halaman sekolah.

“Eh, eh, ada yang datang—“ Burlian berseru.

Aku menghentikan gerakan tangan, menoleh ke depan. Benar, dari balik tirai jutaan butir hujan ada sosok dengan payung besar kembali mendekat.

“Lihat, Ayuk Eli menjemput kita.”

Puh, aku mendengus, menepiskan tangan. Tidak mungkin Ayuk Eli mau menjemput, itu bakal jadi keajaiban dunia ke-8. Mamak juga tidak mungkin, pasti sibuk mengurus apalah di rumah. Tetapi siapa yang mau-maunya datang? Karena hanya kami bertiga yang masih ada di sekolahan, mungkin Bu Bidan yang menjemput Saleha. Itu lebih masuk akal.

Sosok itu semakin dekat, siluet bayangannya semakin jelas, payung warna-warni, seragam putih-merah. Ternyata itu Raja yang kembali.

“Kauma-upul-angmenu-mpangpay-ungku—“

“Apa?” Saleha mengangkat kepalanya. Tidak mengerti

“Kau… kau mau?”

Saleha tetap  tidak mengerti.

“Kau mau menumpang payungku?” Raja menelan ludah, akhirnya berhasil menegarkan diri, lantas mengulang kalimatnya lebih jelas.

Saleha terlihat berpikir sejenak, wajahnya bersemu merah. Menoleh kepadaku dan Burlian yang sudah seperti patung saja, tangan-tangan berhenti saling memiting, menatap dengan wajah ingin tahu dalam posisi tidak bergerak. Saleha menoleh lagi kepada Raja, diam lagi sebentar, lantas perlahan mengangguk. Oi, meski hujan membuat halaman sekolah remang, aku sekilas bisa melihat rona pelangi di muka Raja. Senyum riangnya—meski terlihat lebih mirip seringai kuda.

Mereka berdua berjalan menembus jutaan bulir air.

PTAK! PTAK!!

Aku sudah menjitak kepala Burlian dua kali.

“Oi, kenapa Kakak menjitakku?”

“Kau kalah taruhan, kan? Lihat, Raja mengajak Saleha.”

“Tetapi kenapa Kakak menjitak dua kali?”

“Satu lagi untuk balasan kau menjitakku tadi.” Aku tertawa, bergegas menyelamatkan diri, lari ke ujung lorong satunya. Burlian mengejarku dengan wajah penuh nafsu pembalasan.

***

Mamak mengomel saat kami akhirnya tiba di rumah.

“Kalian lihat jam berapa sekarang, hah?” Mamak melotot, membuat aku dan Burlian tertunduk, “Apa susahnya menggunakan otak…. Digunakan buat berpikir, bukan cuma hiasan kepala…. Aku memang bilang kalian tidak boleh pulang sebelum hujan reda, tapi bukan berarti kalian harus menunggu hingga Maghrib.”

Bapak yang sedang membereskan peralatan perbaikan jala ikan ber-hsss menyuruh Mamak berhenti berseru-seru, “Burlian, Pukat, kalian bergegas mandi, berganti pakaian. Ayo, kalian ditunggu…. Eli, Amelia, kalian sudah wudhu? Kita shalat jamaah di rumah.”

Ayuk Eli dan Amelia yang menonton kami diomeli Mamak segera balik-kanan, melangkah ke sumur belakang. Aku dan Burlian tanpa perlu disuruh dua kali, sudah buru-buru menyingkir.

Syukurlah selepas shalat maghrib, wajah bersungut-sungut Mamak sudah kembali normal. Di atas meja makan terhidang menu spesial, udang besar yang dilumuri dengan bumbu pedas. Setelah tadi pagi hanya sarapan nasi dan kecap asin, tadi siang tidak makan karena menunggu hujan reda, aku meneguk liur tidak sabaran menunggu jadwal makan malam tiba.

Lepas Isya suara sendok dan piring memenuhi langit-langit dapur. Makan malam bersama yang menyenangkan. Mamak dan Bapak sambil makan berbincang tentang kebutuhan pupuk ladang kami. Bilang sepertinya tahun ini tidak seluruh ladang bisa diberikan pupuk. Harga-harga sedang mahal. Beras mahal, garam mahal, gula mahal, kebutuhan rumah tangga mahal. Aku tidak terlalu mendengarkan, sibuk dengan piringku.

“Mak, pacaran itu apa?” Amelia tiba-tiba bertanya.

Pertanyaan yang membuat Mamak seperti tersedak, menoleh ke tempat duduk Amelia. “Kau bertanya apa tadi?” Memastikan kupingnya tidak salah dengar.

“Tadi di sekolah, teman-teman sekelas bilang kalau Raja dan Saleha pacaran. Memangnya pacaran itu apa, Mak?” Amelia yang masih kelas tiga, mengulang pertanyaan sambil mengunyah sayur bayam.

Suapanku juga terhenti. Oi, nampaknya bahkan anak kelas tiga saja tahu tentang ‘puisi cinta’ Raja tadi pagi. Cepat sekali bisik-bisik itu menyebar.

“Kau masih terlalu kecil untuk bertanya soal pacaran, Amel.” Mamak melambaikan tangan, menyuruh Amelia meneruskan makan.

“Memangnya pacaran itu apa, Mak?” Burlian ikutan bertanya.

Mamak menoleh, “Kau juga masih terlalu kecil untuk bertanya soal pacaran.”

Bapak tertawa melihat wajah Burlian, terlipat sebal.

“Dulu, Mamak dan Bapak sempat pacaran tidak?” Tapi Mamak tidak bisa menahan gelombang topik pembicaraan ini, sekarang Ayuk Eli yang bertanya, yang cukup besar dibanding kami semua.

Mamak melotot kepada Ayuk Eli, “Kenapa kalian tiba-tiba tertarik soal ini?”

Kami tertawa satu sama lain. Sambil merekahkan cangkang udang di piring, aku berbaik-hati menceritakan kejadian tadi pagi di sekolahan.

“Mereka pulang sepayung berdua—“ Burlian menambah-nambahi.

Membuat meja makan ramai oleh tawa lagi.

“Ah, itu cuma cinta monyet, tidak lebih tidak kurang. Besok lusa juga sudah biasa-biasa saja.” Mamak berkomentar pendek atas cerita panjang-lebarku.

“Cinta monyet itu apa, Mak?” Amelia bertanya.

Mamak terdiam sebentar, menyadari kalau dia barusaja memperumit situasi, memperbaiki tudung di kepala, “Cinta itu artinya ketika kau menyukai anak laki-laki yang lebih dari sekadar teman, Amelia. Susah Mamak menjelaskan bagaimana rasa suka itu, yang pasti kau merasa selalu senang melihatnya, ingin selalu bersamanya. Itu biasanya dialami orang dewasa yang sudah mengerti, kalau anak-anak seperti Raja dan Saleha, maka itu disebut cinta monyet, cinta bohong-bohongan—”

“Tapi puisi cinta Raja hebat sekali, Mak. Bagaimana mungkin itu sekadar bohong-bohongan.” Aku membantah.

“Tetap saja itu puisi anak-anak.” Mamak melambaikan tangan. “Oi, kalian tidak boleh pacaran. Kalian seharusnya lebih banyak belajar dan belajar. Astaga, anak sekarang, masih SD sudah bisa bicara tentang cinta seperti bicara soal main layang-layangan saja. Ayo, bergegas selesaikan makan kalian.”

“Mak, dulu kapan Bapak pertama kali bilang perasaan cintanya kepada Mamak?” Ayuk Eli yang biasanya kompak dengan Mamak, entah kenapa tiba-tiba semangat sekali membahasnya.

“Oi, bukan Bapak yang pertama kali bilang. Mamak kau-lah yang bilang duluan.” Bapak yang tadi hanya menyeringai mendengar pembicaraan menyela, tertawa lebar.

“Enak saja. Bapak kau yang mengejar-ngejar Mamak. Sudah diusir berkali-kali oleh Kakek kau, tetap saja datang ke rumah.” Mamak dengan cepat membantah. Melotot kepada Bapak, menyuruhnya berganti topik pembicaraan.

Meski di luar hujan deras kembali turun membungkus kampung, angin lembah menambah dingin udara, langit-langit dapur terasa lebih hangat, meja makan sekarang dipenuhi oleh rajukan-rajukan Ayuk Eli, Burlian dan Amelia agar Mamak mau bercerita lebih banyak.

***

“Selamat pagi, semua.”

“Pagi, Pak”

“Baik, mari kita lihat ‘buku sakti’ terlebih dahulu.” Pak Bin berkelakar, mengeluarkan buku absensi dari tas kusamnya. Kami duduk rapi di meja masing-masing.

Jumlah murid kelas lima hanya lima belas. Pak Bin tidak pernah meng-absensi kami satu-persatu, dia cukup memperhatikan meja-meja. Bertanya jika melihat ada meja yang kosong, dan langsung menutup buku absen jika semua lengkap.

“Bukan main. Menurut catatan ‘buku sakti’ kita, hari ini ternyata amat spesial.” Pak Bin tertawa kecil, “Kalau begitu, kita harus merayakannya. Pukat, kau bisa ambil kotak makanan di ruang guru?”

Walau belum mengerti, aku tetap mengangguk, dengan cepat loncat dari kursi. Berlarian ke ruang guru; dalam hitungan detik sudah kembali ke kelas, membawa kantong plastik besar.

“Kuenya tidak seberapa, tapi pasti lezat rasanya. Ini spesial dibuat istriku, untuk perayaan kita hari ini.” Pak Bin membuka kantong, aroma kue bolu langsung menguar. Kami berseru-seru senang.

“Jangan berebut, semua ada lima belas potong, masing-masing pasti kebagian.” Pak Bin tertawa, menghalau teman-teman yang merangsek ke depan.

Adalah lima menit ruang kelas dipenuhi dengan percakapan riang sambil mengunyah bolu. Pak Bin memang istimewa, meski dia terkadang harus mengurus tiga kelas secara bersamaan—karena kurangnya guru di sekolah kami, meski terkadang harus mengeluarkan uang sendiri untuk peralatan belajar kami, dia tidak pernah terlihat mengeluh.

Dua puluh lima tahun Pak Bin menjadi guru di sekolah, hampir seluruh anak-anak kampung hingga orang dewasa pernah menjadi murid Pak Bin. Pengabdian yang panjang, dan dia melakukannya dengan senang hati. Dia senantiasa menyuruh kami jangan pernah berhenti percaya, sekolah akan menjadi jalan masa depan yang lebih baik bagi kami. Hanya dua hal yang tidak kami sukai dari Pak Bin, disiplin dan PR-PR-nya. (beberapa kisah Pak Bin bisa dibaca di buku 1, ‘Burlian’)

“Kita sebenarnya merayakan apa, Pak?” Hariman yang sudah menghabiskan potongan terakhir kue bolu di tangannya bertanya.

“Oi, terima-kasih kau sudah bertanya. Tadinya Bapak pikir kalian hanya tertarik menghabiskan kue-nya saja.” Pak Bin tertawa kecil, “Baiklah, kalian harus berterima-kasih kepada Raja atas kue-kue ini. Karena hari ini, kita merayakan dua bulan penuh Raja tidak pernah absen lagi, dia selalu datang tepat waktu. Hebat bukan? Tidak ada lagi surat-surat palsu, bilang sakit panu-lah, sakit perut-lah, tidak ada lagi bolos sekolah. Jadi semua mari berikan tepuk-tangan buat Raja.”

Seluruh kelas ramai oleh suara tepuk-tangan (dan juga tawa). Muka Raja memerah.

“Tentu saja Raja akan selalu datang ke sekolah, Pak.” Hariman mulai memancing situasi.

Pak Bin melambaikan tangan, menyuruhnya diam. Meski Pak Bin sendiri tergoda untuk bergurau, dia belakangan berusaha menahan diri. Sejak kejadian puisi cinta sebulan lalu, hampir tiap hari Raja diolok-olok teman sekelas dan sesekolahan. Kabar-baiknya Raja hanya menanggapi dengan muka jengah, salah-tingkah dan mendengus sebal. Kabar buruknya ada di Saleha. Ia sempat tidak masuk tiga hari karena malu terus-menerus digoda. Ibunya sampai harus mengantar ke sekolahan.

Selepas tiga hari Saleha absen, teman-teman akhirnya terbiasa. Keseringan jadi bahan olok-olok, jadi tidak seru lagi. Hanya sekali-dua terlontarkan, itupun karena terpancing situasi.

Seperti minggu lalu, lagi-lagi saat pelajaran Bahasa Indonesia. Kali itu Pak Bin tidak membahas soal puisi cinta. Puisi-puisi itu sudah dikirimkan ke Majalah Kuncung, kami tinggal menunggu apakah ada salah-satu puisi yang dimuat. Pak Bin minggu lalu membahas tentang ‘pasangan kata’. Sinonim dan antonim. Menjelaskan panjang lebar tentang betapa kayanya kosa-kata Bahasa Indonesia. Lantas melatih kami satu-persatu menyebutkan ‘pasangan kata’, dimulai dari antonim.

“Kalau ‘tinggi’ berpasangan dengan ‘rendah’, maka ‘dangkal’ berpasangan dengan?” Pak Bin menunjuk Hariman.

“Dalam, Pak.”

“Bagus, kau lanjutkan, Hariman.”

“Kalau ‘dangkal’ berpasangan dengan ‘dalam’, maka ‘longgar’ berpasangan dengan?” Hariman berdiri menunjuk salah satu teman di depannya.

“Sempit.” Teman yang ditunjuk menjawab cepat, lantas melanjutkan, “Kalau ‘longgar berpasangan dengan ‘sempit’, maka ‘siang’ berpasangan dengan?” Sambil menunjuk teman yang lain.

Begitu seterusnya, rantai permainan pasangan kata itu berjalan. Pak Bin selalu saja pandai membuat pelajaran dilakukan dengan cara menyenangkan. Hingga akhirnya tiba kepadaku.

“Kalau ‘baik’ berpasangan dengan ‘jahat’, maka ‘salehah’ berpasangan dengan?” Aku menyeringai lebar, menunjuk Raja yang duduk di sebelahku.

“Raja.” Temanku yang sejak kelas satu selalu semeja dengaku itu menjawab polos. Reflek. Membuat seluruh kelas terbahak. Bahkan Pak Bin menyeka matanya. Muka Raja dan Saleha merah padam.

Sekali-dua jika situasinya tepat, menggoda Raja dan Saleha amat menyenangkan. Tetapi tidak untuk hari ini, Pak Bin segera mengetuk mejanya, menyuruh kami kembali duduk rapi. Menyuruh kami segera membuka buku latihan Matematika. Seminggu lagi ulangan Cawu, ada yang lebih penting diurus, Pak Bin melatih kami mengerjakan soal-soal latihan.

Sayangnya kisah cinta Raja-Saleha berakhir sedih.

Aku ingat sekali hari itu, bukan karena Pak Bin telah menyebutnya sebagai hari spesial, tetapi karena hari itu pula semua kisah asmara Raja berakhir. Setelah dua bulan musim penghujan yang basah penuh cinta, setelah dua minggu terakhir Raja dan Saleha terlihat berdua kemana-mana—tentu saja dalam pengertian cinta monyet anak kelas lima SD, tidak terlalu malu-malu lagi; setelah teman-teman terbiasa melihatnya, dan tentu saja setelah aku banyak tahu apa itu cinta dan sebagainya dari penjelasan Mamak setiap kali makan malam dan Ayuk Eli memaksa menceritakan masa lalu kisah cinta Mamak dan Bapak. Kisah cinta monyet Raja selesai begitu saja.

“Ada yang bersedia mengerjakan soal nomor sembilan di papan tulis?” Pak Bin menyapu seluruh kelas, teman-teman saling lirik.

Raja sudah mantap mengacungkan tangannya.

“Ya, kau kerjakan.” Pak Bin mengangguk.

Raja loncat dari bangku kayu, mengambil kapur, mulai menulis jawaban. Seluruh kelas menyimak, itu terhitung soal yang sulit, aku juga belum berhasil menyelesaikannya. Raja terhenti sebentar, menghapus satu baris jawabannya, mengulanginya lagi. Terhenti lagi sebentar, menggaruk kepalanya, bercak putih kapur menempel di rambut.

“Kau kesulitan?” Pak Bin bertanya.

Raja menggeleng, dia bisa menyelesaikannya, tidak perlu dibantu. Raja menghapus jawabannya, mengulanginya sekali lagi. Lima menit berlalu, akhirnya selesai. Menoleh ke arah Pak Bin, apakah benar?

“Benar. Tidak sulit bukan?” Pak Bin mengangguk.

Raja duduk kembali di sebelahku, tersenyum senang. Aku menelan ludah, harus kuakui, belakangan otak tumpul Raja terlihat lebih bersinar cemerlang. Mungkin dia semangat berlatih di rumah. Bukankah Pak Bin pernah bilang, Matematika itu hanya tentang ‘latihan’, siapa yang terlatih, maka dia bisa mengerjakan soal apa saja.

“Nomor sepuluh. Ada yang bersedia mengerjakannya?”

Beberapa anak mengacungkan tangan, yang satu ini lebih mudah.

“Saleha, ya, kau kerjakan di depan.”

Saleha menyibak poni yang menutupi dahi, mengambil kapur dari meja Pak Bin, menuju papan tulis hitam. Seluruh kelas menyimak tangannya menggurat angka-angka jawaban.

Oi, baru beberapa detik Saleha berdiri membelakangi kami, teman-teman mulai berbisik satu sama lain, seperti suara dengung lebah.

“Ada apa?” Pak Bin yang menghadap ke arah kami, bertanya, melepas kaca mata kusam. Sementara Saleha di belakangnya masih konsentrasi penuh dengan perhitungan.

“Bercak, Pak.” Hariman berseru, “Ada noda bercak di rok Saleha.”

Suara ribut teman-teman meninggi, Saleha yang disebut-sebut namanya berusaha membalik badan, berusaha melihat roknya. Pak Bin mendekat.

“Ini apa?” Julai, teman sebangku Saleha berseru tertahan, menunjuk bangku kayu di sebelahnya. Kepala anak-anak segera tertoleh dari rok Saleha ke arah meja Julai.

“Ini darah, Pak.” Julai berseru panik.

“Oi, darah?” Teman-teman terloncat dari bangku, merapat ingin tahu. Di depan Saleha dengan wajah merah bercampur pias berusaha menutupi bagian belakang rok-nya.

Pak Bin melambaikan tangan menyuruh anak-anak tenang kembali, yang disuruh malah sibuk ingin melihat belakang rok Saleha. Pak Bin bergegas menyuruh Saleha membereskan buku dan alat tulisnya, membawanya ke ruang guru. Teman-teman melongokkan kepala keluar jendela, berusaha melihat Saleha yang berjalan sepanjang lorong sambil menutupkan tas di pantat.

Kami sibuk ber-bisik-bisik.

“Itu sungguhan darah?”

“Apa lagi? Kau pikir itu air?”

“Saleha sakit?”

“Sepertinya iya—”

“Seram sekali sakitnya. Sampai darah keluar dari pantat.”

“Katanya semua anak perempuan akan begitu?”

“Oi?”

***

“Itu namanya haid.” Mamak meletakkan sendok makan, menatapku yang bercerita sekaligus bertanya saat makan malam bersama, “Itu bukan penyakit. Normal sekali perempuan mendapatkan haid.”

Ait itu apa, Mak?” Amelia tertarik, ikut bertanya.

“Haid itu darah yang keluar dari rahim perempuan. Itu artinya seorang anak-anak mulai tumbuh dewasa.” Mamak menjawab setelah berpikir sebentar, terlihat benar ia memilih kata-kata terbaik.

Amelia manggut-manggut sok-mengerti.

“Semua anak perempuan akan mengalaminya. Ada yang mendapatkan haid pertama usia sebelas-dua belas tahun, ada yang lebih lambat, ada juga yang lebih cepat. Itu proses alami setiap bulan sekali, sama alamiahnya dengan kalian waktu bayi belajar merangkak, belajar berjalan.”

“Berarti Ayuk Eli sudah pernah ait, Mak?” Amelia nyengir, meraih gelas air minum. Ayuk Eli yang duduk di sebelahnya melotot, wajahnya memerah disebut-sebut dalam percakapan sensitif seperti ini.

“Sudah dua tahun lalu.” Mamak mengangguk, “Berhenti bertanya-tanya, Amel. Suatu saat kau juga akan tahu. Kau habiskan makanannya.” Mamak berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Kalau anak laki-laki kena ait juga tidak, Mak?” Amelia tidak mendengarkan, bertanya lagi, topik pembicaraan ini menimbulkan rasa ingin tahu yang besar baginya.

Gerakan tangan Mamak terhenti, menoleh Bapak.

Bapak tersenyum, “Jawab sajalah. Tidak ada salahnya mereka mendapatkan penjelasan. Tidak seperti jaman kita dulu, yang semuanya tahu setelah mengalaminya sendiri.”

Mamak menghela nafas sebentar, kemudian menjawab pertanyaan Amelia sebaik mungkin. Itu salah satu makan malam terlama, karena lepas satu penjelasan, datang dua-tiga pertanyaan lainnya dari Amelia dan Burlian. “Ait itu sakit tidak, Mak?” Amelia memotong untuk kesekian kalinya. Mamak menelan ludah, masih sabar menanggapi. “Bagaimana kalau darahnya terus keluar, Mak? Apa perlu diplester itu-nya?” Burlian menyela. Mamak mendengus kesal, pertanyaan Burlian jelas mulai ngasal. “Mak, seingatku, selama ini tidak pernah melihat rok Ayuk Eli ada bercak darahnya. Jangan-jangan Ayuk Eli ait-nya setahun sekali? Tidak normal.” Sebenarnya Burlian bertanya polos, tapi Ayuk Eli di seberang meja sudah bersiap menimpuknya dengan mangkok gulai.

“Cukup, cukup.” Bapak tertawa, menarik tangan Ayuk Eli, “Kita lanjutkan lain waktu. Nah, Burlian, Amel, kalian habiskan makan malamnya.”

Aku tidak banyak bertanya seperti Burlian dan Amelia, tetapi aku mencatat semua penjelasan Mamak baik-baik. Jaman itu, bagi anak-anak kampung seperti kami, penjelasan yang dilakukan Mamak terbilang istimewa. Kebanyakan kami menyimpan perubahan fisiknya sendirian. Menyikapinya dengan rasa malu, atau sebaliknya salah tempat bertanya dan malah keliru memahaminya. Dengan segala keterbatasan, tidak banyak orang-tua di kampung yang mengerti betapa pentingnya pendidikan tentang perubahan fisik, mereka justeru tabu membicarakannya. Lebih banyak jengah menjelaskan ke anak-anak.

Lihatlah, esok pagi ketika lonceng masuk berdentang.

“Oi, kau sudah masuk, Saleha?” Hariman bertanya, berlarian melintasi halaman sekolah.

Saleha hanya mengangguk.

“Bukankah kau kemarin sakit parah? Sampai berdarah-darah?”

Saleha kali ini tidak mengangguk atau pun menggeleng.

“Oi, jangan-jangan sakit Saleha menular.” Hariman menyikutku, “Bahaya benar kalau nanti kita juga ikut-ikutan mengeluarkan darah di pantat.”

Aku menahan tawa, menatap kasihan wajah cemas Hariman.

Pak Bin—dengan segala kecanggihan mengajarnya—ternyata memiliki keterbatasan menjelaskan masalah itu. Beberapa anak laki-laki sibuk bertanya saat kelas dimulai, sedangkan wajah anak-anak perempuan bersemu merah seperti Ayuk Eli semalam. Pak Bin meneguk ludah, berpikir keras cara terbaik menerangkannya, dan dia menyerah, hanya bilang ‘kalau sudah besar kalian akan tahu sendiri’. Pak Bin tidak selugas Mamak, dan tidak seterbuka Bapak.

Beruntung, Pak Bin punya ide cemerlang. Hari berikutnya dia mendatangkan Bu Bidan ke sekolah. Anak-anak kelas lima dan enam dikumpulkan di satu ruangan, dan Bu Bidan sambil tersenyum lembut, menjawab banyak pertanyaan anak-anak.

Sepertinya dengan penjelasan lengkap dari Ibu Saleha, urusan ini akan selesai dengan baik. Aku pikir, tidak ada lagi salah-paham dan bumbu-bumbu cerita seperti terowongan misteri kereta dulu. Tidak ada lagi yang akan menyikapinya keliru. Ternyata tidak, haid pertama Saleha membawa akibat lain yang tidak bisa dijelaskan. Kisah cinta Raja dan Saleha.

***

Hujan deras turun membungkus halaman sekolah.

Aku tidak semangat menyambut lonceng pulang—lagi-lagi aku lupa membawa payung. Teman-teman sibuk membereskan buku, menyandang tas, mengeluarkan payung warna-warni, melangkah keluar ruangan, lantas beramai-ramai menerobos hujan. Di depan kelas Burlian sudah menunggu. Menyeringai menatapku.

“Kalian tidak bawa payung, Pukat, Burlian?” Pak Bin menyapa di lorong kelas.

Kami menggeleng. Kompak memasang wajah, kasihanilah kami.

“Sayangnya, payung yang Bapak bawa terlampau kecil untuk bertiga. Semoga hujannya lekas reda. Salam hangat buat Bapak-Mamak kalian.” Pak Bin berjalan pelan membelah berjuta larik air.

Aku melongokkan kepala ke dalam kelas. Masih ada beberapa anak yang bergegas mengemasi buku. Raja mengeluarkan payungnya. Besar sekali. Aku menyeringai kecewa, Raja alih-alih mengajak kami menumpang bersamanya, di lorong ada pujaan hatinya, Saleha berdiri menunggu—juga lupa membawa payung. Alamat hari ini kami pulang terlambat lagi.

“Kalian mau pulang bersamaku?”

Eh, aku menatap Raja tidak mengerti. Juga Burlian yang sedang memainkan air mengucur dari atap genteng. Tangan Burlian menunjuk ujung lorong, bertanya lewat ekspresi wajah, lantas Saleha pulang bersama siapa?

“Mau ikut tidak?”

“Kau tidak pulang bersama Saleha?” Kali ini aku yang bertanya.

Raja menggeleng santai, beranjak melangkahkan kakinya. Aku menelan ludah. Burlian sudah bergegas merapat, melipat tanda-tanya, setidaknya dia bisa pulang tepat waktu. Belakangan Mamak semakin sering marah. Aku akhirnya ikut bergabung di bawah payung Raja.

Raja melewati Saleha bahkan tanpa merasa perlu menyapanya, menerobos jutaan bilur air hujan. Aku sempat melirik sekilas, Saleha sebenarnya terlihat hendak memanggil Raja, tetapi urung, tangannya yang terlanjur terjulur salah-tingkah ditarik kembali.

“Kau tidak pacaran lagi dengannya?” Aku bertanya—pertanyaan yang sebenarnya terlalu canggih untuk anak kelas lima SD. Burlian di sebelah sibuk menyikut lenganku, mengeluh kalau dia terkena cipratan air. Kami sudah keluar dari gerbang pagar sekolah.

“Tidak lagi.” Raja menjawab tidak peduli.

“Tidak lagi? Kau berkelakar.” Aku tertawa.

“Memang tidak lagi.”

“Kenapa?” Aku antusias ingin tahu.

“Oi, seram sekali, bukan?” Raja balik bertanya.

“Seram apanya?”

“Ternyata anak perempuan itu menyeramkan, Kawan. Mereka setiap bulan mengeluarkan darah kotor, belum lagi nanti kata Bu Bidan mereka lazim mengalami, apa namanya itu, eh…. pre-mentrasi-drum…apalah itu, pokoknya sensitif, suka sebal dan marah-marah tanpa penjelasan…. Anak perempuan juga akan mengandung, beranak, gendut. Repot sekali. Aku tidak mau lagi dekat-dekat dan bermain dengan mereka. Lebih baik berteman dengan anak laki-laki. Bebas bermain bola di sungai. Bebas melakukan apa saja.” Raja menjawab santai, terus melangkah di atas aspal jalanan.

Kakiku basah terkena cipratan air. Burlian sekali lagi mendorongku agar bergeser sedikit, payung itu sepertinya tidak cukup besar untuk bertiga. Mengomel bilang tasnya basah, ada buku gambar penting di dalamnya.

Aku tidak mendengarkan kalimat terakhir Raja dan juga omelan Burlian, aku lamat-lamat memperhatikan jalanan kampung yang lengang dan remang. Hanya karena itu Raja tak cinta lagi? Sama sekali tidak bisa dimengerti. Oi, jangan-jangan kelakar Bapak beberapa hari lalu benar, bagi orang dewasa saja cinta itu rumit. Apalagi bagi kami yang masih belasan tahun.

***

/** diambil dari https://www.facebook.com/darwistereliye **/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s