[Tere Liye] nyonya hong (AMELIA, buku ke-1 serial anak-anak mamak)

‘Nyonya Hong, Nyonya Hong.” Aku berteriak sambil menahan geli, memegangi perut.

Chuck menyikut lenganku, melotot, ‘Jangan tertawa, kau nanti diomelin, tahu.”

Apa salahnya? Aku balas melotot, ini lucu sekali, bukan? Sejak keluarga ini pindah ke kampung, seluruh penduduk ramai bisik-bisik bercerita–mengalahkan saat dulu Samsurat dibilang bisa menebak nomor buntut SDSB. Awalnya bisik-bisik senang. Selalu menyenangkan punya tetangga baru, seperti saat Ibu Bidan yang baik-hati itu, penduduk kampung menyapa, mengucapkan selamat datang, semoga kerasan di kampung yang apa adanya dan penuh keterbatasan. Sayangnya, seminggu lewat, percakapan tentang keluarga baru ini mulai sumbang.

‘Aku sapa, oi, mereka cuma melengos.’ Itu keluh Pendi di balai-balai bambu.

‘Mungkin saja mereka tidak lihat kau, Pendi.’ Wak Burhan menyahut.

‘Apanya yang tidak lihat, Wak. Saya berpapasan di jalan setapak menuju sungai. Mereka mau mandi, saya pulang. Lebar jalan setapak itu hanya muat satu orang, kita harus menepi bergantian, mana mungkin tidak lihat?’

‘Ah, aku saja sering tidak lihat kau kalau lagi duduk malam-malam di sini. padahal kau persis di depan jidatku.’ Itu celetuk Wak Lihan, tertawa. Penduduk yang sedang santai menghabiskan malam di balai-balai bambu ikut tertawa. Pendi merengut kesal–dia memang berkulit hitam, sering jadi bahan gurauan.

‘atau mungkin karena kau tidak memanggilnya dengan nyonya, pendi? mana mau dia menoleh.’

‘enak saja, aku bahkan sudah memanggilnya lebih hebat, ‘yang mulia ratu’.’ pendi tidak terima, mulai berlebihan.

‘nah, kan, tetap saja kau tidak memanggilnya nyonya.’

‘tapi apa kau bilang tadi, Pendi? mereka mandi ke sungai? oi, bukankah beberapa hari lalu mereka mengomel di balai kampung, bilang tidak akan mandi di sungai, nanti gatal-lah, nanti kurapan-lah.’ Wak Burhan memotong tawa.

‘mereka terpaksa mandi di sungai, Wak. macam tidak tahu saja, musim kemarau sekarang semua sumur kering. mau mereka tidak mandi-mandi? berminggu2? bahkan gengsi bisa dikalahkan oleh urusan mandi, Wak.’ pemuda lain yang menjawab, yang lain mengangguk-angguk setuju.

urusan ini memang sedikit rumit.

‘hentikan kalimat kau Amel.’ Mamak memotongku di suatu malam, ‘tidak pantas kau menyebut-nyebut kejelekan orang lain di meja makan kita.’

‘tapi Mak, memang demikian. mereka sombong sekali.’ aku tidak terima, menoleh pada bapak, ‘benar demikian, kan, pak? anak-anaknya juga tdk mau berteman di sekolahan, langsung pulang. tidak pernah main bersama kami.’

‘mungkin mereka sibuk, Amel.’ bapak tersenyum, ‘dan mamak kau benar, berhentilah membicarakan orang lain.’

aku menggerutu dalam hati. coba kalau di meja makan malam ini ada kak burlian, kak pukat dan kak eli, mereka bisa mendukungku–tp sejak kak burlian berangkat ke jakarta, naik kereta terus naik pesawat, sekolah dibayari teman Jepangnya itu, terus kak pukat dan kak eli juga berangkat ke kota kabupaten, aku selalu makan malam bertiga saja dengan mamak dan bapak.

‘atau jangan2 karena mereka kaya ya, Mak, makanya tidak mau bergaul dengan kita?’ aku nyeletuk setelah diam sejenak, menyisakan suara sendok dan garpu.

‘Amel, kau kusuruh mencuci piring selama seminggu kalau terus membicarakan mereka, hah.’ Mamak menyergah dari seberang meja, marah.

aku menelan ludah, buru-buru menunduk, menghabiskan isi piring.

 

***

‘Nyonya Hooong. Nyonya Hooong.’ aku berseru lebih kencang, dua kali teriakanku barusan sepertinya mubazir, pintu depan rumah panggung yang kami datangi masih terkunci.

‘coba kau dengar, chuck, hoooong, itu kan mirip seperti suara klakson kereta, bukan?’ aku balas menyikut chuck norris, menahan tawa lagi, ‘dan oi, masa’ kita disuruh memanggil nyonya segala? ini lucu sekali.’

chuck norris mengabaikan ekspresi wajahku, menunjuk ke depan, terdengar suara langkah di dalam sana mendekati kami. pintu rumah dibuka.

‘kalian mau apa?’ suara tegas itu langsung bertanya.

‘eh, eh, selamat siang, nyonya hong.’ aku menyeringai, mendongak.

‘siang.’ perempuan separuh baya, tinggi, rambut keriting menjawab pendek, ‘kalian mau apa?’

‘eh, saya disuruh Mamak meminjam mangkok gulai, Nyonya Hong.’ aku mengutarakan maksud tujuan. aduh, mengeluh dalam hati, alangkah keliru cara berpikir mamak. sudah tahu keluarga baru ini sombong, kenapa aku tadi disuruh meminjam mangkok segala. pasti akan ditolak.

‘memangnya di rumah kau tidak ada mangkok?’

betul, kan, jawabannya malah terdengar menyakitkan–seperti yang sering dibicarakan penduduk.

‘eh, ada nyonya.’

‘lantas kenapa harus meminjam punya kami?’

aku menggaruk rambut yang tidak gatal, chuck norris mengkerut di sebelahku. aku juga tidak tahu kenapa mamak menyuruhku meminjam mangkok. padahal aku sedang senang karena bapak baru pulang dari kota kabupaten, dari rumah koh acong, pulang membawa banyak oleh-ole.

‘kata mamak, kata mamak, mangkok gulai kami kurang besar. jadilah mamak menyuruhku ke sini.’ aku memasang wajah serba-salah, sedikit nelangsa. mamak pasti marah kalau aku pulang dengan tangan kosong.

‘bisa, jadi bisa pinjam mangkok gulainya, Nyonya Hong?’ aku takut-takut mengulang permintaan barusan.

wanita separuh baya itu menyelidik, mendengus, balik kanan.

aku menoleh chuck norris. dia mengangkat bahu, tidak mengerti. eh, kami jadi diberikan pinjaman atau tidak? masa’ hanya begitu saja reaksinya? beruntung, sebelum aku memutuskan ikut balik kanan, menuruni anak tangga, nyonya hong kembali dari belakang, membawa mangkok.

‘jangan sampai pecah.’ menjulurukan kasar.

‘iya, nyonya. tidak akan.’

‘tergores sedikit saja, kau harus ganti. bilang mamak kau.’ berkata serius.

‘iya, nyonya.’ aku menelan ludah.

jadilah kami kembali ke rumah, sambil berjingkat membawa mangkok gulai itu, seperti membawa bendera merah-putih pas upacara hari senin.

***

‘nyonya hooong. nyonya hoooong.’ aku berteriak lagi.

‘kau berteriak berisik sekali, amel.’ chuck norris yang berdiri di sebelahku menutup kuping.

aku tertawa kecil, ‘namanya juga berteriak, kan? pasti kencang.’

‘tapi kan tidak perlu pula seperti jadi komandan upacara.’

aku tidak menjawab, menunjuk ke depan dengan ujung bibir, terdengar suara langkah kaki, pintu dibuka.

‘ada apalagi, hah?’ perempuan separuh baya, tinggi dan kurus itu menatap kesal. setengah jam terakhir aku sudah dua kali berteriak2 di depan rumahnya.

‘eh, eh, ini mangkok gulainya, nyonya hong.’ aku takut-takut menjulurkan tangan.

‘maaf, tidak sempat di cuci. karena, eh, karena sebenarnya mamak tadi menyuruh meminjam mangkok agar kami punya tempat utk mengirimkan makanan. bapak baru pulang dari kota, dikasih bungkusan mie ayam lezat oleh koh acong. kata mamak, kalau pakai mangkok di rumah terlalu kecil, nanti tidak cukup utk keluarga nyonya hong, jadi amel disuruh meminjam mangkok. tidak apa kan ya? mangkoknya tdk rusak kok. nanti kalau nyonya hong sudah pindahkan, amel bisa bantu cuci biar bersih.’ aku menyeringai.

adalah setengah menit perempuan tinggi kurus itu terdiam. dan setelah aku dan chuck norris juga ikutan bingung bagaimana urusan ini kalau nyonya hong menolak mie ayam ini, terpaksa harus dibawa pulang, perempuan setengah baya itu akhirnya mengangguk, senyumnya tipis sekali, menerima mangkok dari tanganku, lantas berkata, ‘silahkan masuk dulu. namamu amel, bukan? ayo, masuk, ajak teman kau, jangan ragu-ragu. ada minuman dingin di dalam.’

aku ingat sekali, waktu kecil, mamak selalu mengoceh tentang keteguhan hati dalam berbuat baik. pagi, siang, malam, selalu mengoceh seperti radio rusak–belum lagi marah-marahnya, dan sialnya karena tinggal aku sendirian di rumah, akulah sansak yang terus diocehi mamak. tapi aku tahu, mamak tidak pernah berhenti dengan ocehan, dia memberikan teladan yang tiada tara dengan perbuatan.

setengah jam di rumah nyonya hong, bukan saja aku dan chuck norris pulang dengan membawa minuman kotak dingin yang keren–jaman itu mana ada anak kampung minum beginian, chuck norris malah sengaja menyimpannya berbulan2, sayang diminum, bukan hanya itu, melainkan seminggu kemudian, bisik-bisik suram tetangga tentang keluarga itu mulai mencair. kecuali ya soal itu, sembunyi2 mentertawakan panggilang yang diwajibkan nyonya hong untuk dia bagi seluruh penduduk kampung, ‘panggil saya nyonya, nyonya hong, kalian dengar, pakai nyonya. sy tdk akan menanggapi jika tdk dipanggil seperti itu. titik’

 

*dicomot dari facebooknya tere liye..🙂

2 comments

  1. Belum mas.. Ini masih memantau FBnya Tere Liye.. Sudah tak sabar sebenarnya menanti, soalnya Tere Liye janji bulan Desember, tapi sampe sekarang belum liris..

    Cerita ini saya dapat dari Pages FBnya Tere Liye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s