[Cerpen] Perasaan Zakiku – 1

Dulu, untuk nambah nambah uang jajan, biasanya fizah ngasih les ato bantuin temen ngerjain tugas. Ya lumayanlah, bisa untuk makan sehari..🙂 Nah, dulu sempat menulis cerpen dan kirim sana sini, alhamdulillah belum ada yang lolos.. Hehe.. Jadi keingetan, kenapa gak posting disini ajja yaa.. Waktu search di gmail, nemu salah satu cerpen yang judulnya “Perasaan Zakiku”, terlihat dari judul ajj kayaknya udah ga komersil ya?? Ya sudahlah, memang kemampuan menulis fizah hanya sampai disitu. Kan sudah diceritakan dalam salah satu postingan yang judulnya World Book Day, disitu sudah jelas mengatakan bahwa fizah hanya bisa mengkritik.. hehehe.. So, kalau kawan sekalian ingin mengkritik.. Monggo..🙂 Disini saya pecah jadi dua postingan ya agar tidak terlalu panjang..

“PERASAAN ZAKIKU”

“Kamu kenapa sih?,” suara Zaki mengeras padaku memecah kesunyian kampus yang sudah sepi. “Jadi marah-marah ga jelas kayak gini. Kamu itu sebenarnya mau apa? Sekarang aku udah ga pernah ngerti apa yang kamu inginkan. Kamu jadi beda. Bukan Izka yang kukenal selama ini,” bentak Zaki pada ku. Bukan hanya sekali ini Zaki membentakku, akhir-akhir ini acap kali dia membentakku.

“Beda dari mananya sih? Kamu sendiri yang beda kali. Aku masih sama kayak dulu, buktinya aku masih sering main dengan yang lain. Sedangkan kamu, kamu sekarang udah ga pernah nganggap aku ini ada. Kamu udah ga pernah perduli sama aku,” belaku sambil berlalu meninggalkan Zaki sendirian. Aku tak sanggup untuk melanjutkan pertengkaranku dengan Zaki lagi. Aku takut nanti bendungan di mataku jebol. Aku tak ingin Zaki melihat ini, aku bukan wanita lemah. Sekilas terlihat olehku raut muka Zaki antara bingung dan marah. Ku buang mukaku melihat mukanya itu.

Akhirnya, hal yang kutakutkan terjadi, kami bertengkar hebat. Di kampus lagi. Bukannya kami tidak pernah bertengkar sebelumnya. Dulu pun kami sering bertengkar tantang masalah-masalah sepele tapi dengan sendirinya kami baikan tanpa ada yang meminta maaf ataupun memaafkan terlebih dahulu. Sekarangpun sebenarnya masalah yang kami hadapi sepele, tak beda jauh dengan masalah-masalah yang lampau, tapi hubungan kami yang sudah tak seperti dulu.

Dulu kami sangat dekat seperti kakak dan adik, mesra bagai orang yang sedang berpacaran. Banyak orang yang bilang kalau kami sebaiknya jadian saja.

Tapi hal itu sampai sekarang hanya ada di angan-anganku saja karena hal itu tak pernah terjadi. Bukannya aku yang tidak mau jadian dengannya tapi dia yang tidak pernah sayang padaku. Karena dulu dia pernah bilang kalau sudah mempunyai orang yang disayangi dan aku yakin itu pasti bukanlah aku. Aku sadar itu, oleh sebab itu aku perlahan-lahan mulai menghindari Zaki saat tahu hal itu. Walau dihatiku ingin seperti itu tapi tetep tak bisa, akhirnya aku ambil tindakan.

Aku pindah kostan untuk mendekati Zaki, ini bukanlah suatu ketidaksengajaan. Aku pindah ke kostan dekat dengan kostan temannya karena Zaki sering main ke kostan temannya itu. Aku yakin mau tak mau dia pasti akan mampir ke tempatku lalu membawakanku makanan dan kebahagiaan untukku. Hey!! Siapa yang bisa menolak itu??

Lalu kami melakukan nostalgia kali ini lebih dari yang kemarin-kemarin, kami belanja keperluan sehari-hari dan mendorong troli belanjaan berdua, makan bersama, dan ke kampus bareng. Tapi kebahagiaanku itu kurasakan hanya sesaat karena tak lama kemudian teman Zaki pindah kostan. Dan Zaki pun tak pernah sekalipun ke kostanku lagi. Iya sih kami masih berkomunikasi di kampus, tapi itu beda. Padahal teman-teman Zaki yang lain masih sering main ke kostanku. Tapi Zaki?? Apa sebenarnya yang menyebabkan Zaki tak pernah lagi mau main denganku??

Tak terasa air mataku mengalir mengingat kejadian-kejadian yang kualami bersama Zaki. Sedih rasanya mengingat masa-masa yang indah dulu, sedangkan kini aku sudah tak bisa merasakannya. Huff.. waktu terus berjalan tanpa menyadari kalau aku ingin waktu ini berhenti dan mengulang lagi kejadian waktu itu.

“Ki, ki..!!” sayup-sayup terdengar ada yang memanggil lamaku. Ah, mungkin aku salah dengar. Mana mungkin ada yang tahu kalau aku sedang disini, kan sekarang aku sedang menghindar dari dunia luar dengan nongkrong di basement paling atas kampusku.

“Ki, bantuin dong!! AZKI RAHMITA dengarin aku ga sih??” panggil suara itu lagi, kini lebih jelas. Refleks aku menoleh ke belakang ketika nama lengkapku terdengar. Kulihat wajah kusut temanku Naifa, berusaha menaiki tangga kayu yang sudah reyot dengan badannya yang tambun, belum lagi di kedua tangannya yang sibuk memegang makanan. Sambil meredam tawa ku gapai tangan Naifa.

“Kenapa sih, kamu musti nongkrong disini?? Kayak ga ada tempat lain aja selain disini,” keluh Naifa setelah menjatuhkan bokongnya yang besar di sebelahku. Aku menoleh sekilas pada Naifa, sisa keletihan masih tersisa di wajah bulatnya. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Naifa.

“Yee, malah senyum!! Emang sih viewnya bagus, tapi kan buat kesininya itu lo yang susahnya setengah mati. Udah deh, ntu mah ga usah dibahas lagi. Yang mustinya harus kita bahas adalah masalah kamu ama Zaki. Gimana kelanjutannya sekarang??” tanya Naifa, sambil mulai mengunyah makanan yang dibawanya.

“Udah tamat, ga ada kelanjutannya. Aku dan Zaki dulunya ga saling kenal dan sekarangpun hal itu diterapkan kembali dihubungan kami,” jawabku ogah-ogahan.

“Azki.. Azki.. kenapa sih kalian bisa kayak gini?? Semenjak kamu berantem sama Zaki kamu jadi berubah pendiam dan sering menyendiri. Aku kan jadi bingung ngelihat kamu kayak gini, belum lagi kesepian soalnya gak ada yang nraktir. Hehe.”

“Hahaha… apa sih?? Makan terus yang dipikirin, liat tu badan mu udah kayak apa. Lagian walaupun aku menyendiri, buktinya kan kamu yang nyari aku. Jadinya aku gak sendiri lagi karena ada kamu di sini… Hehe.”

“Ya udah. Kita berdua emang selalu kesepian kalau ga ada satu sama lain. Kita ntu emang saling ngebutuhin satu sama lain. Aku cuman takut aja kamu ngelakuin hal-hal yang diluar nalar dan kendali!!”

“Maksud kamu??”

“Yaa..,” Naifa ragu-ragu menjawab, aku menatap wajahnya mengunggu jawaban. Akhirnya Naifa melanjutkan setelah aku mulai memperlihatkan wajah tak sabaranku, “Yaa kamu mulai coba nyelakain diri kamu sendiri dan kamu mulai berpikir kalo dengan itu Zaki jadi merasa bersalah terus baikan lagi ama sama kamu.”

Aku terkesiap. Terkejut mendengar perkataan Naifa.

***
Zaki aku udah capek dengan semua masalah ini. Kamu ga pernah perduli sama aku lagi. Aku pergi!!

Massage sent..
Delivered to :
Zakiku..
081122334455

Lalu setelah pesan itu terkirim, aku menonaktifkan hapeku ini. Aku keluar dari kamarku menuju jalan raya, memberhentikan angkot dan ikut berdesak desakan dengan penumpang lainnya. Aku kebagian duduk paling ujung sambil melihat pemandangan dari belakang angkot. Melihat tempat yang dituju sudah semakin dekat kuberhentikan angkot tersebut. Setelah membayar ongkos aku berjalan menuju jembatan layang tempat biasanya aku dan Zaki makan berdua dan bercengkrama.

Aku terhipnotis dengan semua perkataan Naifa, Memang beresiko tapi mungkin dengan begini aku bisa dekat lagi dengan Zaki.

Perlahan-lahan aku menaiki pagar jembatan layang, aku mulai berdoa berharap Zaki akan datang untuk menghentikanku. Tapi, kalau dia tidak datang berarti ini semua memang sudah takdirku untuk menghentikan hidup dengan cara yang diharamkan oleh Allah, tanpa pernah dicintai oleh orang yang selama ini aku cintai. Kalau bukan karena dia aku pasti sudah mengakhiri hidupku, jika Zaki juga tak ada lah untuk apalagi aku hidup.

Kulihat jam tangan yang bertenger di pergelangan tanganku, lima belas menit telah berlalu. Zaki masih belum datang, lima menit lagi waktu yang dijanjikan akan habis. Kalau Zaki masih belum datang juga nanti aku tetap akan melakukannya. Tekadku sudah bulat,tidak bisa di ganggu gugat. Biar Zaki tau sebesar apa perasaanku padanya.

Waktu rasanya berjalan dengan cepat apabila kita ingin memperlambat waktu itu sendiri, lima menit terakhir akhirnya habis juga. Okey, mungkin memang harus begini endingnya. Tidak ada yang musti disesalkan, karena tidak semua hal yang kita inginkan akan berjalan sesuai rencana. Aku melangkahi tali terakhir yang masih membentang antara tempatku berpijak dengan daratan dibawah tempat yang akan kutuju. Mungkin memang Zaki tidak pernah terersit sekailipun dibenaknya untuk mempunyai perasaan terhadapku. Waktunya telah tiba, aku memejamkan mataku untuk menghilangkan sedikit rasa takutku menghadap sang Khalik. Lalu, ketika kaki kananku siap meninggalkan daratan
tanganku ditarik kasar oleh seseorang. Zaki.

Kami berdua jatuh, aku kulihat wajahnya dengan jelas. Aku tersenyum. “Apa sih yang kamu lakukan Ki?? Udah gila ya… Sampai melakukan hal bodoh kayak gini,” bentak Zaki sambil menarik lenganku untuk bendiri.

Aku hanya diam, terus memperhatikan mimik wajahnya.

“Kamu tahu…,” lanjut Zaki.”dengan sikap kamu yang kayak gini malah ngebuat aku jadi ga bisa terus-terusan menutupi perasaanku lagi.

Aku terkesiap, tak dapat berkata-kata. Berdebar menunggu kelanjutan perkataan Zaki. “Aku sayang kamu Ki. Aku tu ga pengen kehilangan kamu. Kamu jangan pernah lagi ngelakuin hal bodoh yang kayak gini lagi Ka!!!” Zaki mengakhiri pembicaraannya sambil mendekapku ke pelukannya dengan lembut. Aku tak dapat menimpal semua perkataannya, aku hanya bisa tersenyum sambil membalas pelukan Zaki. Happy Ending, akhir yang kuharapkan.

*bersambung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s