Programmer, Mimpi, Lovelace

Tadi malam jadi stalker timelinenya @shitlicious, terus tiba tiba nemu gambar yang ngakak.. Ni gambarnya

program

Jadi keinget sam mimpi fizah dulu. Fizah Muharrani adalah seorang mahasiswa informatika yang masih belum lulus. Dulu selalu berkhayal, akan menjadi seorang programmer wanita yang sukses. Amat membanggakan kelihatannya, karena kebanyakan seorang programmer adalah pria. Dulu, ketika mulai menekuni program, suka larut dalam memecahkan kode kode yang menurut orang rumit tapi menurut fizah itu sangat menyenangkan. Seharian memikirkan logika dan kemungkinan, lalu ketika stuck akan tiduran dengan memikirkan kode kode dikepala, ketika buang air besar termenung memecahkannya, ketika makan nasi menjadi butiran kode kode dan aktivitas lainnya (LEBAY!!).

Tapi ketika kode tersebut bisa dipecahkan, waw hati bangga sekali. Puas rasanya kawan. Sangat puas!! Memecahkan kode rumit. Terkait dengan kode kode, dulu bangga sekali menjadi yang pertama seminar keja praktek. Sekarang?? Wah tertinggal sekali di skripsi. Harapan dan mimpin menjadi seorang programmer pupus sudah. Melihat kode saja sudah pusing..

Yuk. kita bahas tentang programmer itu apa, kode kode yang digunakan dan nasib seorang programmer..

Programmer membuat “code” yang ciamik. Membuat code yang “bersih”, “rapih”, “mudah dipahami” dan yang paling penting adalah memastikan semuanya bebas dari error. TAPI bukan memastikan produk yang mereka buat dapat digunakan dan dapat dimplementasikan dengan modul lainnya. Programmer adalah spesialis di bidang “pembuatan” bukan hasil akhir ataupun perencanaan. Sedangkan developer itu juga melakukan “coding”, memastikan “code” yang di buat layak saji untuk sebuah produk, dan bebas dari error. Tetapi yang lebih penting adalah mereka bekerja untuk menyatukan dan mengatur “code” yang ada supaya dapat memenuhi requirement. Developer menganalisa requirement dan selanjutnya mengkonveriskannya menjadi design software, dan membagi tugas tersebut ke masing-masing programmer. Mereka juga menyediakan solusi teknis untuk sebuah fitur yang pastinya harus memenuhi requirement dari client.

Bagaimana seharusnya menjadi seorang programmer itu? Untuk menjadi seorang programmer, kamu tidak harus merupakan seseorang yang murni memilki tingkat kecerdasan sangat tinggi. Namun, programmer dituntut agar bisa menghadapi tantangan yang kadang di luar pemikiran orang awam pada umumnya. Jadi, seorang programmer harus sering latihan atau malah harus sering mengerjakan pembuatan aplikasi, baik yang bersifat bisnis maupun bersifat latihan dan koleksi semata. Dari sinilah seseorang bisa menjadi cerdas tanpa harus memperhatikan faktor bawaan dari lahirnya.
Programmer pertama di dunia mungkin banyak yang belum tahu. Lah wong fizah juga gak tau.. hheu.. Tapi yang menarik disini adalah seorang programmer pertama di dunia adalah seorang wanita. Yap!! wanita kawan.. Sedangkan selama ini programmer sangat identik dengan gender laki laki..
ada

Augusta Ada King, Countess of Lovelace (10 December 1815 – 27 November 1852), atau lebih dikenal dengan sapaan Lovelace, berasal dari Inggris yang dinobatkan sebagai programmer pertama di dunia. Lovelace merupakan putri seorang penyair bernama George Gordon, Lord Byron ke-6, dan ibunya Anne Isabella “Annabella” Milbanke, Baroness Wentworth. Ibunda Lovelace berpisah dengan ayahnya sejak Lovelace masih kecil, dan Lovelace dibesarkan oleh ibundanya. Sewaktu kecil Lovelace sering sakit-sakitan. Saat Lovelace berumur 8 tahun dia mengalamai sakit kepala sangat hebat yang mempengaruhi pengelihatannya, bahkan pada tahun 1829, Lovelace pernah mengalami kelumpuhan yang menyebabkannya harus terbaring untuk beristirahat selama hampir setahun. Dan pada tahun 1931, Lovelace kembali bisa berjalan, meskipun masih dengan bantuan tongkat. Lovelace melanjutkan pendidikan di rumah akibat kesehatannya yang buruk. Lovelace diajarkan matematika pada umur yang muda oleh William Frend, William King dan Mary Somerville. Selain itu, salah seorang guru Lovelace adalah seorang ahli matematika dan logika, Agustus De Morgan. Lovelace sangat menikmati waktunya mempelajari matematika, bahkan dia menganggap matematika merupakan bagian dari hidupnya. Karena kemampuannya yang tinggi dalam bidang matematika, Charles Babbage, merupakan salah satu tokoh terkenal dalam bidang komputer, mempekerjakan Lovelace dalam pengerjaan mesin analitis. Pada saat itu, mesin analitis merupakan mesin yang digunakan untuk menerapkan kerja sebuah algoritma, dan dianggap merupakan awal mulanya mesin komputer. Dengan menggunakan mesin analitis inilah, Lovelace dipekerjakan menjadi seorang programmer. Adapun program yang pertama kali dibuat oleh Lovelace adalah pengimplementasian algoritma Bernouli’s Numbers dengan menggunakan mesin analitis milik Babbage. Lovelace memulai memprogram algoritma tersebut ketika Charles Babbage menyuruh Lovelace untuk menerjemahkan paper dari Luigi Menabrea, seorang insinyur dari Italia. Paper tersebut dikenal dengan Menabrea’s paper. Dari situlah Lovelace mulai membuat program algoritma tersebut selama hampir satu tahun. Kemudian pada tahun 1952, seratus tahun setelah kematiannya, ditemukan catatan milik Lovelace mengenai mesin analitis milik Babbage. Catatan tersebut kemudian disusun berdasarikan label dari A sampai G. Dari catatan berlabel G itulah diketahui program pertama yang dibuat oleh Lovelace, dan Lovelace pun dinobatkan sebagai programmer yang pertama di dunia.

Lovelace merupakan salah satu inspirator baru para kaum hawa, sebagai teladan dari semangat dan kemauannya yang tinggi dalam menuntut ilmu. Keterpurukkan dalam keluarga maupun kemerosotan kesehatannya waktu kecil tidak pernah menyurutkan semangatnya dalam belajar dan berkarya.
Programmer itu terkadang freak, mereka jarang bersosialisi karena waktunya habis untuk memecahkan kode. Terkadang untuk mengurusi diri sendiri saja jarang, seperti mandi, makan tidur, hanya roko dan kopi teman setia mereka. Tapi itu ya tergantung pada diri sendiri sih.. To tidak semua juga, ada malah yang masih bisa main keluar dan meninggalkan komputernya..🙂 Berikut ada artikel tentang padatnya kerja programmer dan nasib seorang programmer di Indonesia..

Dari beberapa kali diskusi dengan temen-temen yang bekerja sebagai programmer, baik sebagai freelance, kerja di software house (dari kelas kecil, menengah, sampai kelas kakap), ataupun kerja di perusahaan yang core business nya bukan IT. Dari hasil diskusi singkat, ada yang berpendapat yang sedikit membuat saya agak “menangis” juga: “Jadi programmer itu seperti, maaf, seperti seorang kacung yang harus mengerjakan apa yang diperintahkan”. Ada yang lain berkomentar “kerjanya sudah sulit, tapi gaji tidak sepadan”.

Salah seorang teman setelah lulus S1 TI, kerja di sebuah software house, kemudian dia ditempatkan di salah satu clientnya. Teman saya ini sampai tidak diijinkan makan siang karena modul yang sedang dikerjakan belum selesai juga, sampai ditungguin sama si client. Baru setelah jam 3 sore, teman saya ini diijinkan untuk makan siang. Gile bener…sedemikian burukkah gambaran pekerjaan programmer di negara kita ini?

Ini sepengetahuan saya saja, kira-kira gaji per bulan untuk fresh graduate S1 TI adalah 2 – 3.5 jt untuk 3-6 bulan pertama, tapi memang tidak jarang para buruh TI ini diberi pekerjaan yang cukup banyak dengan tenggat waktu yang cukup “mepet”. Jadi tidak heran jika beberapa (mungkin sebagian besar) pekerja TI, terutama programmer mengeluh dengan kondisi ini. Mungkin juga bukan karena gaji, tapi mungkin karena para pekerja muda TI kita tidak siap dengan kondisi under pressure ..mungkin! Perlu di survey tersendiri tentang kondisi ini.

Tapi kondisi ini berbeda memang dengan negeri seberang, katakan Singapore, Thailand ataupun Malaysia, dimana gaji yang ditawarkan lebih baik. Apakah perlu adanya kebijakan dari pemerintah untuk memberikan standar gaji untuk perbaikan penghargaan bagi pekerja TI? Jadi mungkin, kondisi ini dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan terkait dengan keterlibatan para profesional TI untuk gerakan OpenSource di negara kita ini. Jujur saja, keterlibatan dari para programmer atau komunitas dari gerakan OpenSource di negara kita ini masih “baru” dimulai dari akademis. Dari profesional muda TI sendiri, mereka masih sibuk untuk mencari nafkah yang cukup dapat dijadikan sebagai pendapatan tetap yang “memadai”. Bagaimana baiknya ya? Hmm….keep in wondering! Hope that this condition become better..

notepad-plus-plus-coding-editors-for-windows pro1 coding-session-xmonad 67

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s