[Tere Liye] Pelangi Hatiku bagian 1; Pukat, serial anak2 Mamak #3

Bab 3. Pelangi Hatiku

“AWAAAS!”

BUUMM!

“AWAAASS!”

BUMMM!

Kilau petir menyambar samar, disusul gemeretuk panjang suara guntur, langit dipenuhi awan cokelat kehitaman, angin kencang menerpa wajah, membuat anak rambut beriap-riap. Minggu-minggu ini seharusnya sudah masuk musim penghujan, boleh jadi sore ini akhirnya hujan turun lebat setelah berbulan-bulan kemarau mengungkung kampung. Kabar baik bagi seluruh penduduk, itu artinya benih padi sudah bisa mulai ditabur.

Kami tidak terlalu memperhatikan kesibukan di atas langit sana, kami sedang asyik melompati cadas sungai. Kadang bergantian, lebih sering lompat serempak. Mandi sore yang menyenangkan.

“Kau lihat gayaku tadi, heh? Hebat, bukan? Itu namanya gaya ‘elang terbang’.” Hariman, teman sekelasku muncul dari permukaan air. Tertawa, seolah yakin benar kalau kami akan terpesona dengan lompatan terakhirnya.

“Ah, tidak ada apa-apanya itu. Apanya yang elang, menurutku lebih patut disebut kodok bunting lompat.” Can, teman sekelas Burlian, mencibirkan mulut memanaskan situasi, yang lain tertawa.

Muka Hariman menggelembung, nampaknya dia sedikit tersinggung, “Oi, dibandingkan lompatan kau, lompatanku jauh lebih baik. Lompatan kau macam nenek-nenek sakit pinggang disuruh loncat.”

“Kata siapa, heh? Jelas jauh lebih baik lompatanku.”

“Oi, kau berani tanding?”

“Kenapa tidak. Ayo kita ulangi. Biar Pukat dan Burlian jadi jurinya.”

Hariman dan Can serempak menoleh kepadaku dan Burlian, meminta kesepakatan sebagai juri. Aku mengangkat bahu, Burlian juga. Maka mereka bergegas berenang ke tepi sungai. Berebutan menaiki cadas setinggi tiga meter itu dengan berpegangan pada akar pohon yang menjuntai. Lantas mengambil ancang-ancang belasan meter dari bibir sungai, berlari sambil berteriak kencang.

“AWAAAS!”

BUUMM!

“AWAAASS!”

BUMMM!

Aku dan Burlian yang berenang mengambang di permukaan sungai menyeka wajah dari cipratan air. Kencang sekali debum mereka kali ini, sengaja benar menghantamkan badan ke permukaan air, ingin terlihat paling hebat. Can dan Hariman berenang mendekat.

“Bagaimana, lebih baik lompatan siapa?” Hariman bertanya.

“Hariman.” Aku menjawab mantap.

“Can.” Jawab Burlian di sebelahku, tidak kalah mantap.

Tentu saja urusan ini tidak pernah mudah diputuskan. Mau berapa kalipun kami ber-awas-awas bum-bum saling memamerkan teknik lompatan terbaik, penilaian kami tetap saja subyektif, membela teman masing-masing. Saat Can dan Hariman sudah saling memukul air, bertengkar tidak mau mengalah, saat aku berusaha memisahkan tangan-tangan mereka, terdengar teriakan kencang dari atas cadas.

“AWAAASSS!”

BUUMMM!

Raja —teman sekelasku lainnya yang bercita-cita menjadi penerbang serta pandai tipu-tipu—sudah berdebum menghantam permukaan sungai sebelum kami sempat menghindari posisi mendaratnya. Aku memakinya pelan, dia hampir saja menghantam kepala kami. Raja hanya tertawa lebar, sama sekali tidak merasa berdosa. Berenang mengambang di dekatku.

“Kau kalau loncat bilang-bilanglah.” Aku bersungut-sungut.

“Oi, bukankah sudah bilang? Aku malah berteriak kencang sekali tadi, bukan? Awaaass!” Raja nyengir. Memukulkan air ke wajah Hariman dan Can yang masih bersitegang.

“Bukannya kau tadi pagi absen sekolah karena sakit?” Aku menatap Raja.

“Kata siapa aku sakit?”

“Surat ijin yang diberikan ke Pak Bin isinya begitu.”

Raja menyemburkan air dari mulutnya, tertawa santai, “Surat itu aku yang buat, kutiru-tiru saja tulisan Ibu-ku, juga tanda-tangannya. Sama seperti kukarang-karang saja kalau aku lagi sakit.”

Aku dan Burlian saling bertatapan, kalau kami bisa semudah Raja memalsukan surat ijin. Segera mengusir pikiran itu jauh-jauh, ide yang berbahaya. Kalau sampai Mamak tahu, hukumannya berat sekali.

“Kalau aku jadi kau, aku pasti menyesal tidak masuk sekolah tadi pagi.” Hariman yang sepertinya sudah melupakan pertengkaran dengan Can, menyeringai menatap Raja.

“Apa pula serunya di sekolah? Hanya celoteh Pak Bin yang kau dengar setiap hari.” Raja menyelam sebentar, tidak peduli. Tubuhnya terlihat meliuk cepat di dalam beningnya air.

“Kau keliru. Tadi pagi sekolah benar-benar berbeda. Lebih dari biasanya.” Hariman langsung berkata saat kepala Raja kembali muncul di permukaan sungai.

“Maksud kau lebih membosankan?” Raja menyeka air di dahi.

“Tadi pagi ada anak baru.” Hariman memasang wajah serius.

“Itu saja?” Raja mengangkat bahu, tidak tertarik.

“Oi, kau seharusnya melihat anak baru itu. Pindahan dari kota. Kata Pak Bin, anak bidan yang baru bertugas di kampung kita. Anak—”

“Perempuan atau laki-laki?” Raja memotong.

“Perempuan.”

“Puuuh!” Raja menyemburkan air dari mulutnya, sama sekali tidak tertarik. “Apa serunya anak perempuan. Mereka cuma bisa berteriak-teriak saja di halaman sekolah. Lantas menangis mengadu kalau diganggu. Cengeng. Tukang lapor.”

Hariman ikut menyemburkan air dari mulutnya, sebal melihat yang diajak bicara sedikit pun tidak peduli, malah sekarang kembali meluncur menyelam. Aku menggaruk kepala, sebenarnya tadi pagi memang berbeda. Saat anak baru itu masuk kelas, seluruh mata menatap tak berkedip, terpesona setengah mati. Hanya saja, kalau urusan sekolah saja tidak pernah penting bagi Raja, apalagi urusan lain.

Raja yang kembali muncul ke permukaan sungai, dengan santai berseru kepada Can, “Kau membawa bola plastik, Kawan?”

Can menunjuk bola merah yang disangkutkan di akar pohon.

“Nah, kau tunggu apa lagi?” Raja menyuruh Can mengambil bola itu.

Sore semakin matang, langit semakin gelap. Gumpalan awan pekat terlihat sejauh mata memandang. Beberapa ibu-ibu yang mencuci baju di sungai bergegas menyelesaikan pekerjaan. Di pemandian juga ada Mamak, Ayuk Eli dan Amelia. Musim kemarau panjang membuat sumur di rumah kering, penduduk kampung pergi ke sungai untuk segala keperluan.

Kami sekarang asyik bermain bola air. Tertawa-tawa mengoper bola plastik. Cadas tempat kami bermain ada di hulu tempat pemandian penduduk, tidak jauh, hanya belasan meter. Kalau sudah bermain seperti ini, mandi sore berubah menjadi menyenangkan. Jauh lebih seru dibanding lompat dari cadas. Raja untuk kedua kalinya tangkas memasukkan bola ke gawang Hariman. Mengepalkan tinjunya tinggi-tinggi, tanda senang. Tambah sore semakin banyak anak-anak yang mandi, mereka bergabung, pertandingan bola air menjadi lebih seru.

Adalah tiga puluh menit kami asyik bermain saat bulir air pertama jatuh menetes. Ibu-ibu sudah sejak tadi beranjak pulang satu-persatu. Juga beberapa kawan yang diteriaki ibunya. Raja sekali lagi berhasil memasukkan bola plastik ke gawang Hariman. Mengepalkan tinjunya yang kesekian kali. Untuk permainan ini, Raja tiada tanding. Tangannya lincah bergerak, kakinya kuat mengayuh, dan badan liat-kekarnya membuat posisi mengambangnya lebih kokoh dibanding kami.

“PUKAT! BURLIAN! Kalian mau pulang kapan? Kalian mau bermalam di sungai, hah?” Suara Mamak terdengar lantang dari atas cadas. Di kepalanya tersampir keranjang rotan penuh dengan cucian basah. Ayuk Eli dan Amelia berdiri di belakang berbelitkan handuk, membawa air dalam gimbul.

Aku mendongak, tetes air hujan menerpa wajah.

“Pulang sekarang, Kak?” Burlian menyikut lenganku.

Aku mengangguk, sudah terlampau sore. Langit gelap.

Pertandingan itu bubar. Melihatku dan Burlian bergegas pulang, kawan-kawan juga ikut beranjak berenang ke tepi sungai, menaiki cadas.

“Sore, Mamak Nur.” Ada ibu-ibu yang menyapa ramah Mamak.

“Sore. Oi, ini puterinya Bu Bidan yang ikut pindah?”

Ibu-ibu yang menyapa Mamak mengangguk. Gadis kecil sepantaran kami itu ikut mengangguk sopan. Aku tidak terlalu memperhatikan, aku sibuk menepuk-nepuk dengkulku yang terkena lumpur saat memanjat cadas. Tidak mengapa, kalau hujan jadi turun, bekas licak tanahnya juga luntur.

“Ini pertama kalinya Saleha mandi di sungai, Mamak Nur. Sejak tadi tidak mau pulang-pulang dia. Asyik sekali berendam.” Ibu-ibu itu tertawa.

“Ah, jangankan yang baru pertama kali, anak-anakku juga kalau mandi selalu kelamaan. Lihat mereka baru pulang setelah diteriaki. Itu karena air sungai kampung masih jernih, Bu Bidan.” Mamak tertawa kecil, “Oi, tapi nanti tidak jadi gatal-gatal, kan. Aduh, kulitnya putih-mulus seperti bidadari ini harus mandi di sungai.”

“Semoga tidaklah. Lama-lama juga terbiasa.” Bu Bidan ikut tertawa.

Raja dan Hariman sudah berdiri di belakangku, menepuk-nepuk lumpur di kaki. Ikut menoleh, memperhatikan Mamak dan Bu Bidan yang sedang bercakap.

“Kami duluan, Mamak Nur.” Ibu-ibu itu melanjutkan langkah, disusul anak gadisnya.

Mamak mengangguk, lantas menoleh kepadaku, melotot menyuruh kami bergegas jalan. Aku dan Burlian tanpa perlu dipelototi dua kali, segera menyusuri jalan setapak menuju kampung. Kawan-kawan yang lain juga berlarian. Tetes air hujan menderas. Serabutan membawa handuk.

Tetapi ada yang masih berdiri terpana di tubir sungai.

Bagai batang kayu dipakukan ke bumi. Di bawah ribuan bulir air hujan, berlatarkan panggung serabut kilat yang mengukir langit, dan diiringi irama gemeretuk musik guntur. Di sana masih ada yang berdiri membeku. Dia seperti baru saja melihat puteri kayangan. Hatinya tertikam sudah.

Oi, lihatlah Raja, teman sekelas kami, hatinya berdegup kencang.

Jatuh cinta pada pandangan pertama.

***

Untuk kami yang masih kelas lima SD, kosakata cinta ibarat mahkluk dari galaksi lain. Mana pula kami mengerti definisi, kiasan, maksud, apalagi bentukan dari kata itu. Dari buku-buku perpustakaan yang dimakan rayap, dari banyak pelajaran yang disampaikan Pak Bin, atau dari percakapan orang-orang dewasa di sekitar kami, tidak pernah kata itu dibahas rinci. Kalah prioritas dibanding pembahasan sepak bola atau layang-layang di lapangan stasiun.

Maka ajaib sekali melihat perubahan perangai Raja sejak pandangan matanya tertaut wajah pujaan hati di tengah simfoni tetes air hujan. Raja yang dikenal suka bolos sekolah, sering mengantuk di kelas, tidak sabaran menunggu lonceng berdentang—hingga iseng memukulnya sendiri, suka menjahili siapa saja, termasuk menyembunyikan kunci ruangan kelas agar Pak Bin memulangkan kami, belakangan berubah menjadi anak paling rajin di seluruh sekolahan—seluruh dunia malah.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Aku melirik ke sebelah.

“Bukan apa-apa.” Tangan Raja gesit menutup buku-tulisnya, menyeringai, menggaruk rambut.

“Kau menulis apa?”

“Mengerjakan soal Bahasa Indonesia, apalagi?”

Aku memegangi perut, tidak kuat menahan tawa. Bukan melihat ekspresi sok-serius Raja, tapi mendengar jawabannya. Soal Bahasa Indonesia? Oi, kami sekelas jelas-jelas sedang berlipat kening mengerjakan soal Matematika. Entah apa yang sedang dipikirkan teman sebangku-ku ini hingga jadi se-aneh ini. Pak Bin di depan kelas berdehem. Aku buru-buru kembali ke soal latihan.

Saat itu aku belum tahu kalau Raja jatuh cinta. Yang aku tahu, sejak hari pertama Saleha masuk sekolah, dia memang sudah menarik perhatian. Untuk ukuran anak kampung, Saleha terlihat berbeda. Kulitnya lebih bersih, rambut hitam panjang hingga ke pinggangnya terawat rapi, matanya bundar jernih, berlesung pipit, dengan gigi putih cemerlang. Bedalah dengan standar kecantikan anak kampung, kulit gosong terbakar, rambut acak-acakan, mata sering belekan, dan gigi yang tetap kuning meski rajin disikat. Belum lagi menurut anak perempuan di kelas, Saleha juga anak yang menyenangkan, walau datang dari kota besar, Saleha tidak tinggi hati, mau berteman dengan siapa saja.

Hari-hari berlalu tanpa terasa, musim penghujan membuat kampung basah hampir setiap hari. Saleha perlahan-lahan menjadi bagian dari anak-anak sekolahan. Dia mulai mengerjakan piket kelas bersama kami, menyelesaikan prakarya anyaman bersama kami, menjadi petugas upacara bendera, juga akrab bermain di halaman sekolah. Semua berjalan seru dan menyenangkan seperti hari-hari biasanya.

Yang tidak biasa, Raja sekarang selalu hadir tepat waktu. Terlihat semangat dalam setiap kesempatan. Suka mencari-cari perhatian suatu ketika, dan tiba-tiba mengkerut diam di suatu ketika yang lain. Terkadang tersipu malu di suatu ketika, dan tiba-tiba malu-maluin di suatu ketika yang lain. Terlepas dari itu semua, aku lalai memperhatikan kalau teman sebangku-ku ini sering menatap lamat-lamat ke pojok kelas. Terpisah dua meja dari kami, duduk dengan anggun pujaan hatinya. Aku juga lalai memperhatikan kalau Raja seringkali salah-tingkah belakangan.

“Apa yang hendak kau lakukan?” Aku bertanya kepadanya di suatu siang, jadwal piket bersama membersihkan kelas.

“Mengangkat kursi ke atas meja, apalagi?”

Aku menepuk jidat, “Bukankah meja baris itu sudah dibersihkan.”

“Eh? Sudah, ya? Siapa yang membersihkan?”

“Oi, kau sendiri-lah yang membersihkannya tadi.”

Raja menggaruk kepala. Aku menyeringai sambil bergeser sedikit agar Saleha yang piket bersama kami bisa meneruskan menyapu lantai. Saleha tersenyum melihat Raja yang menurunkan kembali kursi-kursi. Sumpah, aku sekilas, seperti bisa melihat ada rona merah di wajah Raja. Rona yang tidak biasanya, karena bentuknya seperti pelangi.

Tetapi itu belum seberapa, yang paling menakjubkan adalah kabar kalau Raja pernah pagi-pagi buta datang ke sekolahan beberapa hari lalu. Sebenarnya kalau soal datang pagi-pagi itu biasa, apalagi dengan tabiat barunya yang semangat, dia jadi sering datang pagi. Yang membuat kami terbahak lepas adalah karena Raja datang pagi-pagi buta di hari Ahad. Hari libur.

Esok harinya, kami sibuk membicarakan sekaligus membayangkan kejadian itu. Tertawa memegangi perut. Membayangkan Raja yang bersiul santai menunggu di depan kelas, menunggu Pak Bin datang membuka pintu ruangan. Lima belas menit masih sepi. Jangankan Pak Bin, anak-anak lain tidak terlihat batang hidungnya. Lima belas menit lagi tetap sepi. Raja mulai menggaruk kepala yang tidak gatal. Apa ada yang salah? Matahari semakin tinggi. Kabut yang membungkus hutan kampung semakin menipis, halaman sekolahan tetap lengang.

Dari bisik-bisik teman aku tahu kalau Raja menyadari dia keliru ‘menghitung hari’ saat Bu Bidan dan Saleha yang hendak ke kota kabupaten kebetulan lewat di depan sekolahan.

“Sa-le-ha… Kau tidak memakai seragam?” Raja yang senang melihat pujaan hatinya datang (dan juga senang karena ada yang pergi ke sekolahan), bertanya bego.

“Seragam? Buat apa? Eh, kau kenapa memakai seragam?” Saleha balik bertanya, memperbaiki poni di dahi, lesung pipitnya terlihat.

“Ya memang harus memakai seragam, bukan? Kenapa Saleha yang tidak berseragam? Kau tidak sekolah?” Raja mulai menyadari sepertinya ada yang salah—tapi entah apa itu.

“Ini kan hari Minggu. Siapa yang sekolah hari minggu?”

Seperti ditampar, muka Raja sontak memerah. Hari minggu? Kesadarannya pulih. Dia bergegas berlarian pulang, menyembunyikan wajah dibalik tas—bagian ini sudah kami bumbu-bumbui ceritanya. Padahal dia sudah senang betul melihat Saleha datang.

Begitulah, padahal kisah ini baru berjalan dua minggu.

***

“Kalian buru-buru sekali?” Mamak bertanya.

“Iya, Mak. Pukat belum menyelesaikan PR?” Aku berbohong, menyeka ujung bibir, buru-buru menghabiskan teh di gelas. Burlian di sebelahku malah sudah berdiri.

“Bukankah sudah kau kerjakan semalam?” Mamak menyelidik, melihat piring di atas meja yang masih berisi dua-pertiga.

“Ada dua soal yang belum, Mak. Nanti hendak dikerjakan bersama yang lain saja sebelum lonceng masuk.” Aku mendorong piring, turun dari kursi, lantas bergegas mengambil tas dan sepatu.

“Burlian malah belum sama sekali dikerjakan, Mak.” Burlian memasang wajah tidak berdosanya.

Mamak menghela nafas, menyuruh kami bergegas.

Hujan semalaman membuat jalanan basah, ujung-ujung genteng basah, rombongan sapi yang menggeliat bangun pagi (juga basah), dan jutaan tetes air di dedaunan, embun. Aku dan Burlian berjalan beriringan. Masih terlalu pagi berangkat ke sekolah, baru pukul enam, tetapi aku tidak mau dipaksa-paksa Mamak menghabiskan sarapan. Tidak berselera, sudah seminggu terakhir sarapan kami hanya nasi putih dan kecap asin.

“Kau bawa payungnya?” Aku menoleh, teringat sesuatu.

“Tidak.” Burlian menggeleng, “Kakak buru-buru, Burlian jadi lupa.”

Aku nyengir, urung mengomel melihat wajah polos Burlian. Mendongak menatap langit kelabu. Semoga nanti siang tidak turun hujan, kemarin Mamak sudah marah-marah soal cucian yang tidak kering. Menyuruhku dan Burlian berhenti hujan-hujanan pulang sekolah. Baju basah menumpuk di jemuran.

Halaman sekolah masih lengang saat kami tiba. Burlian langsung menuju kelasnya. Aku menggosok-gosokkan bawah sepatu ke rumput, kemarin siang aku yang piket, jadi aku tidak akan mengotori lantai yang kubersihkan sendiri. Mendorong pintu kelas, suara berderit memenuhi lorong.

“Oi, kau sudah datang?” Aku berseru riang menyapa Raja—yang sebaliknya terperanjat kaget melihatku.

“Eh, tidak… tidak… eh, maksudku iya, aku sudah datang. Selamat pagi, Burlian.” Raja tersenyum kaku. Berusaha menyapaku senormal mungkin.

“Apa yang kau kerjakan di sana? Itu kan bukan meja kita?” Mataku memicing.

“Hanya… hanya lihat-lihat. Tidak penting.” Raja bergeser, pindah ke meja lain. “Kau sudah sarapan, Kawan? Aku belum. Aku ke warung dulu. Apa kata Pak Bin, jangan lupa sarapan. Karena dengan perut kenyang, pelajaran lebih mudah tersangkut di kepala. Mau ikut? Tidak? Baiklah, aku duluan.”

Aku tetap memasang wajah menyelidik, Raja melambaikan tangan, beranjak melangkah keluar kelas. Punggungnya hilang dibalik pintu, bersama suara siulnya yang terdengar fals dan ganjil. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, meletakkan tas. Eh? Jangan-jangan?

Kepalaku membayangkan sebuah kemungkinan.

***

Hujan turun lagi saat pelajaran dimulai. Aku menatap langit gelap dari jendela kelas. Gerimis. Mungkin ada jutaan bulir air yang jatuh ke bumi. Kaca jendela terlihat mengembun. Aku memainkan pulpen, bosan. Pindah memperhatikan seluruh kelas, melirik Raja di sebelahku. Sengaja benar, sejak tadi, Raja melindungi buku tulisnya dari intipanku. Asyik menulis. Aku tertawa dalam hati, percuma juga dia berusaha bertingkah normal kepadaku, sepagi ini aku sudah tahu misteri kenapa Raja belakangan terlihat aneh sekali.

“Kau lihat apa?” Raja mengangkat kepalanya, mendelik.

“Tidak lihat apa-apa.” Aku nyengir.

“Kau mau mencontek puisiku?”

“Siapa yang mau mencontek? Punyaku sudah selesai.” Aku menyodorkan buku tulis, memperlihatkan halaman yang sudah separuh terisi. Empat bait masing-masing empat baris.

Raja melihat selintas, membaca sebentar, lantas mencibirkan mulutnya, kembali asyik dengan puisi yang ditulisnya. Mungkin baginya, puisiku tidak ada indah-indahnya.

Lima menit berlalu senyap. Pak Bin masih menunggu takjim kami mengerjakan tugas itu. Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Indonesia, dan Pak Bin menyuruh kami menulis puisi. Beberapa hari lalu dia sudah mencontohkan banyak puisi. Menjelaskan kegunaan puisi. Penggunaan kalimat-kalimat indah di dalamnya, majas atau gaya bahasa yang bisa digunakan. Aku baru mengerti kenapa saat itu Raja paling antusias bertanya, paling banyak mencatat.

“Waktunya habis, anak-anak.” Pak Bin pelan mengetuk meja, “Sekarang kumpulkan ke depan. Pukat kau bantu kumpulkan.”

Aku sigap loncat dari bangku, bergegas berkeliling kelas mengambil kertas teman-teman, menarik paksa satu-dua, lantas kertas dengan beragam bentuk itu kuserahkan kepada Pak Bin.

“Bagaimana? Mudah saja bukan menulis puisi?” Pak Bin tersenyum, sambil merapikan tumpukan kertas di tangannya. “Kalau kalian ingin menjadi penulis yang baik, maka caranya sederhana saja, mulailah ditulis, ditulis dan ditulis. Kalian tidak akan pernah menjadi penulis yang hebat dengan hanya tahu caranya menulis, tahu teori-teorinya, tapi kalian tidak pernah melakukannya. Itulah bedanya belajar ber-bahasa Indonesia yang baik dengan sekadar punya nilai bahasa Indonesia sembilan di raport. Kita mempraktekkan langsung keterampilan berbahasa.”

“Pak, bagaimana kalau puisi-puisi kita itu dikirimkan ke Kuncung. Siapa tahu ada yang dimuat.” Hariman mengacungkan tangan.

“Ide yang hebat, Hariman. Kau benar, siapa tahu di antara kalian ada yang berbakat menjadi pujangga besar, baik mari Pak Bin bantu lihat. Bapak akan bacakan salah-satu yang paling spesial… sebentar—” Pak Bin menyibak lembaran puisi paling atas, melihatnya beberapa detik sebelum pindah ke lembar yang lain, “Hmm… bukan… tidak yang ini…” Teman-teman menunggu antusias, berharap puisi mereka yang dibacakan. Lima lembar lewat, Pak Bin belum menemukan yang tepat.

“Astaga, ini apa?” Pak Bin menarik selembar kertas. Matanya membulat, dahinya terlipat. Seluruh ruangan mendongak, menunggu dengan semangat apa maksud seruan Pak Bin barusan.

“Oi, oi…” Pak Bin membaca sebentar dalam hati guratan pulpen di kertas itu, lantas tertawa lebar, “Baiklah, sepertinya Bapak sudah menemukan pujangga kita. Ah, energi cinta memang selalu bisa menghasilkan sastra terkemuka. Layla-Majnun, Romeo-Juliet, Siti Nurbaya, semuanya karya hebat dari tangan-tangan para pencinta.”

Meski belum mengerti benar maksud kalimat terakhir Pak Bin, mata kami sudah membulat dengan voltase tinggi. Bacakan. Ayo, bacakan. Teman-teman berseru.

Aku sendiri sudah menyumpal mulut dengan tangan, menahan tawa. Aku tahu maksud kalimat Pak Bin barusan, aku mengenali lembaran kertas yang dipegangnya.

Pak Bin berdehem, mengambil posisi, menegakkan dada.

“Pelangi Hatiku.”

“Astaga, sungguh pilihan judul yang menarik.” Pak Bin berhenti sejenak, menggeleng-gelengkan kepala. Teman-teman sekelas sudah memasang kuping, bersiap mendengarkan setiap suku katanya.

“Ingatkah kau pertama kali kita bertemu?

Di tubir sungai itu aku memandang matamu.

Duhai pelangi, apakah wajahmu bersemu malu?

Atau diriku yang terkena pandang tak jemu?

“Astaga, bait pertama yang hebat sekali. Ini disebut bait dengan rima a-a-a-a. Pembuat puisi ini menceritakan perasaan bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Oi, diksi dan pilihan katanya amat prima.” Pak Bin memasang wajah lebih serius, menatap seluruh kelas.

Teman-teman saling pandang. Tidak mengerti apa maksud puisi yang sedang dibacakan Pak Bin. Hei, bukankah kami rata-rata hanya menulis tentang kampung permai, taman bunga depan rumah, bermain layang-layang, atau yang lebih canggih menulis tentang ibu, terima-kasih guru, atau patriotisme dan kisah pertempuran meniru contoh-contoh puisi Pak Bin beberapa hari lalu.

Itu puisi siapa yang dibacakan? Kenapa isinya aneh begitu?

Sementara aku sudah mati-matian menahan tawa. Apanya yang ‘pandang tak jemu’, yang ada juga kami berlarian pulang dari cadas sungai, kabur dari hujan. Apanya yang bersemu malu? Sedikit pun tidak mereka saling tatap. Aku memegangi perut, tidak tega walau sekadar melirik Raja yang duduk dengan muka sempurna merah di sebelahku. Membeku.

“Kau tahu, lesung pipitmu seperti gerimis di pagi hari.

Rambut panjangmu bagai beningnya air sungai mengalir.

Gigimu cemerlang laksana matahari bersinar terang.

Dan wajahmu menawan bak saputan pelangi tujuh warna.”

“Nah, bait kedua ini menggunakan majas metafora. Pengandaian-pengandaian. Kalian tentu ingat kita pernah belajar gaya bahasa ini…. Bait kedua puisi ini dengan baik menjelaskan seperti apa sang pujaan hati. Bukan main, selaras dengan judul puisi ini.”

Kami saling pandang lagi, itu puisi siapa? Bertanya satu sama lain lewat tatapan mata. Bingung. Apa maksud lesung pipit, rambut panjang, gigi cemerlang dan wajah menawan?

“Duhai, Saleha—” Mulut Pak Bin yang hendak meneruskan membaca mendadak tersumpal. Pak Bin bahkan merasa perlu melepas kaca-mata kusamnya.

“Eh, Sa-le-ha?” Pak Bin menatap ke bangku Saleha. Yang ditatap justru terlihat bingung, tidak mengerti kenapa namanya tiba-tiba disebut dalam kertas puisi itu..

“Oi, ini ternyata puisi cinta sungguhan.” Pak Bin setelah terdiam sejenak tertawa lepas.

Seluruh ruangan juga menjadi ramai setelah paham apa maksudnya. Dengung lebah mengeras, teman-teman sibuk berbisik bertanya satu sama lain. Saling tuduh. Wajah Saleha berubah jadi merah padam. Aku sudah tertawa memukul-mukul meja.

“Hmm.. Tidak ada nama pembuatnya…. Siapa yang membuat puisi ini?” Pak Bin bertanya setelah membolak-balik kertas puisi itu, menyeka ujung matanya yang sedikit berair karena tawa.

“Bukan saya, Pak!” Raja dengan bego-nya malah berseru kencang.

“Saya… saya tadi mengumpulkan puisi tentang hujan, Pak. Bukan itu yang saya buat….” Setelah hanya bisa membeku, wajah pias bercampur entahlah, akhirnya dia memutuskan bersuara.

“Oi, memang tidak ada yang bilang ini puisi buatan kau, bukan?” Pak Bin menyeringai, “Bapak tadi bertanya, ‘siapa yang membuat puisi ini’. Atau jangan-jangan kau yang buat?”

“Bukan, Pak. Sungguh. Saya tadi mengumpulkan puisi tentang hujan, saya tidak tahu kenapa puisi itu ikut terkumpulkan. Seharusnya tidak…” Raja menyeka dahinya yang berpeluh, berusaha berkelit—yang justru semakin membuat terang benderang siapa penulis puisi cinta itu.

Aku sudah tidak terlalu mendengarkan penjelasan Raja. Aku sudah bergelung di atas kursi, terbahak. Seluruh kelas juga berseru-seru ramai. Menoleh ke meja Raja. Menoleh ke meja Saleha. Menghubungkan banyak fakta dan kejadian tiga minggu terakhir dengan cepat. Mereka akhirnya tahu kalau ada benih asmara di kelas kami. Mulai mengolok-olok. Pak Bin bahkan ikut tertawa menggoda. Ah, meski kami belum mengerti benar apa itu kata ‘cinta’. Kejadian pagi itu selalu seru untuk diingat.

Lengkap dengan wajah merah Raja.

***

/**Di ambil dari https://www.facebook.com/darwis-tere-liye **/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s