[Tere Liye] Kasih Sayang mamak 2: Pukat, novel serial anak2 Mamak

Bab 14. Seberapa besar cinta Mamak

 

“Ini kan mudah saja dilakukan, Amel. Apa susahnya?” Tangan Mamak bekerja serempak dengan mulutnya bekerja, mengomel, “Setiap pagi selalu saja tempat tidur kau paling berantakan. Mentang-mentang selama ini ada Eliana yang membereskan. Bangun tidur langsung ditinggal.”

Amelia yang diomeli hanya bisa berdiri tertunduk di sudut ruangan, menyeka matanya yang basah. Menangis karena dimarahi—dia disuruh Mamak menonton bagaimana membereskan seprai, bantal dan kemul.

“Sudah berapa kali Mamak bilang, hah? Memangnya kuping kau ditaruh di mana? Bereskan, bereskan, bereskan sendiri.” Mamak menumpuk dua bantal butut, melipat kemul kusam Amelia. “Atau kau besok lusa tidur di lantai saja? Jadi bisa seenaknya tidak perlu kau rapikan setelah tidur.”

Amelia masih terisak pelan. Aku dan Burlian takut-takut mengintip.

“Sana, bergegas mandi. Sudah hampir jam tujuh. Nanti kau terlambat sekolah.” Mamak mendelik, akhirnya mengusir Amelia keluar dari kamar.

Amelia patah-patah melangkah, aku dan Burlian menyingkir dari pintu kamar. Saling bersitatap, pagi yang buruk, sudah dimulai dengan Amelia kena marah.

“Kau mau kemana?”

“Berangkat sekolah, Mak.” Burlian yang sudah loncat dari kursi menjawab pendek.

Lima belas menit dari marah pertama Mamak sepagi ini, kami sudah sarapan dengan nasi putih dan kecap asin. Lebih banyak diamnya, Amelia masih tertunduk.

“Sarapan kau belum habis.”

“Burlian sudah kenyang, Mak.” Burlian nyengir, memasang wajah polos, menepuk-nepuk perutnya.

“Omong kosong. Piringmu berkurang tiga sendok kau bilang kenyang. Habiskan.” Mamak melotot, menunjuk kursi, menyuruh Burlian duduk kembali.

“Burlian sudah kenyang, Mak. Sungguhan.” Burlian meneguk ludah, berusaha menawar.

“Apa susahnya sih disuruh makan? Kau tinggal duduk, mengunyah, selesai.” Mamak naga-naganya mulai mengomel lagi.

Burlian segera menarik bangku, meraih sendok. Aku yang duduk di sebelahnya menghela nafas lega sepelan mungkin. Sebenarnya aku juga mau melakukan hal yang sama seperti Burlian, bergegas berangkat, bilang sudah kenyang. Keduluan oleh Burlian, jadilah dia yang kena marah.

“Setiap pagi susah sekali kau disuruh menghabiskan sarapan. Sudah berapa kali Mamak bilang, kuping kau memangnya ditaruh di mana?” Mamak melanjutkan omelannya, “Kau tidak perlu bekerja keras seperti anak-anak tetangga agar bisa makan, hah?”

Bapak berdehem, memberi kode kepada Mamak agar berhenti marah-marah.

“Oi, kenapa kalian belakangan susah sekali menuruti perintah. Disuruh ini tidak mau, disuruh itu membantah.” Mamak mengabaikan deheman Bapak, “Disuruh sarapannya saja malas-malasan. Kau tahu, di luar sana jutaan anak-anak yang ingin sarapan tapi tidak bisa karena mereka tidak punya uang untuk membelinya, tidak punya orang-tua yang memasakkannya.”

Burlian mengunyah nasi dengan wajah tertekan. Tanpa diomeli saja sudah susah menghabiskan menu sarapan nasi kecap, apalagi dengan Mamak melotot di sebelah.

Bapak meletakkan gelas kopi luwaknya, “Nah, kalian sudah dengar kalimat Mamak, bukan. Dituruti, ditaati, karena begitulah anak yang baik setiap kali dinasehati orang-tuanya. Ayo, jika kalian memang sudah kenyang, sana bergegas berangkat sekolah.”

Aku, Burlian dan Amelia saling pandang. Bapak mengangguk, mengedipkan matanya. Tanpa menunggu sedetik lagi, kami sudah loncat dari kursi masing-masing, sebelum Bapak berubah pikiran atau Mamak sebaliknya memaksa kami tetap menghabiskan sarapan. Sebelum meninggalkan dapur, aku sempat melirik Mamak, wajah Mamak mendelik marah ke arah Bapak—meski tidak berkomentar lagi.

 

***

“Amel ingin berumur delapan puluh tahun seperti Wak Yati.” Amelia yang asyik memeluk pundak Bapak dari belakang memecah kesunyian malam.

Aku dan Burlian yang sedang bermain kartu bergambar menoleh. Kami sedang duduk di beranda rumah, menatap bintang-gemintang menghias angkasa. Lepas Isya, selesai makan malam. Mamak sedang ke rumah Wak Yati, Ayuk Eli di kota kabupaten, hanya kami bertiga bersama Bapak. Suasana rumah terasa lebih lengang, tidak ada yang sibuk menyuruh-nyuruh.

Tadi ada beberapa penduduk kampung yang menumpang menonton televisi hitam-putih Bapak, aku juga sempat bergabung menyimak siaran berita. Sayang, baru lima belas menit duduk, aki televisi habis. Kotak kecil sakti itu tergolek tanpa suara dan gambar. Tetangga bubar satu per-satu. Aku menepuk dahi kecewa, hilang sudah episode penting film alien malam ini.

“Memangnya kenapa?” Bapak mengayun-ayunkan pundaknya, membuat nyaman Amelia. Kerlip obor bambu yang diletakkan di tiang membuat wajah Bapak terlihat menyenangkan—sebenarnya wajah Bapak memang selalu menyenangkan.

“Karena kalau Amel setua itu, Mamak pasti tidak akan tega menyuruh-nyuruh Amel setiap hari merapikan tempat tidur.” Amelia menjawab pelan.

Bapak tertawa, aku dan Burlian juga ikut tertawa.

“Mamakmu itu niatnya baik, Sayang.”

“Baik apanya, sedikit-sedikit mengomel. Sedikit-sedikit marah.” Burlian menyela kalimat Bapak, sambil meletakkan tumpukan kartu bergambarnya.

“Kau sepertinya juga ingin berumur delapan puluh tahun, Burlian?” Bapak menyeringai, menggoda.

“Burlian ingin segera lulus SD, seperti Ayuk Eli. Sekolah jauh dari rumah. Bila perlu di pulau seberang. Bebas mau sarapan atau tidak.” Burlian menjawab ketus.

“Oi, banyak sekali orang-orang rantau yang rindu pulang kampung.”

“Burlian tidak akan rindu.”

Bapak mengacak-acak rambut Burlian, tertawa lagi.

“Tidak ada orang-tua yang berniat jahat ke anaknya sendiri, Burlian, Amel. Bahkan seekor macan buas sekalipun. Kalian saja yang belum mengerti alasannya. Bukankah Bapak pernah bilang kepada kau, Burlian, jangan pernah membenci Mamak, jangan sekali-kali… karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Kak Pukat dan Ayuk Eli, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.”

Burlian terdiam, teringat kejadian beberapa waktu lalu soal sepedanya. (detail cerita tentang sepeda dan kalimat Bapak ini ada di buku 1, ‘Burlian’. Judul bab ini juga sengaja menggunakan bagian ke-3, lanjutan dari buku 1)

“Kalian harusnya mengerti, sejak Ayuk Eli sekolah di kota, tidak ada lagi yang membantu Mamak mengurus rumah. Mencuci, menyiapkan makanan, membersihkan rumah, semua dikerjakan sendirian. Belum lagi Mamak setiap hari harus ke ladang, menyiangi rumput ilalang, memangkas tunas kopi, dan pekerjaan kampung lainnya, seperti sekarang ke rumah Wak Yati. Amel harusnya bisa membantu dengan merapikan tempat tidur. Burlian bisa membantu dengan tidak menambah bebap pikiran Mamak, selalu menghabiskan sarapan. Mudah, kan?”

Amelia masih mendekap leher Bapak dari belakang. Entahlah dia mengangguk atau tidak. Burlian kumur-kumur, masih belum terima. Aku diam, tidak ikut berkomentar, asyik lamat-lamat memperhatikan formasi bintang di langit. Aku juga sering diomeli Mamak, satu dua karena alasan sepele sama seperti Amelia dan Burlian. Satu-dua karena kesalahanku, tetapi sisanya kupikir karena Mamak memang mudah marah saja. Buktinya Bapak tidak pernah meneriaki kami. Bicara dengan Bapak lebih menyenangkan.

“Bapak besok jadi ke kota kabupaten?” Aku teringat sesuatu.

“Lihat besok-besok, Pukat.”

“Harus, Pak. Bapak kan sudah janji mau mengisi ulang aki televisi.” Aku menyeringai serius, besok sore ada ada serial film kartun kesukaanku. Celaka kalau televisi kecil Bapak masih tergeletak tidak bisa dinyalakan, aku menunggu-nunggu kelanjutannya.

“Ya, lihat besok-besok, Pukat.” Bapak santai.

Aku gemas menggaruk kepala yang tidak gatal. Tetapi tentu saja Bapak berbeda dengan Mamak, Bapak suka berkelakar, sebentar kemudian Bapak sudah mengangguk, mengiyakan. Aku tertawa senang, bilang terima-kasih lewat seringai terbaik.

Setengah jam kemudian Bapak menyuruh kami masuk. Sudah larut, saatnya tidur. Suara kodok hutan terdengar mendengking hingga ke kamar. Aku beranjak memejamkan mata, menarik kemul kusam.

 

***

Esok harinya.

Untuk kesekian kalinya aku menghentikan gerakan sengkuit, alat menyiangi rumput dan ilalang, lantas gelisah mendongak menatap langit, melihat bayangan pohon, ini sudah hampir pukul empat sore. Kami terbiasa diajarkan membaca jam dengan memperhatikan pergerakan matahari. Burlian di sebelahku masih jongkok berkonsentrasi membabat setiap batang rumput yang terlihat.

Aku melongok, melihat dari balik rimbunnya pohon kopi, Mamak di seberang sana juga masih sibuk, sudah menghampar luas bekas rumput dan ilalang yang berhasil dibersihkan. Tidak ada tanda-tanda Mamak akan mengajak kami pulang. Keranjang rotan masih tergolek kosong, biasanya kalau sudah bersiap pulang, Mamak akan mulai memasukkan potongan kayu bakar ke dalam keranjang.

Aku sekali lagi mendongak, menelan ludah, bayangan pohon jengkol itu sudah persis menyentuh tempat jongkok kami. Lima belas menit lagi acara film kartun kesukaanku di televisi hitam-putih Bapak akan segera mulai. Jaman itu, meski TVRI hanya satu-satunya stasiun pemancar, program acara mereka memikat hati, masih dipenuhi acara bermutu dan jelas punya banyak penggemar berat—salah-satunya aku.

“Ayo, kita pulang sekarang?” Aku menyikut Burlian.

Burlian mengelap peluh di kening, melongok ke arah Mamak, “Aku mau pulang sekarang, tetapi Kak Pukat bilang dulu ke Mamak.”

“Kita duluan saja. Sudah mau mulai kartunnya. Kalau menunggu Mamak, terlanjur habis filmnya.”

Burlian berpikir sejenak, sengkuit masih dalam genggamannya, menggeleng, “Kak Pukat bilang dulu ke Mamak, kalau tidak nanti Mamak bisa marah.”

Aku dongkol melihat wajah penuh perhitungan Burlian. Jelas-jelas tadi sebelum berangkat ke ladang, Mamak bilang “Ya, diusahakan pulang cepat.” Mamak sudah janji kami boleh pulang.

“Kau memangnya tidak ingin menonton?”

“Burlian mau, Kak. Tapi—”

“Kalau begitu ayo pulang. Mamak juga lagi sibuk, tidak akan memperhatikan kita.” Aku membujuk Burlian lagi, “Episode hari ini pasti seru sekali. Penjahatnya pasti kalah.”

“Kalau Mamak marah?”

“Mamak tidak akan marah. Ma—“

“Oi, yang bekerja itu tangan, bukan mulut. Tidak akan selesai bagian ini kalau kalian mengerjakannya dengan berceloteh.” Mamak memotong kalimatku, entah kapan dia beranjak, sudah berdiri di depan kami.

Aku menelan ludah, kaget. Burlian buru-buru membalik-badan, menggerakkan sengkuit di tangan, mengabaikan sekaligus melupakan pembicaraan barusan. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, kepalang tanggung Mamak sudah pindah menyiangi rumpur dekat kami, sekalian saja dibicarakan.

“Mak, Pukat boleh duluan pulang?”

Mamak menggeleng tegas.

“Tapi tadi siang Mamak bilang hari ini pulang lebih cepat.” Aku mengingatkan.

“Sebentar lagi, Pukat. Ini masih pukul empat, setengah jam lagi.” Mamak menjawab dengan tangan terus cekatan membabat ilalang.

Aku mengeluh pelan, jangankan setengah jam, lima belas menit lagi saja tidak boleh. Harus pulang sekarang. Bagaimana nasib film kartun itu. Tidak akan ada siaran ulangnya. Kalau membersihkan rumput ladang, besok-besok juga bisa diulang lagi.

“Kita harus pulang sekarang, Mak.” Aku membujuk pelan.

“Sebentar lagi, Pukat.”

“Sekarang, Mak—“

“Oi, kau tidak mendengar kalimat Mamak rupanya. Kalau Mamak sudah bilang sebentar lagi, ya sebentar lagi.” Gerakan tangan Mamak terhenti, menoleh kepadaku, melotot.

Burlian di sebelahku pura-pura menggerakkan sengkuitnya dengan semangat. Tidak memperhatikan —takut ikut diomeli jika melibatkan diri. Aku meneguk ludah, tertunduk.

“Tapi Mamak sudah janji.”

“Mamak tidak janji. Mamak hanya bilang ‘diusahakan pulang cepat’. Apapula perlunya kau bergegas, heh? Paling juga kau menonton film kartun di televisi. Tidak bermanfaat, menghabiskan waktu.”

Aku hendak protes, membantah. Tetapi melihat air muka Mamak yang terlipat, urung.

Lima menit berlalu, Mamak meletakkan sengkuitnya, meraih pisau dalam keranjang. Aku yang melirik bersorak dalam hati, akhirnya Mamak mulai mengumpulkan kayu bakar. Tidak apa-apalah terlambat sedikit, aku mungkin masih bisa menonton separuh film kartun itu.

“Mamak hendak ke lembah, mengambil rebung bambu. Kalian tetap di sini sampai Mamak kembali. Jangan ada yang pulang duluan.”

Sorak riang dalam hatiku padam. Ternyata urusan tambah panjang. Mengambil rebung lebih dari setengah jam. Kalau begini, kami baru tiba di rumah menjelang maghrib.

“Kalau kalian ada yang berani pulang duluan, Mamak hukum tidak boleh makan dan tidur di luar malam ini.” Mamak seperti bisa membaca jalan pikiranku, mengeluarkan ancaman.

Punggung Mamak menghilang dari balik pohon kopi. Aku melepaskan sengkuit, duduk menjeplak. Ber-puuh, mengeluh. Burlian ikut-ikutan berhenti bekerja, menoleh kepadaku.

Bagaimana ini? Pulang duluan atau tidak? Aku menatap sekitar, berhitung dengan situasi. Pohon kopi sedang berbunga, membuat putih dedaunan kopi sejauh mata memandang. Lebah beterbangan, aroma menyenangkan menusuk hidung.

“Aku pulang duluan, Burlian. Kau mau ikut?” Aku akhirnya berdiri, melipat semua kecemasan, itu diurus nanti-nanti saja. Film kartun itu lebih penting, setidaknya aku masih sempat melihat bagian akhirnya, ketika sang jagoan berhasil mengalahkan penjahat, tertawa jumawa mengangkat tangannya.

“Kak Pukat nanti dihukum, Mamak.”

“Peduli amat.” Aku melambaikan tangan, “Kau mau ikut, tidak?”

Burlian menyeringai, menggeleng. Baiklah kalau itu keputusannya, aku membalik badan, lantas berlarian menembus rimbunnya pohon kopi. Meninggalkan Burlian sendirian.

 

***

Secepat apapun aku berlari menuruni jalan setapak dari ladang, melewati hutan, menuju kampung, dua kali jatuh bangun tersangkut tunggul, aku tetap tidak bisa menonton serial kartun itu. Sebenarnya aku tiba tepat waktu. Televisi hitam-putih itu sudah nyala, Bapak sudah pulang dari kota kabupaten dengan aki terisi penuh. Tidak ada anak-anak tetangga yang duduk melingkar di depannya, hanya ada Wak Lihan dan beberapa orang dewasa yang asyik menyimak layar ajaib itu. Oi, sejak kapan Wak Lihan suka film kartun? Kenapa peserta yang menonton film kartun jadi ganjil.  Mana teman-temanku?

Aku segera menepuk dahi, kecewa. Tidak ada serial film kartun kesayanganku, yang ada siaran langsung upacara bendera 17 Agustus-an.

“Wah, kau ingin ikut menonton, Pukat?” Wak Lihan bertanya.

Aku menggeleng, rasa kecewa bercampur sebal di ubun-ubun hampir membuatku ketelepasan menjawab, “Apa pentingnya acara ini. Tidak ada seru-serunya. Kenapa pula TVRI lebih memilih menyiarkan upacara ini dibanding film kartun.” Omelanku tertahan. Beranjak dengan wajah terlipat.

Mamak dan Burlian tiba menjelang maghrib. Burlian bergegas menyusun kayu bakar di tumpukan, membawa rebung ke dapur, hendak mandi.

“Bagus film-nya, Kak?” Burlian menyapa aku yang masih duduk kesal di ruang depan.

“Tidak ada filmnya. Ada siaran langsung.”

Burlian manggut-manggut, melanjutkan langkah. Mamak sudah dua kali melintas di ruang depan, dan dua kali pula Mamak menoleh pun tidak ke arahku. Sepertinya sibuk—aku berprasangka lain.

Lepas shalat maghrib, Mamak dibantu Amelia berkutat dengan masakan di dapur. “Kau mengiris rebungnya bisa lebih cepat? Kalau begini, baru lebaran puasa kau selesai mengirisnya. Anak gadis itu harus gesit.” Belum habis omelan itu, disusul pula, “Airnya kurang, Amel. Sudah berapa kali Mamak bilang takarannya dua gelas.” Atau ditingkahi dengan, “Sudah repot-repot masak, baju sudah bau, tangan berbekas kunyit, kau mau kalau masakan kau tidak disentuh karena tidak enak? Susah sekali mengajari kau, hah.” Bercampur dengan suara peralatan masak, kepulan asap dari tungku, dan aroma makanan. Aku dua kali melongokkan kepala ke dapur, ingin tahu Mamak masak apa, sepertinya lezat sekali.

Lepas shalat Isya, hidangan makan malam tersaji lengkap. Amelia tersenyum senang melihat hasilnya—lupa kalau dia sepanjang masak kena omel. Burlian mengetuk-ngetuk meja tidak sabaran. Bapak duduk sambil menyeduh kopi luwak. Aku beranjak masuk ke dapur, ikut meraih kursiku.

Splash. Seperti ada yang menikam jantungku, Mamak yang sedang mewadahi nasi dari periuk, menatapku dengan seringai ganjil sekali. “Kalau kalian ada yang berani pulang duluan, Mamak hukum tidak boleh makan dan tidur di luar malam ini.” Dari air muka Mamak, aku seperti bisa membaca kalimat Mamak tadi sore di ladang. Aku meneguk ludah.

Burlian sudah meraih mangkok sayur rebung, tertawa menumpahkannya ke piring. Amelia tidak mau kalah, memotong ikan pindang besar di depannya. Aku, menjulurkan tangan pun tidak kuasa. Dadaku terasa sesak, kerongkonganku kesat dan pantatku terasa panas. Tidak mampu walau sekilas melirik wajah Mamak lagi. Apakah aku akan tetap makan? Tidak peduli dengan kejadian tadi sore? Makan? Tidak? Aku berkutat dengan pilihan yang ada, menyeka dahi.

“Oi, apa film kartun kau tadi bisa membuat kenyang?” Mamak sudah berdiri di sebelah kursiku.

Aku agak kaget, mendongak.

“Kau tidak malu berada di meja makan sekarang, hah?”

Kerusakan itu sudah tidak tertahankan. Jantungku bukan hanya ditikam, tapi bagai ditembak seribu anak panah. Sesaat aku menunduk kembali. Kesat di kerongkongan akhirnya tiba di mata, berkaca-kaca. Mendorong bangku ke belakang, melangkah patah-patah keluar dapur.

“Kau tidak makan, Pukat?” Bapak bertanya, memanggilku.

Aku tidak menjawab, terus berjalan.

“Khak Phukhat thadi phulang dhuluan dhari khebhun, Pbak.” Burlian menjelaskan sambil tetap mengunyah, menelan makanannya, “Dihukum Mamak tidak boleh makan.”

Bapak menoleh ke Mamak, meminta penjelasan.

“Dia tahu persis akibat perbuatannya. Tahu persis apa hukumannya. Biarkan saja.” Mamak ringan melambaikan tangan, duduk di kursinya.

 

***

“Kau tidak akan masuk ke dalam, Pukat?” Bapak berdiri di bingkai pintu.

Aku tidak menjawab, membalikkan badan membelakangi Bapak, tidur di kursi rotan beranda rumah. Malam beranjak larut, langit mendung mengusir bintang-gemintang, angin lembah berhembus kencang, membuat udara semakin dingin. Ini untuk yang ketiga kalinya Bapak menyuruhku masuk.

Meski dengan perut lapar, tadi masih menyenangkan berada di luar rumah, bersama tetangga asyik menyimak acara televisi hitam-putih Bapak. Pukul dua belas malam acaranya usai, ditutup lagu rayuan pulau kelapa. Penduduk kampung satu per-satu pamit pulang, meninggalkan aku sendirian.

Aku hampir dua kali reflek hendak masuk rumah, tetapi dua kali pula melihat Mamak ada di ruang tengah, menganyam keranjang. Beringsut kembali ke beranda depan, tertunduk. Rasa-rasanya, Mamak seperti menjaga pintu masuk.

“Sudah pukul satu malam, Pukat.” Bapak akhirnya duduk di dekatku.

Aku tetap tidak menjawab.

“Malam ini akan hujan deras. Kalau kau tetap di sini, kau bisa terkena tampias air. Belum lagi udara sedingin ini. Kenapa kau tidak masuk ke dalam saja?”

“Ma-mak…” Aku berusaha mengendalikan sesak di dada, menyeka ujung mata, bukankah Bapak sudah tahu, “Ma-mak me-la-rang-ku ma-suk ke da-lam.”

Bapak terdiam melihatku menahan tangis. Menghela nafas. Terus-terang saja, aku jarang sekali menangis, yang suka menangis itu Amelia dan Burlian. Meski Mamak sedikit-sedikit mengomel, marah, memberi hukuman, aku tidak pernah menangis macam mereka. Tetapi malam ini, bukan karena perut lapar, badan kedinginan dan tidur di atas kursi rotan yang membuatku menangis, aku tidak kuasa lagi terisak karena menyadari Mamak memang sengaja menjaga pintu depan.

“Tidak ada yang melarang kau masuk, Pukat.”

Siapa bilang? Aku menggelengkan kepala kencang-kencang, membuat air mataku terpercik ke lantai papan. Sedih sekali rasanya.

“Kalau begitu, kau sudah keliru mengartikan kalimat Mamak kau, Pukat.” Bapak merapikan kerah bajuku, “Mamak kau tidak bermaksud begitu.”

Aku hanya diam. Menyeka ujung mata.

“Dengan menghukummu seperti ini, itu berarti Mamak kau amat mencintai—“

“Mamak benci kepada Pukat!” Aku memotong kasar kalimat Bapak.

“Tidak seperti yang kau lihat.” Bapak menghela nafas.

“Mamak benci kepada Pukat!”

“Oi, kau keliru, Pukat. Dengarkan Bapak, tidak ada seorang pun Mamak di atas muka bumi ini yang bisa membenci anaknya sendiri, ‘darah daging’-nya sendiri…. Bukankah kau pandai mengkait-kaitkan banyak hal, kau juga pandai mengartikan banyak penjelasan. Nah, kau artikan sendiri makna harfiah, ‘darah daging’. Setiap anak pernah dikandung Mamak-nya sembilan bulan. Mual, muntah, nyeri, badan sakit, semua terasa tidak enak. Melahirkan dengan kondisi siap mati. Tidak akan pernah ada seorang Mamak yang bisa membenci anaknya sendiri. Dilahirkan penuh perjuangan hidup-mati.”

Gerimis akhirnya turun. Satu butir bilur airnya menghujam atap genteng, disusul dengan jutaan bilur air lain. Membuat beranda depan terasa lembab.

“Pukat ingin seperti Ayuk Eli.” Aku berkata pelan.

“Maksud kau?”

“Pukat ingin sekolah di kota kabupaten. Pukat ingin pergi dari rumah.”

“Oi, kau bilang apa, Pukat?” Bapak menepuk dahinya, “Kau akan menyesali ucapan itu pernah keluar dari mulut kau.”

“Pukat tidak akan menyesal.”

Bapak terdiam, seperti kehabisan kalimat (sekaligus kesabarannya). Menatap lamat-lamat jalanan yang lengang, hanya gerimis membasuh kampung.

“Baiklah, mungkin ada gunanya juga kau tidur di luar malam ini. Berpikir. Pikirkan kalimat Bapak ini, kau tahu, kenapa setiap anak harus mendengarkan nasehat, larangan, atau apa saja dari Mamak-nya? Sungguh bukan karena Mamak pernah jadi anak kecil, sedangkan kau belum pernah jadi orang dewasa. Bukan karena ukuran usia dan kedewasaan…. Tetapi karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Kak Pukat dan Ayuk Eli, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.”

Suara kodok hutan mendengking terdengar hingga beranda.

 

***

“Kau terlalu keras ke Pukat.”

“Tidak. Dia sudah tahu aturan mainnya.”

“Oi, urusan ini bukan sekadar aturan main, kesepakatan, sanksi.”

“Tentu saja. Urusan ini tentang berdisplin. Anak-anak itu harus disiplin. Tahu kapannya bekerja, tahu kapannya bermain. Apapula yang dikerjakan dia, setiap hari hanya dihabiskan menonton televisi. Tidak ada manfaatnya.”

Bapak memutuskan diam sejenak. Mengomentari kalimat Mamak hanya akan menghasilkan jawaban yang lebih panjang lagi. Tidak berkesudahan, ujung-ujungnya bertengkar.

“Sudah pukul dua…. Pukat tidak akan masuk ke dalam kalau kau tidak menyuruh dia masuk.” Bapak menghelas nafas panjang.

“Aku tidak akan menyuruhnya masuk sepanjang dia tidak menyesal dan minta maaf atas kelakuannya hari ini.” Mamak menjawab santai, meneruskan menganyam keranjang di ruang tengah.

“Kau akan membuatnya kedinginan di luar.”

Mamak mendengus, menunjuk gumpalan kemul di dekatnya. Bapak terdiam, menyisir rambut dengan jemari. Bapak tahu, tadi Amelia ingin memberikan selimut ke depan, Mamak melotot, melarang Amelia.

“Ayolah, Nur. Kau bisa sedikit mengalah.”

“Kau berarti tidak mendengar kalimatku, Bang. Bukankah sudah kubilang, anak itu tidak akan masuk ke dalam sepanjang dia tidak menyesal atas kelakuannya hari ini. Titik. Harus berapa kali kuulangai sampai kau mengerti?”

“Oi, kau tidak akan mengomeliku seperti mengomeli Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia, bukan?” Bapak pelan menepuk dahinya, menyeringai.

Mamak mendengus. Hujan di luar semakin deras.

“Nur, kau tentu tahu persis kenapa aku jatuh cinta padamu.” Bapak tersenyum, menggoda tampang terlipat Mamak, “Karena setiap kali kau marah-marah seperti ini, kau terlihat lebih cantik.

Mamak lagi-lagi hanya mendengus tidak peduli—meski sebenarnya ada rona tersipu malu tipis dari wajahnya, yang membuatnya salah menusukkan ujung bambu anyaman keranjang.

“Kau ingat waktu aku nekad membawa tangga panjang, lantas memanjat rumah Bapak kau, mengetuk jendela kamar kau. Aku pikir kau akan senang, bertekuk lutut melihatku sudah berpenampilan begitu tampan. Oi, kau malah mendorong tanggaku. Tidak hanya itu, kau  juga berlarian turun ke kolong rumah, meneriakiku maling. Membuatku lintang-pukang menyelamatkan diri dari amukan seluruh kampung.” Bapak tertawa kecil. “Butuh sebulan lebih untuk mengumpulkan keberanian hingga akhirnya aku kembali. Bagaimana tidak, seluruh penduduk kampung kau menganggapku maling sungguhan.”

Mamak sudah dua kali salah memasukkan ujung bambu anyaman. Menunduk, berusaha melindungi wajah bersemu-nya.

“Eliana, Pukat, Burlian, Amelia lebih beruntung…. Mereka tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kasih-sayang kau. Malah, mereka sekarang membuatku hanya menjadi nomor lima, bukan? Mereka anak-anak yang hebat. Tetapi sehebat apapun itu, mereka tetap anak-anak. Sekali-dua melawan, dua-tiga mengabaikan, lebih banyak tidak mendengarkan. Karena mereka masih kanak-kanak. Senang bermain, senang melakukan apa saja dengan bebas.”

Bapak diam sebentar, meraih lembut tangan Mamak, “Nur, anakmu sekarang kedinginan di luar. Bisakah kau suruh masuk?”

Mamak menggeleng tegas. Tidak akan.

 

***

 

Bab 15. Seberapa besar cinta Mamak 

 

 

Esok paginya, aku jatuh sakit, demam panas.

Hujan deras, angin lembah, tampias menerpa beranda rumah. Aku sudah berusaha merapatkan tubuh ke kursi rotan, bergelung sebisa mungkin, tetap saja basah. Dengan perut lapar, kedinginan, pukul tiga dini hari aku akhirnya jatuh tertidur. Bapak lembut menggendongku masuk ke dalam, membaringkanku di atas dipan—Mamak menyelimutiku dengan kemul, sayangnya aku tidak tahu bagian ini karena sudah terlelap kelelahan.

Saat Amelia dan Burlian sudah bangun, berebutan mandi di pancuran belakang rumah, aku masih bergelung di atas dipan. Mamak meneriakiku agar bangun, aku tidak mendengarkan. Badanku panas, kerongkonganku kering, semua terasa sakit, bahkan tidak sempat berpikir kenapa aku sudah ada di dalam kamar. Sayup-sayup aku mendengar Bapak bilang, “Biarkan Pukat tidur sedikit lebih lama.” Mamak yang menjawab, “Nanti dia telat sekolah, tidak sempat sarapan.” Sisanya samar-samar. Kepalaku terasa berat.

Amelia dan Burlian sudah berebutan makanan di dapur, saat Mamak masuk ke dalam kamar, menyuruhku bangun untuk kedua kalinya, aku hanya terdiam. Bukan karena rasa marah, sedih, sebal yang jelas masih tersisa, tetapi aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi menjawabnya.

“Kau tidak sekolah hari ini, Pukat?” Intonasi Mamak sedikit melunak, beranjak duduk di dipan, menyentuh dahiku.

“Oi!” Mamak berseru, tangannya cepat menyentuh dada, leher dan bagian lain tubuhku, memeriksa. “Panas sekali badan kau.”

Mamak bergegas memanggil Bapak.

Bapak ikut memeriksa tubuhku.

Semua samar-samar, aku setengah sadar setengah tidak.

 

***

“Makan bubur-nya, Pukat.”

Mataku berkerjap-kerjap. Berusaha melihat sekitar, leherku terasa sakit digerakkan. Mengernyit, rasa nyeri menusuk kepala. Lampu canting menyala redup di atas meja. Suara jangkrik berderik, suara kodok berdengkang. Sepertinya di luar sudah gelap malam. Berapa lamakah aku tertidur barusan?

“Makan bubur-nya, Pukat.” Mamak lembut menyentuh lenganku.

Aku reflek menarik tangan, gerakan yang membuatku sedikit tersengal. Walau kesadaranku belum pulih benar, aku masih dengan jelas mengingat kalau Mamak sedang marah padaku. Malah aku merasa seperti baru terbangun dari beranda rumah yang tampias, dingin dan basah dengan seluruh badan terasa demam, kepala berat.

“Perutmu seharian tidak tersentuh makanan, Pukat.”

Aku mendengus dalam hati, bahkan lebih, bukankah kemarin malam Mamak melarangku makan. Aku memutuskan menatap langit-langit kamar.

“Tadi siang Ibu Saleha sudah memeriksa. Kata Bu Bidan, kau harus banyak makan dan minum biar lekas pulih. Ayo, buburnya dimakan, Sayang.”

Aku tetap memperhatikan langit-langit kamar. Sejak kapan Mamak memanggilku sayang. Aku tidak akan makan, biar Mamak puas.

“Kau masih marah pada Mamak?”

Aku diam saja. Menganggap Mamak tidak ada di sebelahku.

Mamak menghela nafas pelan. Meletakkan mangkok bubur di atas meja. Memperbaiki tudung rambut, beranjak ke luar kamar. Samar-samar aku mendengar Mamak dan Bapak bicara, juga suara Amelia dan Burlian yang bertengkar. Meski mulutku terasa pahit, perutku sebenarnya terasa lapar. Tetapi aku tidak akan makan disuapi Mamak, tidak juga makan dilihat Mamak. Kepalaku terasa semakin berat, mataku berkunang-kunang, tubuhku kembali menggigil.

Aku pelan menarik kemul, berusaha tidur.

 

***

Terbangun tengah malam, lepas pukul dua. Di luar hujan membungkus kampung. Mataku mengerjap-ngerjap menatap sekitar. Lampu canting masih menyala di atas meja, cahaya apinya bergoyang.

Aku beranjak duduk, tanganku menyentuh sesuatu di sebelah, Mamak yang duduk di bangku, jatuh tertidur dengan kepala tertelungkup di tepi dipanku. Kerudungnya terjatuh, memperlihatkan uban satu-dua. Aku menelan ludah, mengabaikan. Perutku lapar, beringsut meraih mangkok di atas meja. Hangat. Aku menyeringai senang, bubur nasi-nya masih hangat, juga gelas teh manis—dan dalam situasi itu, aku mana peduli untuk berpikir kenapa bubur nasi dan gelas teh ini tetap hangat. Aku tidak tahu kalau sejak sore, Mamak menggantinya setiap jam, berusaha agar kapanpun aku mau makan, bubur dan teh manis itu terhidang hangat bagiku. Mamak yang sekarang jatuh tertidur, kelelahan.

Itu malam pertama Mamak menunggui sakitku.

 

***

“Kompresnya dipakai, Pukat.”

“Tidak mau.” Aku berseru serak, tidak peduli kalau kerongkonganku terasa sakit dipaksa bicara.

“Biar panas kau turun.”

Aku meletakkan bantal menutupi wajah. Amelia dan Burlian yang berdiri di belakang Mamak saling lirik, mengangkat bahu.

“Sebentar saja, Pukat.” Mamak masih membujuk, menyentuh dadaku. “Badan kau panas sekali. Harus dikompres biar lekas sembuh.”

Aku hanya diam. Tetap tidak peduli.

Lima menit berlalu, aku menarik bantal di wajah (terasa pengap). Mamak tersenyum, mengira aku akhirnya mau dikompres.

“Pukat mau buang air kecil.” Aku menunjuk ember kecil di bawah dipan. Mendorong kasar tangan Mamak yang hendak meletakkan kain basah di kepala.

Mamak menghela nafas, beranjak meletakkan kain basah di atas meja, meraih ember kecil. Amelia dan Burlian tertawa, “Kak Pukat sudah besar masih pipis di kasur.” Amelia mengolok-olokku. Aku menatapnya galak. Mamak menyuruh mereka bermain di luar.

Sebenarnya aku tidak ingin buang air kecil. Aku senang-senang saja melakukannya. Mamak bergegas membawa ember kecil itu keluar kamar, membersihkannya. Hari ini saja aku hampir sepuluh kali pura-pura ingin pipis. Sama halnya dengan pura-pura hendak buang air besar. Mamak akan memapahku ke kamar mandi. Aku juga melakukannya saat terbangun malam hari, mendorong-dorong lengan Mamak yang jatuh tertidur di sebelahku. Berseru serak, “Pukat mau buang air kecil.” Mamak memperbaiki rambut masainya, berusaha tersenyum mengambil ember di bawah dipan.

Wajar-wajar saja Mamak repot, jelas-jelas aku sakit karena Mamak. Mana pula aku peduli kalau Mamak menghentikan seluruh pekerjaannya hanya untuk menungguiku.

Itu malam ketiga Mamak menungguiku.

 

***

Hari ketiga, kondisiku memburuk. Jangankan menolak Mamak mengompres, mengacuhkan Mamak, bilang hendak pipislah, hendak buang air besar, untuk sekadar beranjak duduk saja kepalaku terasa berat. Badanku panas, berkeringat, mulai menggigil.

Sepanjang hari aku hanya tiduran. Tidak menolak saat Mamak menyuapi, menyuruh meminum obat, atau meletakkan kain basah di dahi. Tubuhku terasa lemas. Dan untuk pertama kalinya aku menatap wajah Mamak sembunyi-sembunyi. Air muka Mamak lelah, kurang tidur berhari-hari, tudung putihnya tersampir di leher. Wajah lelah yang segera terhapus, digantikan senyum mengembang setiap kali aku menghabiskan bubur di mangkok dan menelan pil dari Bu Bidan. Di antara demam panas dan gigil tubuh, aku mulai menyadari betapa lembut Mamak menyentuh dadaku, dahiku, memastikan aku baik-baik saja. Gerakan tangannya menyuapi—

Oi, peduli amat, itu memang kewajibannya, separuh hatiku segera membantah. Itu semua tidak lebih karena rasa sesal Mamak telah menghukumku tidak makan dan tidur di luar hingga aku jatuh sakit. Aku mendengus pelan, memiringkan badan menghadap dinding, membelakangi Mamak yang sedang mengaji di kursi. Beranjak tidur kembali.

Pukul dua malam aku terbangun, bukan karena hendak pipis. Perutku mual. Kepalaku pusing sekali. Aku menyentuh lengan Mamak, berusaha membangunkan, dan belum selesai Mamak memperbaiki anak rambut di dahi, aku sudan muntah. Mengotori lantai kamar.

“Kau baik-baik saja, Pukat?” Walau Mamak terlihat tenang, suaranya berdenting kecemasan. Tangannya segera meraih ember di bawah tempat tidur.

Aku menggeleng, wajahku kuyu, tidak terlalu mendengarkan pertanyaan Mamak, perutku bergejolak lagi, muntah kedua kalinya. Ketiga kalinya. Mamak lembut mengurut tengkukku, “Istigfar, Sayang. Istigfar.” Memberikan gelas air putih hangat.

Lima belas menit, serangan mual itu berlalu. Mamak membantuku berbaring lagi. Saat itulah semua kebencian, prasangka buruk, rasa marahku kepada Mamak berakhir. Dengan kondisi tubuh lemah, kepala tergolek di bantal, aku menatap Mamak yang meraih kain, mengelap keringat di dahiku.

Itu malam kelima Mamak menungguiku. Tidak lepas aku dari pandangannya yang awas. Selalu memastikan aku baik-baik saja. Mamak kurang tidur, tidak enak makan dan dipenuhi banyak pikiran, tetapi air mukanya tetap teduh. Tangannya lembut menyeka peluhku.

“Kau lihat apa, Pukat?” Mamak bertanya, tersenyum, menyadari kalau aku memperhatikannya.

Aku hanya diam, dadaku tiba-tiba terasa sesak, mataku terasa panas. Di luar gerimis kembali turun. Disahuti dengking kodok hutan yang riang menyambut hujan.

Mamak jongkok membersihkan muntahku di lantai. Gerakan tangannya cekatan, seperti tahu benar apa yang sedang dan akan dikerjakannya, keluar sebentar membawa ember kotor, masuk kembali dengan dua helai pakaian bersih.

“Kau ganti baju, ya. Yang ini sudah kotor terkena muntah.”

Aku mengangguk. Membiarkan Mamak menuntunku duduk, tangannya yang lembut bergerak cepat, nafasnya yang mengenai kepalaku. Mataku sudah berair. Lihatlah, dua helai baju ini bersih dan disetrika rapi. Rasanya hangat dan wangi. Sepuluh tahun lebih Mamak mencuci pakaianku, mungkin berbilang beribu kali dia melakukannya, berjuta potong baju telah dia siapkan untukku, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya. Aku hanya tahu pakaian-pakaian kami ada di lemari, sudah siap digunakan. Kalau kotor, tinggal dilepas, dilempar ke ember cucian. Dadaku yang sesak berubah menjadi isakan.

Aku memeluk Mamak.

“Kau kenapa, Pukat?” Mamak yang setengah jalan mengganti pakaianku menyeringai bingung.

“Maafkan Pukat, Mak. Sungguh maafkan Pukat.”

Oi, sepuluh tahun lebih Mamak memasakkan makanan untukku. Sudah berapa juta butir nasi yang disiapkannya. Berapa ratus ribu gelas air minum yang dijerangnya. Bertumpuk-tumpuk piring sayur dan lauk yang boleh jadi sudah setinggi bukit. Penuh kasih-sayang, tanpa pernah berharap imbalan selain doa agar kami menjadi anak yang baik. Bagaimana mungkin aku menuduh Mamak benci kepadaku, tidak lagi sayang. Belum lagi saat kami jatuh sakit, dia mengurus air kencingku, muntahku, berakku, semuanya, tanpa lalai meninggalkan kewajiban lain.

“Maafkan Pukat, Mak. Sungguh.” Malam itu aku menyadarinya.

Bapak benar, “Jangan pernah membenci Mamak kau, jangan sekali-kali… karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kalian, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sayang.” Mamak tersenyum lebar, membalas pelukanku. Dan aku tergugu, lihatlah, aku seperti bisa melihat wajah wanita paling cantik sedunia. Wanita yang akan selalu menyayangiku, wanita nomor satu dalam hidupku. Itulah Mamakku.

Di luar orkestra kodok terdengar indah sekali.

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s