Semua di Akhiri Titik, Bukan Bete

Telepon kantor berdering.

Laptop mendengung semakin keras sebagai aksi protes karena sudah tidak sanggup lagi menanggung fitur fitur masa kini dan masa yang akan datang.

Mouse pad merah semakin menyerupai warna dengan si tikus hitam kabel.

Gelas kosong enggan untuk terisi kembali.

Buku jurnal entah sudah menjadi lukisan abstrak.

Makan siang berubah wujud menjadi dua lembar uang lima ribuan dan 1 lembar uang dua ribuan.

Laci meja terbuka ogah ogahan memperlihatkan isi yang menuntut untuk diselesaikan.

Telepon pintar hitam semakin tidak layak, berharap tidak menjadi bangkai yang tidak berguna.

Printer yang selalu ngambek, membuat tintanya leluasa melumuri jari.

Pulpen merah yang entah sudah menjadi pengganti keberapa.

Ponsel merah kuno yang diam terabaikan.

Tisu yang nampak seperti bola bola salju besar memenuhi meja kaca hitam.

Kaki yang entah siapa berani menyakitinya kemarin malam.

Dan hati yang di rundung ke’bete’an tak terhingga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s