Pelajaran dari Dunia Luar

Keseringan di kantor, keseringan di rumah waktu weekend nampaknya membuat pengetahuan dan wawasan saya hanya itu itu saja. Stressnya masalah kantor membuat pikiran menjadi sempit, hati menjadi kotor sehingga tidak mengambil manfaat dari sekitar. Well benar benar harus membenah diri nih, jangan banyak ngeluh, ambil pelajaran dari sikap seseorang kepada kita. Jika mereka menyakiti kita, maka hindari untuk berbuat hal yang sama pada sekitar, jika mereka memperlakukan dengan baik, maka contohlah. Tidak munafik juga, saya memang sering membuat sakit orang, mudah-mudah perilaku itu bisa diubah. ^^

Jumat kemarin dimintai tolong oleh atasan langsung untuk mengantarkan dokumen laporan, berhubung tidak ada driver kantor yang antar, jadinya naik taksi saja. Sudah sore, sebentar lagi jam pulang, jadi langsung pulang kerumah alangkah baiknya. Izin atasan tidak pulang ke kantor dulu, naik angkot saja. Ternyata pilihan naik angkot itu adalah pilihan terbaik.

Jadi begini, sesampai di lobi menuju gerbang saya melihat seseorang turun dari motor, serasa kenal. Berusaha mengingat, ternyata dia adalah penjual/ sales tahu cibuntu dan cireng yang kemarin menjaja jualannya di Bappeda Depok. Lelaki itu sebut saja Mas Otong, menawarkan jualannya kepada staf di Bappeda, berhubung pada saat itu saya dan teman saya Eka sedang menunggu, kami ikut mengerubungi Mas Otong. Ternyata keranjangnya sudah kosong, sempat kecewa, tapi ternyata masih ada, dia harus mengambil jualannya dulu ke bawah. Tak menunggu lama, dengan nafas menderu dan berkeringat mas Otong kembali datang menjajakan jualannya. 2 Cireng Cinta dan 1 tahu Cibuntu lengkap sudah ditangan saya untuk oleh oleh di rumah. Ternyata pertemuan hari ini, dia nampak berbeda, dengan setelan kemeja dan celana bahannya, tak lupa map ditangannya. Saya sangka dia akan menawarkan lagi cireng atau apalah dan jelas saya berminat membelinya. Tapi dilihat dari penampilannya, nampaknya dia akan menawarkan yang berbeda. Dan apakah itu?? Biarkanlah hanya Tuhan yang tau.. ^^

Sederhana, tapi ada pelajaran yang saya ambil. Apapun pekerjaan kita, satu kata Ikhlas. Hilangkan rasa malu, ingat orang dirumah yang butuh makan, adik yang butuh biaya sekolah. Maka pekerjaan itu akan hilang. Perasaan itu mulai luntur pada diri saya. Well, harus kembalikan rasa itu ya fizah sayang.. ^^

Di dalam angkot, menunggu giliran maju untuk keluar dari stasiun ada ibu ibu sebut saja Bu Minah. Bu Minah ini tiba-riba saja menyemprotkan pewangi ruangan pada pintu masuk angkot. Cukup satu semprot saja, dan Bu Minah tidak lupa bilang dengan menengadahkan tangan pada mang angkot, “Gopek bang, semrot biar wangi.” Dengan cueknya bu Minah menerima uang dari mang Angkot sambil berlalu. Aneh memang, semprot gopek. Menyemprot pewangi pada angkot yang notabenenya terbuka dan berangin, ya otomatis cepat menguarlah harumnya.

Sederhana, tapi ada pelajaran yang bisa di ambil. Apapun pekerjaannya, selagi halal dan tidak meminta pada orang lain lakukanlah. Hal itu yang mulai pudar pada diri saya, seringnya minta tolong. Next, lakukan sendiri jika bisa sendiri ya fizah sayang.. ^^

Nah, tak lama sesudah Mpok Minah melenggang, datanglah 2 pengamen dengan bau badan yang tak bisa di deskripsikan dan duduk di sebelah saya sambil memainkan alat musik. Permainannya enak, hanya saja cuman 10 detik kali. Dia langsung menodongkan tangannya pada saya. Yupz, menodongkan adalah kata yang tepat, dengan badan penuh tato dan bau badan dengan tidak enak. Ya terpaksa saya harus merelakan gopek an saya. ^^

Sederhana, tapi ada pelajaran yang bisa di ambil. Mau badan bau cuek ajja yang penting cari uang, nodong nodong dikit pake wajah sangat gapapalah yang penting halal..πŸ˜€

Akhirnya angkot keluar juga dari terminal, tapi tidak sampai situ saja. Muncullah pengamen baru, tanpa alat musik dan hanya mendalkan suara dan tepuk tangan. Eits, jangan salah sangka dulu walaupun hanya alat sekadarnya tapi penampilannya total dong. Walau di angkot, menurutnya itu merupakan panggung besar seperti panggungnya X Factor, mengembangkan tangan setinggi tingginya, meliukkan badan, meneriakkan lagu adar seluruh jagat raya mendengar. Apadaya, suaranya tidak sebanding dengan aksi panggung eh angkotnya, jauh dari pas pasan. Tapi tetap kami sebagai penumpang sudah lebih dari cukup dengan aksi panggungnya yang menyanyikan dua lagu sekaligus tanpa jeda. Dan dengan tanpa paksaan seribu logam menggerincing ke tangannya.

Sederhana, tapi jelas ada pelajaran yang di ambil. Biar orang mau berkata apa, tapi apa yang dilakukannya itu tidak salah, tidak haram, hanya menjual entertainnya. Itu yang mulai luntur dari hati saya, merasa terintimidasi dengan perkataan seseorang sehingga membuat malas. Hei fizah sayang, terserah mereka mau berkata apa, yang kamu lakukan itu semua adalah sesuai instruksi bos. Mereka itu hanya berani berkata seperti itu padamu, jadi biarlah kepengecutan mereka tertimpa pada dirimu. Itu akan membuat dirimu bertambah kuat.

Semua pengalaman in hanya untuk pelajaran saya, tidak bermaksud meggurui tapi mungkin ada teman teman yang mengalami hal yang sama..

Happy reading.. ^^

 

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s