[Tere Liye] Lelaki Memakai Rok, novel Eliana, serial anak2 Mamak #4

BAB 21. Lelaki Memakai Rok

 

Aku tidak suka diremehkan karena aku perempuan. Seperti pagi ini, ketika pelajaran olahraga, aku menantang Andi lomba lari mengelilingi lapangan sekolah sepuluh kali.

“Mana ada anak perempuan bisa mengalahkan kami lari.” Demikian kata Andi jumawa, mencibirkan mulutnya pada teman-teman perempuan.

“Kau macam bisa lari cepat saja, paling juga baru dua putaran sudah tersengal hendak pingsan.” Aku balas mencibir.

“Kau bilang apa? Oi, lihat, lihat, pakai rok begini mau lari. Belum lagi rambut panjangnya, goyang sana, goyang sini, keberatan di rambut, mana bisa mengalahkan kami.” Andi tidak mau kalah, berseru menyebalkan, diikuti seruan murid laki-laki lain, mengangguk-angguk setuju.

Tepi lapangan jadi ramai, murid kelas lima dan empat yang kebetulan kosong ikut melongok ke luar jendela, satu-dua malah bergabung ingin tahu apa yang terjadi.

Asal keributan ini sebenarnya sederhana saja, jam olahraga, kami awalnya disuruh Pak Bin bermain bola voli. Dua belas murid kelas enam oleh Pak Bin dibagi menjadi dua tim, enam anak perempuan melawan enam anak laki-laki. Terjadilah pertandingan seru di lapangan dengan net tua yang bolong-bolong. Setengah jam berlalu, tim perempuan unggul telak dari tim laki-laki. Apalagi Andi, Damdas dan anak laki lainnya jangankan smesh atau mengoper bola voli, melakukan servis saja tidak becus. Aku, Hima dan empat anak perempuan lain jauh lebih kompak dan cakap bermain voli—apalagi Hima yang sering ikut ibu-ibu dan gadis remaja main voli di lapangan dekat stasiun kereta. Pontang-panting Andi, Damdas dan anak laki lain mengejar bola.

Sebal dikalahkan anak perempuan, ditertawakan pula saat servis-nya nyangkut di net, Andi tidak sengaja memukul bola melewati bawah net, bola mental mengenai wajah salah-satu teman perempuan. Pertandingan dihentikan, Pak Bin bergegas membawa teman kami itu ke mantri kesehatan di kota kecamatan. Meninggalkan dua tim yang sudah berlebihan menyikapi pertandingan.

Aku, Hima dan yang lain tidak terima teman satu tim terluka, menuduh Andi sengaja, tidak bisa mengalahkan kami dengan cara baik-baik, mencari cara curang agar kami kalah. Andi, Damdas dan teman laki-lakinya tidak terima, bilang apa pentingnya bola voli, permainan anak perempuan. Mereka hanya mengalah, dan alasan lain.

“Omong kosong, kalau servis bola voli kau saja nyangkut dinet, apalagi lari, jangan-jangan kaki kau nyangkut di lapangan. Buk! Jatuh macam batang pisang.” Aku membalas seruan Andi. Teman-teman perempuan lain ikut berseru-seru, menyoraki setuju.

“Kau tidak akan menang lari melawan kami.” Andi melotot.

“Buktikan saja. Ayo!” Aku balas melotot.

“Oi, malas sekali aku menanggapi anak perempuan. Mulutnya bicara terus tidak mau kalah.” Andi melambaikan tangan.

“Bilang saja kau takut kalah, kan?” Aku balas melambaikan tangan.

Andi, Damdas dan kameradnya saling pandang, berhitung dengan situasi. Lapangan semakin ramai, tidak ada guru, semua murid keluar dari kelas, menonton keributan.

“Aku tantang kau lari lapangan sepuluh kali, pengecut.” Aku meneriaki Andi. Anak-anak perempuan yang berdiri di belakangku berteriak menyemangati.

Andi berbisik-bisik dengan Damdas.

“Ayo, berani tidak?” Aku berkacak pinggang, mengejek, “Dasar pengecut, sudah tahu akan kalah, berlagak mencari alasan untuk menghindar.” Anak-anak perempuan tertawa, ikut mengolok.

Kalimatku berhasil memancing kemarahan Andi, dia maju ke depan, balas berkacak pinggang, “Baik, kita lomba lari sepuluh putaran lapangan sekolah. Kalau kau kalah, maka kau akan berteriak kencang-kencang di tengah lapangan, bilang anak perempuan tidak bisa mengalahkan anak laki-laki. Anak perempuan itu cerewet, banyak bicara, dan tidak mau kalah.”

Aku menelan ludah, “Baik. Kalau kau kalah, kau bersama Damdas, dan anak laki yang lain besok datang ke sekolah memakai rok.”

Giliran Andi yang terdiam. Damdas mendekat, mereka berbisik-bisik lagi.

“Oi, lama sekali kalian berunding. Bergegas, nanti Pak Bin terlanjur kembali.” Aku menunggu tidak sabaran. Murid perempuan lain sudah mulai kompak berseru-seru, “Eli! Eli! El!”

“Baik, sepakat.” Andi akhirnya kembali maju, menjulurkan tangan.

“Sepakat!” Aku menjabat tangannya.

“Eli! Eli! Eli!” Yel-yel menyemangati terdengar dari lapangan sekolahan. Aku dan Andi menuju tempatstart lari.

 

***

Makan malam, Mamak tertawa lebar mendengar Amelia yang bak wartawan televisi handal berusaha melaporkan kejadian tadi siang.

“Lantas siapa yang menang, Amel?” Mamak penasaran.

Amelia mengacungkan jempol tinggi-tinggi, mulutnya masih mengunyah udang goreng, “KhakElhiyhang mhenang, Mak.” Amelia bergegas menelan kunyahannya, tawa lebar Mamak digantikan melotot, “Hebat sekali, Mak. Awalnya Kak Eli tertinggal jauh dari Kak Andi, hampir satu putaran lapangan. Awalnya Kak Andi larinya ngebut, semangat, langsung melesat jauh. Tapi mulai putaran keenam, Kak Andi sepertinya mulai kepayahan, Kak Eli terus lari, lari, dan lari mengejar. Kami terus menyoraki Kak Eli agar jangan berhenti. Persis di putaran ke sepuluh, kak Eli berhasil melewati Kak Andi. Top, Mak. Tahu rasa Kak Andi, habis dia meremehkan anak perempuan.”

Pertandingan itu memang seru. Terus-terang, aku tidak punya ide bagaimana mengalahkan Andi. Aku hanya berpikir cepat, sepuluh putaran bukan jarak yang pendek, lebih baik menyimpan tenaga dari pada tersengal malu tidak bisa menyelesaikan lomba. Maka aku sengaja memulai lari dengan perlahan, sementara Andi bergaya langsung sprint. Putaran sepuluh tidak semudah yang Amelia laporkan, aku benar-benar berjuang dengan sisa tenaga. Kakiku terasa berat, nafasku menderu, jantungku berdetak kencang, peluh membanjiri kaos. Hanya karena teriakan murid perempuan lain, serta membayangkan Andi, Damdas dan anak laki-laki lain akan tertawa mengejek kami kalau aku kalah, maka aku mengatupkan rahang, membujuk kaki agar terus berlari.

Andi kalah dua langkah dariku, tersungkur kelelahan. Hima langsung memelukku, bersorak penuh kemenangan, lapangan gaduh oleh teriakan kami. Pak Bin yang baru kembali dari kota kecamatan bingung, bergegas menyandarkan sepeda tuanya, memukul lonceng agar kami segera kembali ke kelas.

“Ah, itu karena lawannya Andi, lari sepuluh putaran saja ngos-ngosan.” Pukat nyeletuk, tidak terima mendengar cerita Amelia.

“Enak saja. Kau kumpulkan seluruh anak laki-laki lain, coba saja kalau berani melawanku lomba lari.” Aku menyergah.

Mamak tertawa, “Kau jangan-jangan termasuk yang membela Andi, Pukat? Oi, di mana-mana anak laki-laki itu selalu tidak mau dikalahkan anak perempuan.”

“Aku tidak membela siapa-siapa, Mak.” Pukat membela diri, “Aku hanya mau bilang, Andi itu hanya mulutnya yang pandai berbual, kalau anak laki lain yang tanding dengan Kak Eli, boleh jadi hasilnya lain.”

“Sama saja. Tetap kalah.” Aku memotong.

“Iya, Kak. Jangan suka meremehkan anak perempuan.” Amelia mendukungku.

“Aku tidak meremehkan anak perempuan.” Pukat membantah, “Aku hanya mau bilang, Kak Eli belum tentu menang lawan anak laki lain. Lagipula, memang anak laki lebih kuat, lebih cepat, lebih semuanya, kan. Tadi hanya karena lawannya Andi, jangankan lari atau main voli, berenang saja dia tidak becus.”

Bapak tertawa, menengahi, “Kalimat kau justeru bilang dengan jelas kalau kau sama seperti Andi, Pukat. Meremehkan anak perempuan.”

Pukat terdiam, menggaruk kepala yang tidak gatal, menyikut Burlian, mencari dukungan. Burlian lebih asyik mengunyah jatah udang gorengnya.

“Amelia benar. Jangan pernah meremehkan anak perempuan. Kau juga benar kalau laki-laki dilahirkan lebih kuat, lebih cepat, tapi bukan berarti perempuan tidak punya kelebihan. Esok-lusa, kau akan tahu, di mana-mana, di bidang apapun, perempuan bisa terlibat dan melakukannya sebaik laki-laki. Sejatinya kita memang tidak boleh saling meremehkan. Anak laki-laki tidak boleh meremehkan anak perempuan, dan sebaliknya, anak perempuan tidak boleh meremehkan anak laki-laki.” Bapak meraih gelas kopi luwaknya, “Oi, malang sekali nasib Andi dan teman-teman sekelasnya besok.”

“Malang kenapa, Pak?” Amelia bertanya.

“Bukankah kau sendiri yang cerita, Amel, kalau Andi kalah, besok Andi, Damdas dan murid laki-laki kelas enam harus datang ke sekolah memakai rok. Tidak terbayangkan, bukan?”

Meja makan dipenuhi tawa.

***

 

Meski aku tidak suka omong besar Andi, Damdas dan anak laki-laki lain, aku menghormati mereka sebagai teman yang memegang janji, melaksanakan kesepakatan meski itu memalukan.

Esok harinya, enam murid laki-laki kelas enam datang ke sekolah memakai rok. Wajah mereka bagai kepiting rebus, mulut tersumpal, tangan salah-tingkah, apalagi Andi, dia mengenakan rok ibunya, gombrang kebesaran. Seluruh sekolah tertawa terpingka-pingkal, sibuk menonton, mengikuti, menunjuk-nunjuk enam murid itu kemana pun mereka pergi.

“Kau ternyata cantik memakai rok.” Hima menyikut Damdas.

Yang disikut mendengus, tutup mulut kau, Hima.

“Itu rok siapa?” Aku tertawa sambil bertanya.

“Rok kakakku. Untung dia sudah sekolah di kota kabupaten. Andaikata dia tahu aku menyentuh rok kesayangannya, apalagi sampai memakainya, jangan-jangan dia menyuruhku mencuci rok ini sehari-semalam.” Damdas mengeluh.

Hima tertawa lagi, “Oi, coba kalau Marhotap masih ada, tidak terbayangkan dia terpaksa ikut memakai rok seperti kalian. Wajah tidak mandinya itu akan terlihat lucu sekali. Eh?”

Hima terdiam, buru-buru menghentikan tawanya demi melihat aku dan Damdas hanya diam.

“Maaf, Kawan.” Hima menelan ludah, tertunduk, “Aku tidak bermaksud begitu.”

Pojokan lorong tempat kami berdiri menunggu lonceng lengang. Hima menghela nafas, menyesal telah ketelapasan bicara. Selalu tidak nyaman, bahkan sekadar untuk mengenangnya. Hingga hari ini, kami tetap tidak tahu kabar Marhotap, dia tidak pernah ditemukan setelah kejadian malam itu.

“Aku lapar. Siapa mau nitip makanan?” Damdas bangkit dari jongkok. Menepuk-nepuk ujung rok.

Aku dan Hima menggeleng. Damdas sudah melangkah menuju warung sekolah, diikuti tatapan mata dan tawa murid sepanjang lapangan.

***

 

Pelajaran olahraga minggu berikutnya, lagi-lagi Pak Bin membagi murid kelas enam menjadi dua kelompok, perempuan dan laki-laki. Karena Pak Bin dalam waktu bersamaan harus mengajar kelas lima, jadi dia meninggalkan kami bermain ‘gobak sodor’ di lapangan sekolah. Kalian tahu ‘gobak sodor’? Permainan tradisional ini memang tidak masuk dalam daftar olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade, tidak juga dalam PON, tidak ada mendalinya, tidak ada kompetisi resminya, tetapi permainan ini tidak kalah seru dibandingkan sepakbola atau pertandingan olahraga kebanyakan, dan yang jelas ‘gobak sodor’ adalah permainan tradisional bangsa sendiri. Demikian penjelasan Pak Bin panjang-lebar sebelum kami mulai bermain.

Sebenarnya, hampir semua anak kampung tahu permainan halang-rintang ini, kami biasa memanfaatkan lapangan voli di dekat stasiun kereta, menambahkan garis lurus di tengah lapangan. Inti permainannya sederhana,  menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis demi garis hingga garis terakhir secara bolak-balik. Pemain yang menjaga garis lurus disebut kapten tim. Aku menjadi kapten di tim anak perempuan, Andi menjadi kapten di tim murid laki-laki. Kami saling mendengus galak saat mengundi siapa duluan yang menjadi tim bertahan, siapa yang menjadi tim menyerang. Tim murid laki-laki bertahan duluan, mereka segera berdiri gagah di setiap garis lapangan permainan, Andi mulai mengatur strategi timnya. Sementara aku meneriaki teman-teman tim, bertepuk tangan, murid perempuan lain balas berseru-seru. Permainan gobak sodor dimulai. Dengan kejadian seminggu lalu, kenangan memakai rok seharian, hanya hitungan detik, pertandingan berubah jadi emosional.

Ronde pertama hanya berjalan dua menit, Andi berhasil menyentuh badan salah-satu anggota timku saat berusaha menerobos garis tengah. Andi mengepalkan tangannya tanda senang, teman satu timnya balas berseru-seru. Giliran tim murid perempuan yang bertahan menjaga lapangan. Semangat sekali Andi dan teman-temannya berusaha mengecoh, gerakan menipu, maju-mundur, lengah sedikit langsung lewat. Aku berkali-kali meneriaki timku, agar konsentrasi di setiap jengkal lapangan. Ronde kedua juga berjalan ketat, hanya lima menit Andi dan teman-temannya berusaha menerobos, Hima akhirnya berhasil menyentuh badan salah-satu anggota tim murid laki-laki.

Skor tetap 0-0. Giliran tim anak perempuan yang menjadi penyerang.

Enam ronde berlalu tanpa terasa, skor masih kaca-mata. Tim murid laki-laki memang lebih bertenaga, lebih cepat, dan lebih kuat. Kabar baiknya, mereka lebih cerobohnya, Damdas saking cepatnya di ronde empat bahkan menabrak penjagaan, yang otomatis menggagalkan giliran menyerang mereka. Kami memang kalah cepat, kalah kuat, tapi kami lebih gesit, lebih lincah, berusaha melewati garis pertahanan mereka saat penjaganya lengah atau terprovokasi seruan-seruan.

Sembilan ronde tetap skor kaca-mata. Permainan semakin panas, terhenti oleh keributan. Aku menuduh Andi sengaja memukul anggota timku hingga jatuh saat menerobos garis. “Kau hanya perlu menyentuh, tidak perlu didorong.”

“Oi, kami tidak sengaja.” Andi mengangkat bahu, sama sekali merasa tidak berdosa, “Lagipula ini permainan, tentu ada resiko terkena sentuhan yang sedikit keras.”

“Itu bukan sentuhan. Itu pukulan!” Aku berteriak, sebal.

“Dasar anak perempuan. Sedikit-sedikit mengeluh, disentuh seperti itu saja sudah jatuh, seperti habis dipukuli, dasar manja.” Andi melambaikan tangannya.

Aku hampir loncat memiting Andi. Hima menahan lenganku, “Sudah, Eli. Toh, kita bisa membalasnya saat giliran kita berjaga.”

Aku menggerung, baiklah, pendapat Hima masuk akal.

Permainan dilanjutkan.

Ronde ke sepuluh berakhir dengan cepat, permainan terhenti lagi.

“Oi, kau sengaja memukulnya!” Andi berteriak marah, melihat anggota timnya jatuh kesakitan.

“Aku hanya menyentuhnya.” Aku menjawab ringan. Menyeringai. Salah teman satu timnya juga, lari cepat tapi tidak memperhatikan kalau aku sudah menunggunya, sengaja pura-pura menjaga kotak lain, saat dia melintas, dengan cepat aku ‘menepuk’ bahunya. Jatuh.

“Bohong. Kau sengaja memukulnya.” Andi berusaha mendekatiku, tapi Damdas menahan badannya.

“Oi, kenapa kau macam anak perempuan saja? Manja. Dipukul sedikit saja langsung mengeluh. Ini permainan, tentu ada resiko terkena sentuhan yang sedikit keras.” Aku sengaja membalik kalimat Andi sebelumnya, meniru gaya dan intonasinya.

Wajah Andi merah, Damdas berbisik menenangkan.

Permainan dilanjutkan.

Dan persis saat lonceng tanda istirahat akhirnya berbunyi, ronde kesebelas berakhir, Hima berhasil lolos dari garis terakhir. Meski aku dan empat anggota tim murid perempuan lain terkurung di kotak belakang, Hima berhasil melewati benteng pertahanan Andi dan teman-temannya. Aku mengepalkan tangan, berseru-seru senang, murid perempuan lain berlarian, berpelukan. Kami berhasil mengalahkan mereka dengan skor 1-0. Wajah Andi, Damdas dan murid laki-laki yang lain kusut, tertunduk lesu.

“Bagaimana? Apa sekarang kau sudah mau mengaku kalau anak perempuan lebih hebat dibanding anak laki?” Aku nyengir, sengaja mengganggu Andi.

“Kalian hanya beruntung.” Andi mendengus.

“Oi, kalian juga kalah main voli melawan kami.”

“Itu permainan perempuan. Wajar kami kalah.”

“Oi, kau juga kalah lari denganku. Bukan aku yang memakai rok ibu minggu lalu, bukan?”

“Itu tidak membuktikan apapun.” Andi berseru dengan nada menyebalkan, “Kau bisa saja mengalahkan anak laki lomba lari, main bola voli, gobak sodor, tapi kau tetap tidak bisa melakukan semua hal yang bisa dilakukan anak laki.”

“Omong kosong, kalau mau, kami bisa melakukan apapun yang kalian lakukan. Berladang, menjadi petani. Menjaring, menjala, menjadi nelayan. Menebang pohon, mengambil madu, memperbaiki genteng, kami bisa melakukan lebih baik apa saja yang kalian lakukan. Justeru kalian yang tidak bisa memasak, mengurus rumah, mencuci piring.” Aku menyeringai, mengejek.

“Kau tidak bisa melakukan semuanya.” Andi berseru ketus.

“Bisa. Sebutkan saja apa, aku bisa melakukannya dengan mudah.” Aku berkacak pinggang, menantang.

Andi terdiam, berdiri menatapku.

“Sebutkan saja, sini aku lakukan.” Aku mengacungkan kelingking.

Andi berpikir sejenak. Mengelap peluh di dahi, lantas menyebutkan permintaan yang membuat gempar seluruh kampung satu hari kemudian.

***

 

Senja membungkus lembah. Seluruh kampung sedang bersiap-siap menyambut shalat maghrib. Anak-anak sudah diteriaki agar berhenti bermain, bergegas pulang, segera mandi. Ibu-ibu sudah kembali dari sungai, membawa tumpukan baju yang selesai dicuci. Bapak-bapak sudah pulang dari ladang, berganti sarung bersih, menunggu adzan maghrib.

Wak Yati sedang asyik duduk minum teh di beranda rumah panggung.

Nek Kiba sedang membaca gurindam Melayu di rumahnya, penuh nasihat hidup, mendayu indah.

Bakwo Dar sedang mengomeli Can, yang pulang kesorean.

Pak Bin sedang mengeluarkan sepeda tua, hendak berangkat ke masjid kampung.

Bapak di rumah santai membaca buku tebalnya, Mamak di dapur menjerang air.

Seluruh penduduk kampung santai dengan aktivitas menjelang maghrib. Persis adzan berkumandang dari masjid kampung, semuanya mendadak gempar. Kepala-kepala terdongak. Teh di gelas Wak Yati tumpah, gurindam Melayu Nek Kiba terhenti, Omelan Bakwo Dar terhentu, sepeda Pak Bin bahkan hampir menabrak pagar.

Bapak meletakkan buku, menoleh ke arah masjid kampung.

Mamak berlarian ke ruang depan, bertanya.

Akulah asal keributan. Aku yang sedang memegang toa besar masjid kampung. Aku mengumandangkan adzan, kencang, nyaring, suara perempuan membahana di seluruh kampung. Itu permintaan Andi sebagai syarat pengakuannya kalau anak perempuan memang lebih hebat dibanding anak laki.

“Oi, siapa yang adzan di masjid?” Kepala-kepala muncul dari beranda rumah panggung.

“Tidak tahu.” Tetangga sibuk menggeleng.

Pak Bin bergegas mempercepat kayuhan—dia imam shalat.

“Itu sepertinya suara Eli, Bang.” Mamak berseru cemas.

Bapak menepuk dahi, bergegas turun dari rumah.

Malam itu dengan cepat berubah jadi malam ‘pengadilan’. Tetua dan penduduk kampung ramai-ramai mendatangi masjid.

***

 

“Seumur-umur aku belum pernah mendengar perempuan mengumandangkan adzan. Anak Pak Syahdan keterlaluan. Dia menghina masjid dan seluruh kampung.” Wak Lihan berseru marah.

“Benar, ini tidak lucu. Adzan bukan permainan anak-anak.” Tetangga lain ikut berseru.

“Dan kau Juha, Pendi, bukankah kau ada di masjid tadi? Kenapa kau biarkan anak perempuan yang adzan, hah?”

“Kami sudah melarang, Wak.” Juha menggaruk kepala, serba-salah.

“Iya, Wak. Kami sudah melarang Eli, dia malah marah-marah, bilang apa salahnya anak perempuan adzan. Eliana bahkan menyembunyikan toa masjid, Wak.” Pendi menelan ludah, bingung, kenapa dia juga ikut dimarahi. Andaikata yang lain melihat betapa galaknya Eliana tadi, mereka akan tahu tidak ada yang bisa mencegahnya adzan maghrib.

“Macam tidak ada anak laki-laki saja di kampung ini.” Tetangga lain mengomel, “Oi, seluruh kampung terkena dosa hanya karena ulah anak kecil.”

Tetangga lain berseru-seru menimpali.

“Tenang, semua harap tenang. Sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan Eli.” Mang Dullah mengangkat tangan, menyuruh peserta pertemuan diam.

Aku tertunduk, menelan ludah, melirik wajah Mamak yang menahan marah, wajah Bapak yang biasanya terlihat menyenangkan, kali ini datar dan menatap tajam. Aku menghembuskan nafas perlahan, sungguh tidak terpikirkan sebelumnya kalau tindakanku akan membawa keributan.

“Ayo, Eli. Kenapa kau tiba-tiba ingin mengumandangkan adzan?” Mang Dullah tersenyum, membujuk. Semua mata tertuju padaku, menunggu tidak sabaran.

Aku diam sejenak, lantas mulai menjelaskan. Penjelasan yang hanya menambah masalah berikutnya. Bahkan belum selesai kalimat patah-patahku bercerita, sudah disela tetua kampung.

“Astaga, kau melakukannya hanya untuk membuktikan anak perempuan bisa melakukan apapun yang dilakukan anak laki-laki?” Wak Lihan menepuk dahi, tidak percaya. “Eli, kau melanggar aturan agama hanya untuk hal sepele seperti itu?”

“Dasar anak-anak, tidak bisa berpikir panjang.” Mengomel.

“Laki-laki adalah imam, pemimpin bagi perempuan. Adzan adalah pekerjaan laki-laki, tidak bisa dilakukan perempuan.” Tetangga lain gemas menjelaskan.

“Tapi kami bisa jadi imam, Wak.” Aku membantah, entah kenapa, setelah diomeli sana-sini, dimarahi, keberanianku muncul kembali.

“Kau tidak bisa jadi imam di masjid, Eli. Kau hanya bisa jadi imam jika semua makmum perempuan. Oi, kau seperti tidak pernah mengaji pada Nek Kiba.” Mereka tambah gemas melihatku melawan.

“Hentikan cakap kau, Burhan. Dia mengaji padaku.” Suara Nek Kiba yang serak dan khas tiba-tiba terdengar di langit-langit masjid, “Dan asal kau tahu, dia adalah murid paling pandai berpuluh tahun aku mengajar mengaji.”

Kepala-kepala tertoleh. Usia Nek Kiba hampir delapan puluh, sudah jarang ikut kegiatan kampung karena alasan fisik. Jika Nek Kiba memaksakan datang ke masjid kampung, berarti urusan ini penting sekali. Peserta pertemuan terdiam, Wak Burhan bergegas menutup mulut, menatap Nek Kiba yang tertatih duduk paling depan, persis di hadapanku. Jika ada orang yang paling baik mengurus masalah ini, tentulah Nek Kiba, guru mengaji hampir seluruh penduduk kampung, termasuk Wak Burhan.

Peserta pertemuan menunggu Nek Kiba bicara.

“Baiklah. Pertama-tama, aku mau bilang, suara adzan Eli lebih kencang dibanding suara adzan Juha atau Pendi.” Nek Kiba menatap seluruh peserta pertemuan, suara seraknya terdengar tajam, “Tidak kencang secara harfiah teriakannya lebih keras, tapi kencang karena adzannya membuat seluruh kampung terhenti. Oi, itulah hakikat sejati adzan, membuat terhenti seluruh kegiatan. Yang sedang masak, berhenti mengoseng. Yang sedang bekerja membangun rumah, berhenti memasang batu bata. Yang sedang menanam bibit kopi, berhenti mencangkul. Bahkan adzan Eli memancing kita semua datang ke masjid kampung. Ada yang memang hendak shalat maghrib, ada yang ingin tahu, ada yang sekadar menonton. Terserah apa niatannya, tapi adzan Eli lebih kencang dari siapapun selama puluhan tahun aku tinggal di kampung ini.”

Semua peserta pertemuan terdiam. Satu-dua yang terkena sindiran Nek Kiba menunduk.

“Hal kedua,” Nek Kiba menatapku takjim, “Eli, aku tahu kau anak pemberani, kau tidak mau diremehkan oleh siapapun, apalagi oleh anak laki-laki. Tapi kita hidup dalam aturan main, Nak. Kenapa buah pisang harus matang setelah sekian hari di tandannya? Kenapa lebah harus membuat madu? Kenapa air mendidih jika dipanaskan? Karena mereka taat dengan aturan main yang ada. Sekuat apapun pisang menolak matang, air tidak mau mendidih, lebah menolak membuat madu, mereka harus menurut. Itu aturan alam, sunnatullah.”

“Jika alam saja punya aturan main, punya kaidah-kaidah yang harus ditaati, apalagi dalam agama, Eli. Perempuan tidak boleh adzan selama masih ada laki-laki yang pantas melakukannya. Sama halnya dengan menjadi imam shalat. Kau tidak bisa melanggarnya hanya karena ingin membuktikan perempuan bisa melakukan apapun. Karena pemahaman kita, apalagi pemahaman kau yang masih terbatas, emosional, berbeda dengan pemahaman saat aturan itu diberikan. Kau paham, Eli?”

Aku menelan ludah, mengangkat kepala, membalas tatapan Nek Kiba. Menatap wajah keriput yang ketika meluruskan aturan terlihat berubah menjadi bercahaya oleh kearifan berpuluh-puluh tahun, wajah yang tidak bisa dibantah bahkan oleh orang yang suka membantah sekalipun, wajah yang lurus, tulus dan selalu taat.

“Kau paham, Eliana?”

Aku mengangguk, berkata pelan, “Eli paham, Nek. Maafkan Eli.”

“Kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi?”

Aku mengangguk, “Eli berjanji, Nek. Sungguh maafkan Eli…. Eli tidak tahu.”

Nek Kiba menyemburkan ludah sirih ke samping, salah-satu peserta pertemuan tadi buru-buru menyediakan tempat kunyahan sirih, “Baik, permintaan maaf kau diterima. Pertemuan selesai, kalian semua pulang ke rumah masing-masing.”

“Oi?” Sebagian tetangga berseru, tidak terima, “Hanya begitu saja?”

“Benar. Harusnya dia dihukum.” Yang lain menimpali.

“Dihukum apa, Burhan?” Nek Kiba melotot, memotong seruan, “Kalau pertemuan ini harus menghukum seseorang, maka yang harus dihukum adalah orang-orang yang tetap di ladang saat adzan berkumandang, tetap asyik dengan pekerjaannya padahal waktu shalat telah lewat. Dan sepertinya kau termasuk salah-satunya, Burhan.”

Wak Burhan berjengit, salah-tingkah menggaruk kepala, macam Burlian atau anak lain gentar melihat penunjuk rotan Nek Kiba yang sering dihantamkan ke lantai papan. Sebagian tetangga lain tertawa melihatnya, berbisik-bisik, mengangguk setuju dengan cara Nek Kiba menyelesaikan keributan. Termasuk penjelasan aturan main adzan.

“Baik, karena Eli sudah minta maaf, sudah berjanji tidak akan mengulangi, maka pertemuan dibubarkan. Selamat malam, bapak-bapak, ibu-ibu.” Mang Dullah, kepala kampung segera menutup pertemuan.

Tetangga mulai meninggalkan masjid kampung.

***

 

Di masjid selesai, di rumah proses pengadilanku masih berjalan panjang. Mamak mengomel semalaman, bilang aku telah mempermalukan keluarga, bilang betapa tidak masuk akalnya cara berpikirku, bilang aku bebal dan tidak bisa dikendalikan. Bahkan Burlian dan Pukat yang selalu senang melihatku diomeli jadi menatap iba.

“Aku setuju soal kau tidak mau diremehkan. Tapi kau berlebihan, Eli.” Bapak tidak mengomel, dia hanya menasehati, “Hidup ini sudah demikian kodratnya. Coba kau lihat dari sisi lain, kau pasti akan takjub dengan kenapa harus seperti ini, kenapa harus seperti itu. Misalnya, walau laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, kau tahu Eli, ada pekerjaan hebat yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki paling perkasa, paling berkuasa sedunia.”

“Pekerjaan apa, Pak?” Amelia yang ikut mendengarkan nasehat Bapak bertanya tidak sabaran.

“Menjadi seorang Ibu. Kalian camkan itu. Hanya anak perempuan yang bisa hamil, melahirkan, menjadi seorang Ibu. Tidak ada laki-laki, meski dia gagah, tinggi, besar, meski dia hebat yang bisa hamil.”

Amelia tertawa, “Ya iyalah, Pak. Kan lucu kalau Kak Burlian atau Kak Pukat hamil.”

Kami tertawa—kecuali aku yang tetap menunduk.

“Nah, karena itulah anak laki-laki tidak boleh meremehkan anak perempuan, dan sebaliknya. Kita saling mengisi, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.”

Dua hari kemudian, saat aku menyelesaikan kain tenunan ketiga di rumah Wak Yati, aku mendapatkan ‘omelan’ berikutnya.

Schat, esok-lusa, saat kau besar, di tengah dunia yang maju, kau akan menemukan pemahaman yang lebih rumit dibanding yang kau pahami sekarang. Feminisme, kesetaraan jender… oi, aku bahkan tak fasih mengatakan istilah itu… sudah ada sejak dulu. Pemahaman itu kadang amat berlebihan. Esok-lusa, misalnya, kau akan menemukan sekelompok orang yang sibuk menuduh sebuah agama tidak adil, menyimpulkan suatu agama berat sebelah pada perempuan. Padahal mereka lupa, di semua agama, laki-laki adalah imam. Kau tentu tahu posisi seorang Paus dalam agama Kristen, bukan? Tidak pernah ada Paus seorang perempuan. Sama halnya dengan agama-agama lain.”

Begitulah, urusan pertaruhanku dengan Andi berbuntut panjang. Butuh berminggu-minggu hingga orang berhenti menasehatiku. Dan mungkin, walau bertahun-tahun berlalu, penduduk kampung tidak akan pernah melupakannya, Eliana, putri sulung Pak Syahdan, pernah mengumandangkan adzan di masjid kampung. Sama tidak lupanya mereka dengan beberapa hari kemudian, Andi, mengenakan rok, baju kurung, pemerah bibir, bedak, sanggul palsu, bolak-balik berjalan kaki mengelilingi kampung, sambil berteriak membacakan pernyataan, “ELIANA NOMOR SATU! ANAK PEREMPUAN MEMANG HEBAT! ANAK PEREMPUAN TIDAK BOLEH DIREMEHKAN! ELIANA NOMOR SATU!” terus saja begitu selama setengah hari penuh.

Itu harga kesepakatan yang harus ditunaikan Andi.

/** diambil dari https://www.facebook.com/darwistereliye **/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s