[Cerpen] Perasaan Zakiku – 2

Yak.. Sesuai janji ini lanjutannya..🙂

Aku terkesiap, tak dapat berkata-kata. Berdebar menunggu kelanjutan perkataan Zaki. “Aku sayang kamu Ki. Aku tu ga pengen kehilangan kamu. Kamu jangan pernah lagi ngelakuin hal bodoh yang kayak gini lagi Ki!!!” Zaki mengakhiri pembicaraannya sambil mendekapku ke pelukannya dengan lembut. Aku tak dapat menimpal semua perkataannya, aku hanya bisa tersenyum sambil membalas pelukan Zaki. Happy Ending, akhir yang kuharapkan.

***

Tringgggggg Tringggggggg…

Mataku refleks terbuka, bunyi alarm di kamarku. Jam lima.

Jadi, ini semua hanya mimpi, mimpi yang indah. Aku selalu ingin ini terjadi tapi di dunia nyata bukan hanya di dunia mimpi. Aku beranjak dari kasurku, berdiri lalu pergi ke kamar mandi dengan pikiran masih di dalam mimpi. Ku ambil air wudhu, lalu pergi sholat. Selesai sholat tanpa melepaskan mukena aku mulai berpikir jernih, dipikir-pikir mimpiku ini benar juga. Dengan aku berbuat seperti di mimpiku, mungkin Zaki jadi sadar kalau sebenarnya dia juga suka atau malah lebih yaitu sayang sama aku.

Tapi aku belum memikirkan ending yang sebaliknya, bagaimana ternyata kalau Zaki tidak pernah datang?? Apa aku siap menerima konsekuensinya?? Atau begini aja, tidak harus sama dengan mimpi kan?? Aku hanya ingin mengetahui perasaan yang sebenarnya ada pada Zaki. Kalau memang Zaki tidak datang aku tinggal pulang, dan mulai menghapus semua kenangan tentang Zaki. Tidak akan ada harapan lagi.

Aku sudah mantap untuk melaksanakn rencanaku ini. Aku siap-siap, kulepas mukenaku dan beranjak untuk mandi. Kusiap untuk menjalankan skenario yang sudah kususun.

***

Ak sudah ada di tempat yang dijanjikan. Dan waktu yang sudah dijanjikan sudah habis. Zaki masih belum datang juga. Berarti memang benar Zaki tidak akan pernah datang. Ku lihat Sent Item di hapeku, mengecek terkirim atau tidak. Tapi terkirim kok, pastilah Zaki sudah membaca smsku saat ini. Ya sudahlah mending sekarang aku balik ke kostan. Membuang semua kenangan dan semua barang yang berhubungan dengan Zaki. Bukan takdirku untuk dengan Zaki, lebih baik aku mulai mempersiapakan untuk mencari cinta yang baru lagi. Percuma saja mencintai orang yang sudah pasti tidak mebalas cinta kita.

Dengan hati-hati aku melangkahi tali-tali untuk pergi ke tepi jalan lalu naik angkot menuju ke kostanku. Menjalankan skenario yang ke dua yang aku yakin pasti berjalan sesuai rencana. Sempat aku tergelincir tapi cepat-cepat aku meraih tiang yang di dekatku. Jantungku mulai berdebar, takut untuk jatuh. Pada tali yang terakhir aku melihat ke jurang di bawah, tiba – tiba ada yang mendorong punggungku. Aku kehilangan keseimbangan, tapi kali ini aku tidak siap untuk memegang tiang-tiang untuk menyelamatkan hidupku. Aku terjatuh, sempat aku melihat wajah yang tadi mendorongku, wajah tambun yang sangat ku kenal.

***

Aku sedih melihat melihat ibuku menangisiku, aku sadar aku yang salah. Kenapa sih aku harus melakukan tindakan bodoh kayak gini. Zaki datang kepamakamanku, kulihat wajahnya, tidak ada jejak air mata di wajahnya. Memang benar aku tak pernah ada di hatinya, tidak ada tentang aku yang berkesan dihatinya. Aku tidak ada pun, tak ada rasa kehilangan terpapar di wajahnya.

Semua pelayat sudah pergi dari kuburanku, kulihat wajah terakhir dari ibuku.”Maafin aku ma, beneran aku ga pengen sekalipun untuk mengakhiri hidupku kayak gini.”

Aku sudah siap untuk meningalkan dunia ini, ketika aku masih melihat Zaki dan Naifa di kuburanku. Perlahan Zaki datang mendekati tanah tempat kini jasadku berada. Aku penasaran apa sebenarnya yang akan dilakukan Zaki kemudian. Apa Zaki akan mengacak-ngacak kuburku ini?? Awalnya Zaki tidak melakukan apa-apa, hanya mengusap batu nisanku dengan lembut. Lalu perlahan air mata keluar dari matanya. Aku terkejut, tak kusangka air mata keluar juga dari Zaki. Kata-kata yang diucapkan oleh Zaki lebih membuatku terkejut lagi.

“Apa sih yang kamu pikirin,Ki. Kenapa kamu ngelakuin semua ini Ki. Kenapa harus ninggalin aku?? Sekarang kamu udah ga bisa jawab pertanyaan ini Ki,” Zaki meratap.

“Aku minta maaf Ki. Aku belum sempat minta maaf sama kamu. Seharusnya aku ga ngejauhin kamu kayak gini Ki. Tapi aku takut Ki, aku di teror. Bukannya aku takut sama keselamatanku, aku lebih takut sama keselamatan kamu. Kalau aku masih deket sama kamu, kamu bakal dicelakain sama seseorang. Aku masih menyelidikinya sampai sekarang Ki, belum tahu sebenarnya siapa dia. Tapi, kalau tahu akhirnya kayak gini, aku bakalan terus di samping kamu buat ngejagain terus kamu.”

“Kamu tahu sebenarnya perempuan yang selama ini kusayangi yang aku ceritain ke kamu tu sebenernya itu kami ki. Azki Rahmita, perempuan manis, pintar dan baik. Kamu ga sadar sebenarnya kamu punya semua itu.”

Zaki tak sanggup berkata-kata lagi, dipeluknya tanah kuburanku.

Sedangkan aku?? Ingin rasanya ku balas pelukan Zaki itu. Menghilangkan semua kesedihan Zaki. Tapi kini aku sudah tak bisa. Kami berdua sudah beda dunia.

“Zaki, udah. Biarin Azki sekarang tenang di dunia sana. Mungkin dia bener-bener udah ga kuat lagi menahan semua masalah yang di timpanya. Kamu tahu sendiri, Azki sekarang lagi banyak masalah, dari masalah perceraian orang tuanya di tambah sama kondisi keuangan Azki sendiri. Pulang yu… Yang lain masih nungguin kita di mobil,” bujuk Naifa.

Akhirnya Zaki pergi, menuruti bujukan Naifa. Kini Zaki beneran pergi selamanya dariku. Ku tatap punggung Zaki. Walaupun endingnya seperti ini tapi akhirnya aku tahu kalau sebenarnya Zaki juga sayang sama aku. Aku tidak bertepuk sebelah tangan.

Naifa masih tetap berada di tempatnya. Ketika akhirnya Zaki tak terlihat lagi, Naifa duduk di tempat yang tadi Zaki duduki.

“Maaf ya Azki, aku terpaksa melakukan semua ini. Bukan cuman kamu aja yang suka sama Zaki. Tapi aku juga. Di dalam perang dan percintaan semua yang dilakukan itu halal. Sekarang kamu tenang aja di dunia sana, kamu sebenarnya harus berterima kasih sama aku. Karena aku kamu sekarang ga usah ngerasa susah lagi sama masalah-masalah kamu. Selamat tinggal Azki Rahmita, sahabatku selama ini.”

Lalu Naifa mengeluarkan sesuatu dari tasnya, hape Zaki. Digalinya lubang kecil di sebelah kuburanku, lalu di masukkanya hape Zaki ke dalam lubang itu.

Naifa pun berdiri meninggalkanku seperti yang lainnya. Selama ini Zaki gapernah  baca SMS dari ku

 

Muharrani, 02 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s